detikcom

Sisi Gelap Lapangan Banteng

Suasana Berubah, Tapi Gigolo Tetap Ada

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 10/02/2010 13:06 WIB
Foto: Patung di Lapangan Banteng
Jakarta Wajah Lapangan Banteng memang kini banyak mengalami perubahan. Pada dekade 1970-an wilayah di sekitar patung pembebasan Irian Barat ini dikenal
sebagai terminal bus yang ramai. Sejumlah kios kaki lima banyak berdiri di sana. Suasana terminal Banteng yang didirikan semana Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin saat itu mirip dengan terminal Blok M.

Namun seiring perkembangan kota Jakarta, terminal yang letaknya berada di
jantung ibukota dan berdekatan dengan Istana Merdeka itu akhirnya ditutup
pada 1985. Penutupan ini untuk mengatasi kesemrawutan di kawasan itu, baik dari kemacetan maupun tindak kriminal.

Meski terminal bus sudah ditutup namun sejumlah kios dan pedagang kaki
lima masih tetap berdiri. Lokasi itu masih tetap ramai dikunjungi muda-mudi tempo dulu yang mejeng. Tidak ketinggalan anak-anak jalanan juga banyak yang mangkal di wilayah itu.

"Dulu di Lapangan Banteng sangat ramai dan jadi ajang mencari jodoh
anak-anak muda," kenang Yunus pedagang rokok asal Kuningan, Jawa Barat, yang pernah berdagang di Lapangan Banteng sejak awal 1980 sampai 1997.

Banyaknya anak muda yang nongkrong di daerah itu tentu menyedot perhatian warga lainnya. Banyak tante girang dan om-om senang yang mencari
anak-anak muda di sana untuk diajak berkencan. Fenomena ini berlangsung hingga akhir tahun 1980-an. Sebab setelah masa itu yang tersisa hanya kalangan pria muda yang banyak nongkrong di sana. Sementara gadis-gadis muda lebih memilih tongkrongan di daerah lain, seperti Blok M misalnya.

Praktis, sejak awal 1990-an lokasi itu hanya tersisa tongkrongan pria-pria
muda. Ada yang hanya sekadar nongkrong bersama teman-teman, ada juga yang memang mencari tante girang yang melintas di daerah tersebut. Selain tante girang kalangan homoseksual juga banyak yang berdatangan. Belakangan justru kaum homoseksual inilah yang lebih banyak datang mencari pasangan kencan.

Di kawasan ini pula Baekuni alis Babe pelaku pembunuhan dan sodomi belasan
anak-anak jalanan itu sempat nongkrong. Menurut keterangannya di hadapan
penyidik, Babe pernah menjadi tukang ojek di Lapangan Banteng tahun 1993.
Di tempat itu juga Babe berkenalan dengan Robot Gedek, juga pelaku pembunuhan dan Sodomi, yang kini sudah meninggal dunia saat dipenjara di Nusakambangan.

Memang lapangan Banteng sejak awal 1990-an dikenal sebagai tongkrongan
kalangan homoseksual. Para gigolo yang sebelumnya melayani tante-tante girang pun kini beralih sasaran. Mereka pun akhirnya melayani pria homoseksual lantaran para tante girang sudah tidak lagi muncul di daerah tersebut.

Predikat tersebut hingga sekarang masih bertahan sekalipun kondisi
Lapangan Banteng sudah banyak berubah. Lapangan yang sekarang menjadi pusat pameran holtikultura tersebut sampai saat ini masih bercokol pria-pria muda yang siap menjadi teman kencan semalam kalangan homoseksual. Mereka masih setia berdiri di pinggiran jalan menanti pria dewasa yang mengajaknya berkencan.
(ddg/anw)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel