PKS Sarankan Sri Mulyani dan Boediono Nonaktif
Kamis, 04/03/2010 15:36 WIB
Jakarta
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ternyata tidak puas begitu saja dengan hasil keputusan Paripurna DPR soal hasil Pansus Century. Menindaklanjuti putusan paripurna DPR itu, PKS menyarankan Sri Mulyani dan Boediono menonaktifkan diri.
"Semua yang disebut dalam rekomendasi Pansus sebaiknya nonaktif," kata Wasekjen DPP PKS Fahri Hamzah di sela-sela rapat Paripurna DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/3/2010).
Menurut Fahri, nonaktif akan sangat membantu keduanya menghadapi berbagai tudingan selama ini. Fahri menilai keduanya akan sangat terganggu saat menjalani pemeriksaan di KPK.
"KPK harus cepat. Bukan hanya jabatan tapi juga soal waktu untuk memberi keterangan di depan hukum akan menganggu," papar Fahri.
Jika nonaktif, tentu Sri Mulyani dan Boediono bisa fokus mengurus kesaksian dan meluruskan pandangan yang telah dikeluarkan Pansus dalam bentuk rekomendasi. "Kita ingin mereka melakukan pembelaan sekuat-kuatnya, jangan menggunakan kekuasaan dan posisi untuk menuntaskan masalah ini," papar Fahri.
Namun demikian Fahri menyadari menonaktifkan menteri menjadi hak prerogatif presiden. "Memang, urusan menteri adalah hak prerogatif Presiden, dan menteri mengajukan nonaktif kepada presiden," jelas Fahri.
Sebelumnya diberitakan Paripurna DPR menyepakati opsi C sebagai pemenang. Dalam opsi C, disebut sejumlah pejabat yang harus bertanggungjawab dalam bailout Century untuk ditindak oleh penegak hukum.
(van/yid)
"Semua yang disebut dalam rekomendasi Pansus sebaiknya nonaktif," kata Wasekjen DPP PKS Fahri Hamzah di sela-sela rapat Paripurna DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (4/3/2010).
Menurut Fahri, nonaktif akan sangat membantu keduanya menghadapi berbagai tudingan selama ini. Fahri menilai keduanya akan sangat terganggu saat menjalani pemeriksaan di KPK.
"KPK harus cepat. Bukan hanya jabatan tapi juga soal waktu untuk memberi keterangan di depan hukum akan menganggu," papar Fahri.
Jika nonaktif, tentu Sri Mulyani dan Boediono bisa fokus mengurus kesaksian dan meluruskan pandangan yang telah dikeluarkan Pansus dalam bentuk rekomendasi. "Kita ingin mereka melakukan pembelaan sekuat-kuatnya, jangan menggunakan kekuasaan dan posisi untuk menuntaskan masalah ini," papar Fahri.
Namun demikian Fahri menyadari menonaktifkan menteri menjadi hak prerogatif presiden. "Memang, urusan menteri adalah hak prerogatif Presiden, dan menteri mengajukan nonaktif kepada presiden," jelas Fahri.
Sebelumnya diberitakan Paripurna DPR menyepakati opsi C sebagai pemenang. Dalam opsi C, disebut sejumlah pejabat yang harus bertanggungjawab dalam bailout Century untuk ditindak oleh penegak hukum.
(van/yid)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 13:06 WIB
Istri Wartawan Senior TVRI Harap Pembunuh Suaminya Ditangkap Hidup-hidup
-
Minggu, 27/05/2012 13:05 WIB
DPR Terus Dorong Australia Bebaskan Nelayan Anak Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 12:48 WIB
Nyapres, Ical Akan Yakinkan Rakyat
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 12:38 WIB
2 Tahanan Polsek Setu Bekasi yang Kabur Dibekuk, 1 Orang Tewas
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
Minggu, 27/05/2012 11:57 WIB
Promotor: Konser Lady Gaga Pindah ke Bali Adalah Mustahil
-
438 Komentar
-
288 Komentar
-
252 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
