Detik.com News
Detik.com
Rabu, 10/02/2010 11:29 WIB

UI 'Hukum' Dosen Plagiator dengan Tak Bisa Jadi Profesor

Anwar Khumaini - detikNews
UI Hukum Dosen Plagiator dengan Tak Bisa Jadi Profesor Foto: ui.ac.id
Jakarta - Plagiarisme adalah ancaman serius dunia pendidikan. Universitas Indonesia (UI) pun pernah menemukan kasus tak elok itu. Akademisi yang ketahuan menjiplak, takkan pernah meraih penghormatan gelar profesor.

"Beberapa distop tidak bisa jadi guru besar," kata Wakil Rektor UI Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Muhamamd Anis kepada detikcom, Rabu (10/2/2010).

Anis menjelaskan, plagiarisme yang biasa terjadi meliputi dua hal. Yakni full plagiarisme dan auto plagiarisme. "Kalau auto plagiarisme, dia sudah mempublikasikan di satu tempat, tapi juga mempublikasikan ke tempat lain," papar Anis.

Dalam dunia perguruan tinggi, lanjut Anis, kejujuran adalah yang paling utama sehingga tidak ada tempat bagi para plagiator. Jika terbukti menjiplak, mereka harus mendapatkan sanksi.

Plagiarisme, menurutnya, akan terjadi jika dalam proses pembuatan karya ilmiah tidak ada komunikasi yang baik antara sang dosen dengan mahasiswa, atau pun dosen dengan atasannya. Jika ada komunikasi yang baik, peluang-peluang plagiarisme bisa diminimalisir.

"Plagiarisme terjadi kalau proses tidak berjalan dengan baik. Misal membuat skripsi, harus ada pertemuan intens dengan dosen. Kalau tidak maka akan memicu plagiarisme," kata Anis.

Di kampus UI, imbuh dia, terdapat komite etik yang salah satu tugasnya berfungsi untuk menindak masalah-masalah penjiplakan karya ilmiah.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(anw/nrl)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Kamis, 26/03/2015 12:35 WIB
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut
    Dirut Fahmi Idris: BPJS Tak Mungkin Bangkrut Jumlah pengguna jaminan kesehatan nasional melonjak tajam pada tahun pertama penyelenggaraannya. Akibatnya, kondisi keuangan BPJS Kesehatan defisit. Klaim membengkak, lebih besar daripada premi yang diterima.
ProKontra Index »

Tolak APBD DKI 2015, Parpol Lembek dan Mengecewakan

DPRD DKI menolak penggunaan APBD DKI 2015 setelah tak mau membahasnya lewat rapat Badan Anggaran. Tokoh antikorupsi Buya Syafii Maarif mengatakan sikap partai lembek dan mengecewakan. "Mereka menolak isu anggaran siluman tetapi mendukung atau tidak menarik diri dari Hak Angket. Padahal, Ahok diangket karena jelas menolak anggaran siluman itu," kata Buya Syafii. Bila Anda setuju pendapat Buya Syafii, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%