detikcom

Panahan Sepi Peminat

Mencari Pewaris Panah Srikandi

M. Rizal Maslan - detikNews
Kamis, 11/03/2010 15:23 WIB
Foto: Rizal/detikcom
Jakarta Pengenalan olah raga panahan pelan-pelan membuahkan hasil. Padahal awalnya sulit bukan main. Namun kini anak-anak SD, tentara, bahkan diplomat menarik tali busur dan melesatkan panah bak satria pewayangan.

Kepala pelatih Jakarta Private Archery Tri Danang mengisahkan, mereka membuka program Open House Archery ke sejumlah sekolah. Terserah pihak sekolah, apakah nanti panahan berkembang menjadi ekstra kurikuler atau pengenalan olahraga biasa.

"Yang penting, kita bisa diterima untuk mengenalkan panahan," kata Tri Danang, saat bincang-bincang dengan detikcom di Lapangan Outdoor Panahan, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (11/3/2010).

Dari pengajuan proposal ke sejumlah sekolah tersebut, menurut Danang, hanya sekolah bertaraf internasional yang mau menerima pengenalan panahan. Sebut saja, Rafflesia International School di Pondok Indah, Singapore International School dan Bina Nusantara Simprug.

"Kesulitan kita, justru mengenalkan panahan ke sekolah-sekolah negeri. Kalau saya melakukan sendiri tanpa didukung Pemprov DKI Jakarta, Dinas Pendidikan atau Dinas Olahraga sangat sulit," ungkapnya.

Akhirnya, lanjut Danang, untuk mengenalkan panahan ini tetap diupayakan ke sejumlah sekolah swasta lainnya. "Sekolah swasta mungkin lebih mudah ditembus, karena gurunya lebih komunikatif dan pengaturan jadwal yang lebih baik," tandasnya.

Mahalnya peralatan menjadi alasan penolakan sekolah negeri. Padahal menurut Danang, program open house ini gratis bagi sekolah. Yang penting pihak sekolah mau menyiapkan ruangan baik terbuka dan tertutup yang aman untuk latihan. Minimal ruangan indoor atau outdoor yang panjangnya 25 meter.

"Kita juga memperhatikan soal angkutan, karena barang yang akan dibawa banyak. Kita tanya ke sekolah. Kalau pun tidak ada, kita yang akan siapkan juga, yang penting sekolah setuju," ujarnya.

Danang menceritakan, program open house ini pun berhasil di Singapore International School yang menyiapkan 20 siswa untuk diajar memanah. Bahkan di Binus, panahan diajarkan hampir di semua kelas 1 SMP selama satu minggu. "Saya harapkan banyak sekolah yang mau memperkenalkan panahan, minimal untuk tingkat dasar," ujarnya.

Selain itu, JPA menerima siswa SD hingga karyawan untuk berlatih panahan. Bahkan pada 2006 lalu, JPA punya murid istimewa yaitu Duta Besar Ekuador, Alfonso Lopez Araujo. Dia datang sendiri dan ingin belajar memanah. Dia pun belajar selama 1,5 tahun.

"Namun tidak dilanjutkan karena harus pindah dinas. Paling tidak ini membuktikan orang asing saja mau, kenapa masyarakat kita tidak?" katanya.

Selain masyarakat sipil, JPA juga sempat melatih prajurit TNI dari Pleton Pengintai Tempur (Tontaipur) Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad). "Pada tahun 2007 lalu kita sempat diminta mengisi latihan panahan untuk pasukan Kostrad, Tontaipur selama tiga hari," kenangnya.

Sudah 6 tahun JPA berdiri sejak 2004 silam. Menurut Danang, baru satu siswa yang menyatakan diri masuk sebagai atlet panahan. "Baru satu orang yang menyatakan mau jadi atlet. Tentunya kita siapkan dia dengan aturan yang lebih ketat lagi, minimal tiga kali seminggu," pungkasnya.

(zal/fay)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel