KTT Perubahan Iklim
Kemarahan Negara Berkembang Atas Kesepakatan Kopenhagen
Sabtu, 19/12/2009 12:46 WIB
Reuters
Kopenhagen
Kemarahan muncul di KTT perubahan iklim di Kopenhagen, Denmark. Kemarahan berasal dari beberapa negara berkembang yang memprotes teks kesepakatan 'Copenhagen Accord'. Mereka juga kesal karena tidak diikutsertakan dalam perundingan tertutup negara-negara kaya.
Padahal sebelumnya Presiden AS Barack Obama telah memuji keberhasilan KTT tersebut. "Hari ini kami telah membuat terobosan berarti dan tak terduga di Kopenhagen ini," kata Obama kepada wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/12/2009).
"Untuk pertama kali dalam sejarah, semua negara ekonomi besar telah bersatu untuk menerima tanggung jawab mereka dalam bertindak untuk menghadapi ancaman perubahan iklim," tegas Obama.
Namun beberapa jam setelah Obama dan pemimpin-pemimpin penting lainnya meninggalkan Kopenhagen, para delegasi dari 194 negara berkumpul untuk menyetujui teks kesepakatan. Teks tersebut mengenai kesepakatan yang dicapai setelah pertemuan seharian yang melibatkan dua lusin presiden dan perdana menteri di Kopenhagen termasuk Obama.
Menurut Ian Fry, delegasi dari Tuvalu, pulau kecil di Pasifik yang keberadaannya terancam oleh perubahan iklim, kesepakatan itu merupakan pengkhianatan.
"Sepertinya kami sedang ditawari 30 keping perak untuk mengkhianati rakyat dan masa depan kami," kata Fry.
Kesepakatan 'Copenhagen Accord' menetapkan komitmen untuk membatasi pemanasan global menjadi dua derajat Celcius, namun tidak menyebutkan landasan pijakan yang penting: target emisi global untuk 2020 atau 2050. (ita/ita)
Padahal sebelumnya Presiden AS Barack Obama telah memuji keberhasilan KTT tersebut. "Hari ini kami telah membuat terobosan berarti dan tak terduga di Kopenhagen ini," kata Obama kepada wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (19/12/2009).
"Untuk pertama kali dalam sejarah, semua negara ekonomi besar telah bersatu untuk menerima tanggung jawab mereka dalam bertindak untuk menghadapi ancaman perubahan iklim," tegas Obama.
Namun beberapa jam setelah Obama dan pemimpin-pemimpin penting lainnya meninggalkan Kopenhagen, para delegasi dari 194 negara berkumpul untuk menyetujui teks kesepakatan. Teks tersebut mengenai kesepakatan yang dicapai setelah pertemuan seharian yang melibatkan dua lusin presiden dan perdana menteri di Kopenhagen termasuk Obama.
Menurut Ian Fry, delegasi dari Tuvalu, pulau kecil di Pasifik yang keberadaannya terancam oleh perubahan iklim, kesepakatan itu merupakan pengkhianatan.
"Sepertinya kami sedang ditawari 30 keping perak untuk mengkhianati rakyat dan masa depan kami," kata Fry.
Kesepakatan 'Copenhagen Accord' menetapkan komitmen untuk membatasi pemanasan global menjadi dua derajat Celcius, namun tidak menyebutkan landasan pijakan yang penting: target emisi global untuk 2020 atau 2050. (ita/ita)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 00:50 WIB
Kapal Kargo di Pelabuhan Sunda Kelapa Terbakar
-
Sabtu, 26/05/2012 23:45 WIB
Keluarga Pramugari Henny Korban Sukhoi Dapat Santunan Rp 25 Juta
-
Sabtu, 26/05/2012 23:16 WIB
Satu Orang Tewas Tertimpa Pohon Akibat Angin Kencang di Medan
-
Sabtu, 26/05/2012 22:36 WIB
Rudenim Manado Terima 35 Imigran Myanmar dari Kendari
-
Sabtu, 26/05/2012 21:53 WIB
Satu Sekolah Tak Lulus UN, Siswa di Langkat Pingsan
-
Sabtu, 26/05/2012 05:00 WIB
Pelaku Penembak Satpam IPB Sempat Beli Sandal Usai Tinggalkan Motor
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
282 Komentar
-
229 Komentar
-
215 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,847.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
