Detik.com News
Detik.com

Rabu, 27/01/2010 11:28 WIB

Pembelian Pesawat Kepresidenan Tak Tepat

Gunawan Mashar - detikNews
Jakarta - Rencana pembelian pesawat kepresidenan khusus dinilai tidak tepat. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang buruk. Seharusnya pengeluaran anggaran diprioritaskan untuk kesejahteraan rakyat.

"Harusnya lebih hati-hati mengeluarkan anggaran. Lebih tepat jika ditujukan untuk mendanai sektor rill bukan untuk mendanai presiden," kata peneliti hukum dan politik anggaran Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (27/1/2010).

Pemerintah, sejak November 2009 lalu, telah mengajukan persetujuan pembayaran uang muka tanda jadi pembelian pesawat sebanyak Rp 200 miliar ke DPR. Rencana ini pun dipersoalkan sejumlah Badan Anggaran DPR.

Menurut Roy, pemerintah saat ini harusnya mengeluarkan anggaran yang pro rakyat, di tengah banyaknya persoalan yang dihadapi oleh rakyat Indonesia.

Belum diketahui jenis pesawat yang rencananya akan dibeli oleh pemerintah. Jika menilik pada masa pemerintahan Gus Dur, pemerintah saat itu sempat berencana membeli pesawat kepresidenan jenis Boeing 737-200. "Harga Boeing jika dirupiahkan berkisar Rp 400-700 miliar," ujar Roy.

Selama ini, Indonesia belum pernah mempunyai pesawat kepresidenan khusus yang dikelola oleh negara. Pesawat yang dipakai oleh presiden untuk kunjungan ke dalam dan luar negeri adalah pesawat sewaan dari Garuda Indonesia Airways (GIA) dan Pelita Air Service (PAS), atau memakai pesawat milik TNI jenis Fokker 28 dengan nomor register A2802 dan Boeing 737-200.


Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV Senin sampai Jumat pukul 16.45 WIB

(gun/iy)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 22/05/2015 20:11 WIB
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli
    Andrinof Chaniago: Reshuffle, Kami Tak Peduli Ada yang menilai kurang moncernya kinerja tim ekonomi saat ini tak lepas dari kurang optimalnya peran Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Andrinof Chaniago. Kepala Bappenas itu juga dituding banyak memangkas program-program unggulan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita.
ProKontra Index »

Ayah Pemerkosa Putri Kandung dan Bunuh 4 Anaknya Layak Dihukum Mati!

Sadriansyah, warga Sungai Kunjang, Samarinda, Kaltim tega memperkosa putri kandungnya dan membunuh 4 anak-anak sendiri saat masih kecil. Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq berpendapat, Sadriansyah pantas dihukum mati karena menjadi ayah yang biadab. Bila Anda setuju bahwa hukuman yang setimpal bagi Sadriansyah adalah hukuman mati, pilih Pro!
Pro
90%
Kontra
10%