Tren Bunuh Diri dari Gedung Tinggi
Cinta & Belanja Bisa Jadi Penyebabnya
Kamis, 17/12/2009 17:43 WIB
Jakarta
Depresi merupakan penyebab seseorang melakukan bunuh diri. Depresi yang menyebabkan seseorang bunuh diri tersebut menurut pandangan psikolog Mintarsih A latif ada 2 jenis, yakni depresi yang secara sadar atau depresi yang di luar kesadaran atau
sakit jiwa.
Kalau bunuh diri yang dilakukan seseorang yang mengalami depresi secara sadar akan dilakukan dengan kesadaran penuh. Dia menyadari apa yang dilakukannya dan punya alasan untuk itu (melakukan bunuh diri). Sementara jika di luar kesadarannya,
seseorang melakukan bunuh diri karena ada perintah dari sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya.
Adapun penyebab depresi itu sendiri ada banyak sebab. Namun yang dominan karena dilatarbelakangi urusan cinta dan ekonomi. "Kalau di masyarakat Indonesia masalah cinta dan faktor ekonomi menjadi penyebab dominan seseorang depresi yang berujung
pada upaya bunuh diri.
Tentang fenomena bunuh diri yang dilakukan beberapa masyarakat belakangan ini, Mintarsih punya penilaian sendiri. Menurutnya, upaya bunuh diri yang dilakukan belakangan ini umumnya disebabkan faktor ekonomi. Tapi Mintarsih menggarisbawahi faktor ekonomi yang dimaksud bukan lataran seseorang tidak bisa makan atau mengalami kesulitan ekonomi. Melainkan disebabkan kemerosotan ekonomi seseorang.
Mintarsih memberi contoh kasus Nasabah Bank Century Jambi, Sayuti Michael alias Amin (47), yang terjun dari lantai 7 Hotel Abadi Suite di Jalan Gatot Subroto, Kota Jambi, Februari lalu. Amin diduga bunuh diri karena stres memikirkan dana
depositonya sebesar Rp 125 miliar yang belum juga dapat dicairkan pascalikuidasi Bank Century.
"Saat ini banyak orang yang tingkat ekonominya lumayan yang melakukan bunuh diri. Jadi penyebabnya buka ia tidak punya uang. Tapi lebih disebabkan kemampuan ekonominya merosot drastis sehingga menimbulkan stres dan depresi,' ungkap Mintarsih.
Kemerosotan ekonomi seseorang menjadi pemicu bunuh diri juga dikatakan psikolog Liza Malrielly Djaprie. Menurutnya, adanya peningkatan jumlah orang kaya yang bunuh diri di Indonesia menunjukan depresi atau stres tidak hanya dimiliki oleh orang-orang miskin. Sebab tingkat stres justru banyak terjadi di lingkungan masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi.
Hanya saja, kata Liza, orang-orang kaya biasanya punya banyak jalan untuk mengatasi depresinya. Misalnya dengan berbelanja atau berkonsultasi ke profesional. Sementara orang dari kalangan menengah ke bawah akan mengalami depresi hanya bisa mengurung diri atau bunuh diri.
Lantas kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang ekonominya mapan justru melakukan bunuh diri? Seperti yang dilakukan Lindasari, pengusaha alat-alat dapur, Reno (eksekutif muda), dan Ice Juniar. "Mungkin saja tekanan ekonomi mereka terlalu berat ditambah harga-harga melambung tinggi sehingga mereka kesulitan untuk berbelanja sebagai salah satu cara mengatasi
depresi," ujar Liza.
Fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang kaya itu bisa dilihat dari maraknya upaya bunuh diri yang dilakukan di mal, apartemen, maupun hotel. Lokasi-lokasi tersebut, terang Liza, merupakan tempat yang biasa dikunjungi orang-orang kaya. Jadi ada keterkaitan antara lokasi bunuh diri dan latar belakang orang yang bunuh diri.
"Kalau orang miskin atau kurang mampu yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari ketinggian umumnya memilih menara PLN atau BTS. Karena mereka tidak terbiasa masuk ke hotel atau ke mal-mal," begitu kata Liza.
Dikatakan Liza, fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang yang punya kemampuan ekonomi diperkirakan akan terus terjadi. Alasannya kondisi ekonomi bangsa saat ini masih tidak menentu sehingga banyak warga kalangan menengah ke atas yang
depresi dan mencoba bunuh diri.
Prediksi yang sama juga dikatakan sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Musni Umar. Ia mengatakan, kondisi ekonomi dan politik yang masih belum stabil bisa menjadi pemicu orang-orang kaya melakukan bunuh diri karena depresi. Terutama mereka
yang biasa bermain di bursa saham.
"Saat ini kondisi ekonomi dan politik tidak stabil. Harga saham banyak yang anjlok sehingga menimbulkan kerugian bagi orang yang bermain saham. Ini bisa jadi pemicu terjadinya bunuh diri," pungkasnya.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



sakit jiwa.
Kalau bunuh diri yang dilakukan seseorang yang mengalami depresi secara sadar akan dilakukan dengan kesadaran penuh. Dia menyadari apa yang dilakukannya dan punya alasan untuk itu (melakukan bunuh diri). Sementara jika di luar kesadarannya,
seseorang melakukan bunuh diri karena ada perintah dari sesuatu yang masuk ke dalam pikirannya.
Adapun penyebab depresi itu sendiri ada banyak sebab. Namun yang dominan karena dilatarbelakangi urusan cinta dan ekonomi. "Kalau di masyarakat Indonesia masalah cinta dan faktor ekonomi menjadi penyebab dominan seseorang depresi yang berujung
pada upaya bunuh diri.
Tentang fenomena bunuh diri yang dilakukan beberapa masyarakat belakangan ini, Mintarsih punya penilaian sendiri. Menurutnya, upaya bunuh diri yang dilakukan belakangan ini umumnya disebabkan faktor ekonomi. Tapi Mintarsih menggarisbawahi faktor ekonomi yang dimaksud bukan lataran seseorang tidak bisa makan atau mengalami kesulitan ekonomi. Melainkan disebabkan kemerosotan ekonomi seseorang.
Mintarsih memberi contoh kasus Nasabah Bank Century Jambi, Sayuti Michael alias Amin (47), yang terjun dari lantai 7 Hotel Abadi Suite di Jalan Gatot Subroto, Kota Jambi, Februari lalu. Amin diduga bunuh diri karena stres memikirkan dana
depositonya sebesar Rp 125 miliar yang belum juga dapat dicairkan pascalikuidasi Bank Century.
"Saat ini banyak orang yang tingkat ekonominya lumayan yang melakukan bunuh diri. Jadi penyebabnya buka ia tidak punya uang. Tapi lebih disebabkan kemampuan ekonominya merosot drastis sehingga menimbulkan stres dan depresi,' ungkap Mintarsih.
Kemerosotan ekonomi seseorang menjadi pemicu bunuh diri juga dikatakan psikolog Liza Malrielly Djaprie. Menurutnya, adanya peningkatan jumlah orang kaya yang bunuh diri di Indonesia menunjukan depresi atau stres tidak hanya dimiliki oleh orang-orang miskin. Sebab tingkat stres justru banyak terjadi di lingkungan masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi.
Hanya saja, kata Liza, orang-orang kaya biasanya punya banyak jalan untuk mengatasi depresinya. Misalnya dengan berbelanja atau berkonsultasi ke profesional. Sementara orang dari kalangan menengah ke bawah akan mengalami depresi hanya bisa mengurung diri atau bunuh diri.
Lantas kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang ekonominya mapan justru melakukan bunuh diri? Seperti yang dilakukan Lindasari, pengusaha alat-alat dapur, Reno (eksekutif muda), dan Ice Juniar. "Mungkin saja tekanan ekonomi mereka terlalu berat ditambah harga-harga melambung tinggi sehingga mereka kesulitan untuk berbelanja sebagai salah satu cara mengatasi
depresi," ujar Liza.
Fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang kaya itu bisa dilihat dari maraknya upaya bunuh diri yang dilakukan di mal, apartemen, maupun hotel. Lokasi-lokasi tersebut, terang Liza, merupakan tempat yang biasa dikunjungi orang-orang kaya. Jadi ada keterkaitan antara lokasi bunuh diri dan latar belakang orang yang bunuh diri.
"Kalau orang miskin atau kurang mampu yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari ketinggian umumnya memilih menara PLN atau BTS. Karena mereka tidak terbiasa masuk ke hotel atau ke mal-mal," begitu kata Liza.
Dikatakan Liza, fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh seseorang yang punya kemampuan ekonomi diperkirakan akan terus terjadi. Alasannya kondisi ekonomi bangsa saat ini masih tidak menentu sehingga banyak warga kalangan menengah ke atas yang
depresi dan mencoba bunuh diri.
Prediksi yang sama juga dikatakan sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Musni Umar. Ia mengatakan, kondisi ekonomi dan politik yang masih belum stabil bisa menjadi pemicu orang-orang kaya melakukan bunuh diri karena depresi. Terutama mereka
yang biasa bermain di bursa saham.
"Saat ini kondisi ekonomi dan politik tidak stabil. Harga saham banyak yang anjlok sehingga menimbulkan kerugian bagi orang yang bermain saham. Ini bisa jadi pemicu terjadinya bunuh diri," pungkasnya.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 13:23 WIB
Komisi III DPR: Konser Lady Gaga Batal Terganjal Persyaratan
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
559 Komentar
-
288 Komentar
-
254 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
