Surat kepada Presiden
Saya Tak Rela Pak SBY Dimakzulkan
Selasa, 02/02/2010 07:32 WIB
Jakarta
Pak Presiden, pagi-pagi sekali kemarin saya membaca berita di detikcom bahwa pemakzulan menguntungkan PDIP, Golkar, dan PKS. Itu analisis yang disampaikan oleh seorang pengamat dan tentu saja ia punya alasan yang masuk akal untuk menyampaikan telaahnya.
Secara pribadi saya tak rela hal itu. Untuk apa jika sekadar menguntungkan pada para politisi PDIP? Untuk apa memberi keuntungan pada Golkar, yang sudah banyak mengeruk keuntungan sepanjang 32 tahun Orde Baru dan tidak banyak membawa keuntungan bagi rakyat? Untuk apa memberi keuntungan hanya kepada PKS, yang ternyata juga menampakkan kecondongannya menikmati kekuasaan?
Sebetulnya, sejauh anda dan seluruh jajaran pendukung anda menjalankan kebijakan yang taat hukum, saya kira tak ada yang perlu dikhawatirkan dari proses yang berlangsung di Pansus Hak Angket DPR. Dalam sistem presidensial, posisi anda sangat kuat sebab lembaga legislatif dan eksekutif tidak bisa saling menjatuhkan. Mosi tidak percaya hanyalah praktek yang lazim dijumpai dalam sistem parlementer. Meski demikian, pemakzulan juga bukan barang aneh dalam sistem presidensial; kita bisa mendapatkan sejumlah contoh untuk itu, misalnya di Amerika Serikat dan Republik Irlandia.
Dalam sistem ini, Pak Presiden, suka atau tidak, DPR mempunyai kekuasaan untuk mendakwa (to impeach). Jadi, meskipun sebagian orang tidak suka suka pada proses 'seperti pengadilan' yang terjadi di Pansus Century--dan anda menyesalkan etika dan akhlak anggota Pansus--proses ke arah pemakzulan mungkin tak terlalu aneh jika berlangsung seperti penuntutan. Bagaimanapun ia memang sebuah upaya pendakwaan atau penuntutan. Atau ia adalah upaya untuk menelisik kesalahan yang dilakukan oleh pejabat negara yang diduga melakukan tindakan pengkhianatan, penyuapan atau tindak pidana berat dan perbuatan tercela lainnya, sebagaimana yang diatur dalam konstitusi.
Justru saya sesungguhnya sering tidak percaya pada pertunjukan yang disuguhkan oleh Pansus Hak Angket yang menangani kasus ini. Ada beberapa hal yang membangkitkan perasaan tidak percaya itu. Pertama, saya tidak bisa menyingkirkan prasangka bahwa itu hanya sandiwara politik; setidaknya itu bagian dari manuver untuk melakukan tawar-menawar. Kedua, tingkat kepercayaan saya rendah terhadap performa DPR kita; mereka adalah para politisi yang berupaya dengan segala cara untuk duduk di Senayan. Ketiga, dunia politik kita dikuasai oleh para cukong.
Mencermati perilaku politisi kita hari ini, dan bagaimana mereka mendapatkan uang demi mengejar kursi mereka, saya tak bisa membuang ingatan terhadap apa yang pernah saya baca mengenai situasi politik di Amerika Serikat tahun 1920-an. Anda tahu betul, Pak Presiden, di seputar kekuasaan uang datang dan pergi begitu gampang. Panggung politik memerlukan topangan uang besar dan mesin politik yang mampu menyerap dan mengucurkan uang demi menangguk suara. Wartawan radikal I.F. Stone (kita mengenalnya di sini sebagai penulis buku Peradilan Socrates) menyebut zaman yang seperti ini sebagai 'zaman pengemis.'
Mesin-mesin politik selalu mendasarkan operasinya pada sistem yang bobrok, di mana politisi yang memenangkan pemilihan memberikan proyek-proyek pemerintahan kepada anggota partai yang loyal mendukung pemilihannya. Di Amerika tahun 1920-an, mereka sekaligus juga bekerja membekingi para mafia yang menjalankan bisnis prostitusi dan penyelundupan minuman keras.
Harry S. Truman, politisi Partai Demokrat, adalah salah seorang yang karier politiknya sering dikait-kaitkan dengan mesin politik Tom Pendergast, bos Missouri. Investigasi yang dilakukan oleh pemerintahan Roosevelt terhadap Pendergast mengungkapkan praktek brutal dan korup perpolitikan AS waktu itu. Namun Truman selamat dan ia naik menjadi wakil presiden pada periode keempat kepresidenan Roosevelt dan kemudian menjadi presiden di tahun 1944 menggantikan Roosevelt yang meninggal tahun itu.
Saya takut hal yang serupa tengah berlangsung saat ini di Indonesia: dominasi mesin-mesin politik yang bekerja untuk mendongkrak seseorang ke puncak kekuasaan dengan imbalan proyek-proyek pemerintahan. Saya takut bahwa mereka juga membekingi para mafia atau organisasi-organisasi semacamnya.
Saya kira buku Gurita Cikeas tulisan George Aditjondro memiliki fungsi pentingnya di sini, yakni bahwa ia mengumpulkan seluruh pergunjingan tentang dari mana sumber keuangan untuk mendanai kemenangan anda didapatkan. Dan apakah kasus Century berkaitan dengan itu? Saya yakin, Pak Presiden, itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran banyak orang dan mereka semua ingin tahu jawabannya.
Salam dari saya,
A.S. Laksana
NB: Saya sebenarnya lebih berharap bahwa, kalau toh ada pemakzulan, itu akan memberikan keuntungan kepada rakyat Indonesia.
(asy/asy)
Secara pribadi saya tak rela hal itu. Untuk apa jika sekadar menguntungkan pada para politisi PDIP? Untuk apa memberi keuntungan pada Golkar, yang sudah banyak mengeruk keuntungan sepanjang 32 tahun Orde Baru dan tidak banyak membawa keuntungan bagi rakyat? Untuk apa memberi keuntungan hanya kepada PKS, yang ternyata juga menampakkan kecondongannya menikmati kekuasaan?
Sebetulnya, sejauh anda dan seluruh jajaran pendukung anda menjalankan kebijakan yang taat hukum, saya kira tak ada yang perlu dikhawatirkan dari proses yang berlangsung di Pansus Hak Angket DPR. Dalam sistem presidensial, posisi anda sangat kuat sebab lembaga legislatif dan eksekutif tidak bisa saling menjatuhkan. Mosi tidak percaya hanyalah praktek yang lazim dijumpai dalam sistem parlementer. Meski demikian, pemakzulan juga bukan barang aneh dalam sistem presidensial; kita bisa mendapatkan sejumlah contoh untuk itu, misalnya di Amerika Serikat dan Republik Irlandia.
Dalam sistem ini, Pak Presiden, suka atau tidak, DPR mempunyai kekuasaan untuk mendakwa (to impeach). Jadi, meskipun sebagian orang tidak suka suka pada proses 'seperti pengadilan' yang terjadi di Pansus Century--dan anda menyesalkan etika dan akhlak anggota Pansus--proses ke arah pemakzulan mungkin tak terlalu aneh jika berlangsung seperti penuntutan. Bagaimanapun ia memang sebuah upaya pendakwaan atau penuntutan. Atau ia adalah upaya untuk menelisik kesalahan yang dilakukan oleh pejabat negara yang diduga melakukan tindakan pengkhianatan, penyuapan atau tindak pidana berat dan perbuatan tercela lainnya, sebagaimana yang diatur dalam konstitusi.
Justru saya sesungguhnya sering tidak percaya pada pertunjukan yang disuguhkan oleh Pansus Hak Angket yang menangani kasus ini. Ada beberapa hal yang membangkitkan perasaan tidak percaya itu. Pertama, saya tidak bisa menyingkirkan prasangka bahwa itu hanya sandiwara politik; setidaknya itu bagian dari manuver untuk melakukan tawar-menawar. Kedua, tingkat kepercayaan saya rendah terhadap performa DPR kita; mereka adalah para politisi yang berupaya dengan segala cara untuk duduk di Senayan. Ketiga, dunia politik kita dikuasai oleh para cukong.
Mencermati perilaku politisi kita hari ini, dan bagaimana mereka mendapatkan uang demi mengejar kursi mereka, saya tak bisa membuang ingatan terhadap apa yang pernah saya baca mengenai situasi politik di Amerika Serikat tahun 1920-an. Anda tahu betul, Pak Presiden, di seputar kekuasaan uang datang dan pergi begitu gampang. Panggung politik memerlukan topangan uang besar dan mesin politik yang mampu menyerap dan mengucurkan uang demi menangguk suara. Wartawan radikal I.F. Stone (kita mengenalnya di sini sebagai penulis buku Peradilan Socrates) menyebut zaman yang seperti ini sebagai 'zaman pengemis.'
Mesin-mesin politik selalu mendasarkan operasinya pada sistem yang bobrok, di mana politisi yang memenangkan pemilihan memberikan proyek-proyek pemerintahan kepada anggota partai yang loyal mendukung pemilihannya. Di Amerika tahun 1920-an, mereka sekaligus juga bekerja membekingi para mafia yang menjalankan bisnis prostitusi dan penyelundupan minuman keras.
Harry S. Truman, politisi Partai Demokrat, adalah salah seorang yang karier politiknya sering dikait-kaitkan dengan mesin politik Tom Pendergast, bos Missouri. Investigasi yang dilakukan oleh pemerintahan Roosevelt terhadap Pendergast mengungkapkan praktek brutal dan korup perpolitikan AS waktu itu. Namun Truman selamat dan ia naik menjadi wakil presiden pada periode keempat kepresidenan Roosevelt dan kemudian menjadi presiden di tahun 1944 menggantikan Roosevelt yang meninggal tahun itu.
Saya takut hal yang serupa tengah berlangsung saat ini di Indonesia: dominasi mesin-mesin politik yang bekerja untuk mendongkrak seseorang ke puncak kekuasaan dengan imbalan proyek-proyek pemerintahan. Saya takut bahwa mereka juga membekingi para mafia atau organisasi-organisasi semacamnya.
Saya kira buku Gurita Cikeas tulisan George Aditjondro memiliki fungsi pentingnya di sini, yakni bahwa ia mengumpulkan seluruh pergunjingan tentang dari mana sumber keuangan untuk mendanai kemenangan anda didapatkan. Dan apakah kasus Century berkaitan dengan itu? Saya yakin, Pak Presiden, itulah pertanyaan yang mengganggu pikiran banyak orang dan mereka semua ingin tahu jawabannya.
Salam dari saya,
A.S. Laksana
NB: Saya sebenarnya lebih berharap bahwa, kalau toh ada pemakzulan, itu akan memberikan keuntungan kepada rakyat Indonesia.
(asy/asy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
KolomTerbaru
Indeks Kolom »
-
Selasa, 22/05/2012 09:24 WIB
Mencintai Indonesia Lewat Pendidikan
-
Rabu, 16/05/2012 18:06 WIB
Menimbang Para (Calon) Pengganti Foke
-
Selasa, 15/05/2012 10:25 WIB
Mata, Telinga & Otak Pilot Kurang Kompak Bisa Buat Pesawat Jatuh
-
Senin, 14/05/2012 10:09 WIB
Kolom
Membangun Mental Warga Jakarta
-
Jumat, 11/05/2012 15:49 WIB
Catatan Agus Pambagio
Tragedi Sukhoi dan Ganti Rugi
-
Sabtu, 26/05/2012 19:13 WIB
Satu Pembunuh Wartawan Senior TVRI Ditangkap di Karawang
-
Sabtu, 26/05/2012 19:09 WIB
Mabes TNI: Kalau Ada Mobil Mencurigakan Pakai Pelat TNI, Tanya Saja!
-
Sabtu, 26/05/2012 17:01 WIB
Pembunuh Paman dan Anak dengan Linggis di Depok Ditangkap Polisi
-
Sabtu, 26/05/2012 18:58 WIB
Lulus 100%, Siswa SMAN 3 Semarang Bersepeda Keliling Kota
-
280 Komentar
-
246 Komentar
-
240 Komentar
-
225 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
