BPK Tengarai Modus Korupsi di Daerah Berubah
Minggu, 21/03/2010 02:10 WIB
Ilustrasi
Jakarta
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan fakta modus operandi korupsi di daerah berubah. Bila dahulu dilakukan dengan mark-up anggaran kini antara lain melalui dana bagi hasil.
"Terjadi pergeseran dalam cara mengkorupsi. Misalnya dengan bantuan sosial untuk masyarakat, dana inventasi, penggelapan pajak tidak disetor dan juga dana bagi hasil," kata anggota BPK Rizal Djalil usai Rakor Kepala Perwakilan BPK se-Indonesia di Jakarta, Sabtu (20/3/2010).
Dia memberi contoh, misalnya saja temuan BPK untuk kawasan Indonesia Timur, di Papua Barat. Dengan modus ini ditemukan potensi kerugian negara yang cukup tinggi.
"Untuk tahun 2006-2007 saja ada dana Rp 15 miliar dana bagi hasil yang tidak jelas penggunaannya. Dan pemeriksaan pada 2009 juga ditemukan potensi kerugian negara Rp 58 miliar," tambahnya.
Yang mengkhawatirkan, bukan hanya di Papua Barat saja, tapi juga di sebagian daerah lainnya.
"Misalnya dalam catatan kami Kota Banjarmasin dengan potensi kerugian negara Rp 22 miliar. Ini pemeriksaan pada 2005-2006," terangnya.
Untuk itu, dia meminta agar Kepala Daerah yang melakukan tindakan itu agar segera mengembalikan uang negara yang tidak sesuai peruntukannya. "Apabila tidak dilakukan pengembalian , maka BPK akan melaporkan ke KPK sesuai UU No 15 tahun 2006," tutupnya.
(ndr/ape)
"Terjadi pergeseran dalam cara mengkorupsi. Misalnya dengan bantuan sosial untuk masyarakat, dana inventasi, penggelapan pajak tidak disetor dan juga dana bagi hasil," kata anggota BPK Rizal Djalil usai Rakor Kepala Perwakilan BPK se-Indonesia di Jakarta, Sabtu (20/3/2010).
Dia memberi contoh, misalnya saja temuan BPK untuk kawasan Indonesia Timur, di Papua Barat. Dengan modus ini ditemukan potensi kerugian negara yang cukup tinggi.
"Untuk tahun 2006-2007 saja ada dana Rp 15 miliar dana bagi hasil yang tidak jelas penggunaannya. Dan pemeriksaan pada 2009 juga ditemukan potensi kerugian negara Rp 58 miliar," tambahnya.
Yang mengkhawatirkan, bukan hanya di Papua Barat saja, tapi juga di sebagian daerah lainnya.
"Misalnya dalam catatan kami Kota Banjarmasin dengan potensi kerugian negara Rp 22 miliar. Ini pemeriksaan pada 2005-2006," terangnya.
Untuk itu, dia meminta agar Kepala Daerah yang melakukan tindakan itu agar segera mengembalikan uang negara yang tidak sesuai peruntukannya. "Apabila tidak dilakukan pengembalian , maka BPK akan melaporkan ke KPK sesuai UU No 15 tahun 2006," tutupnya.
(ndr/ape)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 09:37 WIB
Gede Pasek Janji Bawa Komisi III Lebih Baik Dalam Fungsi Pengawasan
-
Minggu, 27/05/2012 09:08 WIB
Anggota Komisi I: Hindari Pemalsuan, TNI Harus Data Ulang Nopol Dinas
-
Minggu, 27/05/2012 08:47 WIB
Grasi Corby Diharapkan Dapat Memudahkan Masalah WNI di Luar Negeri
-
Minggu, 27/05/2012 08:22 WIB
Timses Hidayat-Didik Sambut Baik Keinginan Foke Ikut Debat Cagub DKI
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 08:47 WIB
Grasi Corby Diharapkan Dapat Memudahkan Masalah WNI di Luar Negeri
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 08:22 WIB
Timses Hidayat-Didik Sambut Baik Keinginan Foke Ikut Debat Cagub DKI
-
284 Komentar
-
237 Komentar
-
221 Komentar
-
220 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
