Menag: Pesantren Jadi Benteng Antiterorisme
Minggu, 14/03/2010 19:39 WIB
Magelang
Menteri Agama Suryadharma Ali mengharap seluruh pesantren dan madrasah di Indonesia menjadi benteng pencegahan masuknya paham terorisme ke lembaga pendidikan Islam. Untuk merealisasikanya, Kementerian Agama terus melakukan pendekatan ke sejumlah pesantren.
"Kita melakukan berbagai cara termasuk pendekatan ke pondok pesantren dan madrasah agar menjadi benteng pencegah masuknya terorisme," katanya Surya saat menghadiri peringatan maulid nabi di Ponpes Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (14/3/2010).
Menurut Surya, Islam bertentangan dengan paham terorisme karena tidak mengajarkan perjuangan dengan cara kekerasan. Sedangkan, terorisme menghalalkan segala cara dalam perjuangan termasuk menghilangkan nyawa warga tak berdosa. Selain itu, dalam konsep perjuangan Islam, musuh dihadapi nyata dan jelas, sementara terorisme memiliki musuh tak jelas.
Karena itu, gerakan terorisme di Indonesia juga tidak mencerminkan aspirasi seluruh masyarakat muslim tanah air. Jumlah pendukung gerakan anarkis itu diperkirakan kurang dari setengah persen dari total populasi. "Tapi memang menjadi kelihatan karena menarik perhatian, maka jadi (isu) besar," kata Surya.
Pendidikan Agama Antiterorisme
Pemerintah tengah menyusun program pendidikan agama antiterorisme bagi narapidana. Hal itu dilakukan untuk memberantas tersebarnya paham terorisme yang bertentangan dengan ajaran Islam. Penyusunan program pendidikan juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman agama bagi narapidana.
"Kami sedang membuat pendidikan agama di penjara untuk anak-anak, perempuan, dan laki-laki termasuk teroris," kata Surya.
Penyusunan program pendidikan agama bagi napi penting dilakukan agar napi pelaku tindak terorisme bisa kembali meyakini ajaran Islam sebenarnya yang damai. Selain itu, memang terdapat kebutuhan mendalami agama bagi napi. "Idealnya mereka harus kembali (ke ajaran Islam)," katanya.
Surya juga menyebutkan, pelaksanaan pendidikan agama di penjara menjadi semakin penting untuk mengatasi penyebaran pemahaman ajaran Islam sempalan. Saat ini, terdapat sejumlah kelompok mengatasnamakan Islam, tapi ajaran dijalankan bertentangan dengan Islam. "Antara lain di Kuningan ada aliran yang kalau kaum ibu mau suci harus mau ditiduri oleh imamnya. Ini jelas aliran sesat. Ada juga yang mengaku Islam, tapi salat cukup satu kali sehari, kiblatnya ke selatan, dan bayar Rp 4 juta untuk masuk surga," pungkas Menag. (anw/anw)
"Kita melakukan berbagai cara termasuk pendekatan ke pondok pesantren dan madrasah agar menjadi benteng pencegah masuknya terorisme," katanya Surya saat menghadiri peringatan maulid nabi di Ponpes Watucongol, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (14/3/2010).
Menurut Surya, Islam bertentangan dengan paham terorisme karena tidak mengajarkan perjuangan dengan cara kekerasan. Sedangkan, terorisme menghalalkan segala cara dalam perjuangan termasuk menghilangkan nyawa warga tak berdosa. Selain itu, dalam konsep perjuangan Islam, musuh dihadapi nyata dan jelas, sementara terorisme memiliki musuh tak jelas.
Karena itu, gerakan terorisme di Indonesia juga tidak mencerminkan aspirasi seluruh masyarakat muslim tanah air. Jumlah pendukung gerakan anarkis itu diperkirakan kurang dari setengah persen dari total populasi. "Tapi memang menjadi kelihatan karena menarik perhatian, maka jadi (isu) besar," kata Surya.
Pendidikan Agama Antiterorisme
Pemerintah tengah menyusun program pendidikan agama antiterorisme bagi narapidana. Hal itu dilakukan untuk memberantas tersebarnya paham terorisme yang bertentangan dengan ajaran Islam. Penyusunan program pendidikan juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman agama bagi narapidana.
"Kami sedang membuat pendidikan agama di penjara untuk anak-anak, perempuan, dan laki-laki termasuk teroris," kata Surya.
Penyusunan program pendidikan agama bagi napi penting dilakukan agar napi pelaku tindak terorisme bisa kembali meyakini ajaran Islam sebenarnya yang damai. Selain itu, memang terdapat kebutuhan mendalami agama bagi napi. "Idealnya mereka harus kembali (ke ajaran Islam)," katanya.
Surya juga menyebutkan, pelaksanaan pendidikan agama di penjara menjadi semakin penting untuk mengatasi penyebaran pemahaman ajaran Islam sempalan. Saat ini, terdapat sejumlah kelompok mengatasnamakan Islam, tapi ajaran dijalankan bertentangan dengan Islam. "Antara lain di Kuningan ada aliran yang kalau kaum ibu mau suci harus mau ditiduri oleh imamnya. Ini jelas aliran sesat. Ada juga yang mengaku Islam, tapi salat cukup satu kali sehari, kiblatnya ke selatan, dan bayar Rp 4 juta untuk masuk surga," pungkas Menag. (anw/anw)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 12:41 WIB
Mayat Penuh Luka Ditemukan Terapung di Sungai Sei Putih
-
Sabtu, 26/05/2012 12:35 WIB
Polisi Imbau Pelajar di Jakarta Tak Konvoi Usai Kelulusan
-
Sabtu, 26/05/2012 12:32 WIB
Coret Baju dan Konvoi Sepeda Motor Ramaikan Kelulusan SMA di Yogya
-
Sabtu, 26/05/2012 12:17 WIB
Corby Diberi Grasi, Bagaimana dengan Ekstradisi Adrian Kiki?
-
Sabtu, 26/05/2012 12:13 WIB
Menkum: Apa yang Mereka Lakukan untuk WNI yang Dibui di Luar Negeri?
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
Sabtu, 26/05/2012 12:16 WIB
Lagi, Pesawat Tak Berawak AS Tewaskan 4 Militan di Pakistan
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 12:13 WIB
Menkum: Apa yang Mereka Lakukan untuk WNI yang Dibui di Luar Negeri?
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
