Kolom Didik Supriyanto
Keluguan Atau Kelihaian Politik?
Jumat, 05/02/2010 16:57 WIB
Jakarta
Setelah demo menguat, SBY gundah gulana, dan Pansus Bank Century memasuki tahap perumusan kesimpulan, para politisi Partai Demokrat (PD) mulai menunjukkan kegeramannya: tidak suka dengan laku politik kawan koalisinya. “Saya hormat pada teman-teman Pansus dari PDIP, Gerindra dan Hanura. Tapi yang lain, maaf ya,” kata seorang politisi PD.
Bisa dipahami. Tahun pertama berkuasa, biasanya koalisi pemerintah asyik berbulan madu. Namun yang terjadi pada koalisi pemerintah SBY-Boediono, justru sebaliknya. Setelah kabinet dilantik, bergeraklah para politisi di DPR menyelidiki kasus bailout Bank Century. PD yang memiliki kursi terbanyak di DPR, tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa salah bila partai-partai koalisi pemerintah selain PD, yaitu Golkar, PKS, PAN, PKB dan PPP, bergerak menyelidiki kasus bailout Bank Century, yang disebut sebagian dananya mengalir ke PD dan pasangan calon presiden-wakil presiden SBY-Boediono pada Pemilu 2009 lalu? Tidak juga, sebab tidak ada upaya sungguh-sungguh dari PD dan SBY untuk mencegah kawan koalisinya saat mengusulkan penyelidikan.
Bahkan terlihat jelas, PD dan SBY termakan ‘provokasi’ para penggerak penyelidikan, bahwa pembentukan Pansus Bank Centruy, justru akan membersihkan citra PD dan SBY, jika memang mereka benar-benar tidak mendapatkan dana bailout. Makanya pembentukan Pansus pun mulus saja saat dibawa ke sidang paripurna DPR.
Bolehlah dibilang, dalam hal ini para politisi PD masih lugu, jika tidak mau dibilang kurang cerdas. Mereka sama sekali tidak dapat memetakan ke mana arah penyelidikan setelah Pansus Bank Century terbentuk. Mereka tahu Pansus akan jadi bola liar. Tetapi mereka tidak bisa memetakan keliaran arah bola, dan mempersiapkan berbagai antisipasi.
Keluguan itu ternyata dibenarkan oleh sikap SBY, yang mungkin saja berharap akhir dari Pansus justru akan membersihkan citra diri dan partainya dari kasus Bank Century. Wajar saja bila kemudian SBY membiarkan Pansus bergerak ke sana ke mari.
Meski SBY yakin, kebijakan bailout yang diputuskan oleh Boediono dan Sri Mulyani sudah benar, tetapi dia membiarkan saja Boediono dan Sri Mulyani, jadi bulan-bulanan Pansus. Politik pembiaran itu berlangsung lama, sampai akhirnya SBY tersentak, bahwa Pansus bisa mengarah ke pemakzulan terhadap Boediono dan bahkan dirinya sendiri.
Suara nyaring para politisi di parlemen yang ditopang teriakan keras para demonstran di jalanan, membuat SBY dan PD, mengeluarkan kartu trufnya: reshuffle kabinet! Golkar dan PKS yang paling keras suaranya di Pansus, tentu jadi sasaran. Namun sepertinya mereka tidak gentar digertak. Sampai kapan? Itu pertanyaan PD dan SBY saat ini.
Benarkah langkah PD dan SBY yang membiarkan kawan koalisinya leluasa melakukan penyelidikan Bank Century adalah sebuah kesalahan? Belum tentu juga. Sebab di balik sikap lugu tersebut, bisa jadi PD dan SBY justru memetik buahnya, yaitu mengetahui kekuatan kawan-kawan koalisinya. Pengetahuan di awal kekuasaan ini penting demi mendapatkan bekal politik melangkah ke depan.
Jika spekulasi ini benar, hal itu tidak hanya menunjukkan kelihaian politik PD dan SBY, tetapi juga menunjukkan hasrat mereka dalam membangun kekuatan politik (demi mempertahankan kekuasaan selama mungkin), daripada memanfaatkan kekuasaan untuk mensejahterakan rakyat. Bayangkan betapa banyak waktu dan energi yang dikeluarkan oleh banyak pihak untuk mengurusi kasus Bank Century ini.
* Didik Supriyanto, wartawan detikcom yang juga Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
(iy/iy)
Bisa dipahami. Tahun pertama berkuasa, biasanya koalisi pemerintah asyik berbulan madu. Namun yang terjadi pada koalisi pemerintah SBY-Boediono, justru sebaliknya. Setelah kabinet dilantik, bergeraklah para politisi di DPR menyelidiki kasus bailout Bank Century. PD yang memiliki kursi terbanyak di DPR, tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa salah bila partai-partai koalisi pemerintah selain PD, yaitu Golkar, PKS, PAN, PKB dan PPP, bergerak menyelidiki kasus bailout Bank Century, yang disebut sebagian dananya mengalir ke PD dan pasangan calon presiden-wakil presiden SBY-Boediono pada Pemilu 2009 lalu? Tidak juga, sebab tidak ada upaya sungguh-sungguh dari PD dan SBY untuk mencegah kawan koalisinya saat mengusulkan penyelidikan.
Bahkan terlihat jelas, PD dan SBY termakan ‘provokasi’ para penggerak penyelidikan, bahwa pembentukan Pansus Bank Centruy, justru akan membersihkan citra PD dan SBY, jika memang mereka benar-benar tidak mendapatkan dana bailout. Makanya pembentukan Pansus pun mulus saja saat dibawa ke sidang paripurna DPR.
Bolehlah dibilang, dalam hal ini para politisi PD masih lugu, jika tidak mau dibilang kurang cerdas. Mereka sama sekali tidak dapat memetakan ke mana arah penyelidikan setelah Pansus Bank Century terbentuk. Mereka tahu Pansus akan jadi bola liar. Tetapi mereka tidak bisa memetakan keliaran arah bola, dan mempersiapkan berbagai antisipasi.
Keluguan itu ternyata dibenarkan oleh sikap SBY, yang mungkin saja berharap akhir dari Pansus justru akan membersihkan citra diri dan partainya dari kasus Bank Century. Wajar saja bila kemudian SBY membiarkan Pansus bergerak ke sana ke mari.
Meski SBY yakin, kebijakan bailout yang diputuskan oleh Boediono dan Sri Mulyani sudah benar, tetapi dia membiarkan saja Boediono dan Sri Mulyani, jadi bulan-bulanan Pansus. Politik pembiaran itu berlangsung lama, sampai akhirnya SBY tersentak, bahwa Pansus bisa mengarah ke pemakzulan terhadap Boediono dan bahkan dirinya sendiri.
Suara nyaring para politisi di parlemen yang ditopang teriakan keras para demonstran di jalanan, membuat SBY dan PD, mengeluarkan kartu trufnya: reshuffle kabinet! Golkar dan PKS yang paling keras suaranya di Pansus, tentu jadi sasaran. Namun sepertinya mereka tidak gentar digertak. Sampai kapan? Itu pertanyaan PD dan SBY saat ini.
Benarkah langkah PD dan SBY yang membiarkan kawan koalisinya leluasa melakukan penyelidikan Bank Century adalah sebuah kesalahan? Belum tentu juga. Sebab di balik sikap lugu tersebut, bisa jadi PD dan SBY justru memetik buahnya, yaitu mengetahui kekuatan kawan-kawan koalisinya. Pengetahuan di awal kekuasaan ini penting demi mendapatkan bekal politik melangkah ke depan.
Jika spekulasi ini benar, hal itu tidak hanya menunjukkan kelihaian politik PD dan SBY, tetapi juga menunjukkan hasrat mereka dalam membangun kekuatan politik (demi mempertahankan kekuasaan selama mungkin), daripada memanfaatkan kekuasaan untuk mensejahterakan rakyat. Bayangkan betapa banyak waktu dan energi yang dikeluarkan oleh banyak pihak untuk mengurusi kasus Bank Century ini.
* Didik Supriyanto, wartawan detikcom yang juga Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem).
(iy/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
KolomTerbaru
Indeks Kolom »
-
Selasa, 22/05/2012 09:24 WIB
Mencintai Indonesia Lewat Pendidikan
-
Rabu, 16/05/2012 18:06 WIB
Menimbang Para (Calon) Pengganti Foke
-
Selasa, 15/05/2012 10:25 WIB
Mata, Telinga & Otak Pilot Kurang Kompak Bisa Buat Pesawat Jatuh
-
Senin, 14/05/2012 10:09 WIB
Kolom
Membangun Mental Warga Jakarta
-
Jumat, 11/05/2012 15:49 WIB
Catatan Agus Pambagio
Tragedi Sukhoi dan Ganti Rugi
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
Minggu, 27/05/2012 10:53 WIB
Pembunuh Janda Cantik di Kebayoran Baru Dibekuk
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
286 Komentar
-
249 Komentar
-
240 Komentar
-
223 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
