detikcom

Tren Bunuh Diri dari Gedung Tinggi

Ikut-ikutan Bukan Simbol Keberanian

Deden Gunawan - detikNews
Kamis, 17/12/2009 17:34 WIB
Jakarta Ulang tahun ke-34 menjadi ulang tahun yang terakhir bagi Lindasari. Dia hari setelah merayakan ulang tahunnya itu, Linda membuat geger. Ia lompat dari lantai 27 Apartemen Istana Harmoni. Dus, kepala belakangnya pun remuk membentur lapangan tenis
apartemen itu di lantai 7.

Hari tragis itu terjadi pada Selasa 15 Desember 2009. Apartemen Istana Harmoni merupakan apartemen tempat Linda tinggal. Sejauh ini belum diketahui secara persis apa yang membuat Lindasari nekat mengakhiri hidup dengan cara melompat dari ketinggian 20 lantai itu. Hanya polisi menduga Linda stres karena piutangnya macet.

Bunuh diri yang dilakukan Lindasari, menambah daftar orang bunuh diri dari tempat ketinggian. Sehari sebelumnya, Senin 14 Desember, seorang pembantu rumah tangga (PRT) bernama Yani (12) juga nekat melakukan hal sama dengan melompat dari lantai 11
Apartemen Gading View River city.

Yani nekat mengakhiri hidupnya karena kecewa dengan sang pacar. Pasalnya kekasih yang dicintainya itu ternyata sudah beristri dan punya 2 orang anak. Kenyataan tersebut membuat Yani depresi yang berujung bunuh diri.

Selain dari apartemen, bunuh diri juga banyak dilakukan di mal atau pusat perbelanjaan. Sebut saja yang dilakukan Reno dan Ice Juniar. Reno yang adalah warga Patal Senayan, Jakarta Selatan, dan Ice yang warga Palembang, Sumatera Selatan,
melakukan bunuh diri pada hari yang sama, 30 November 2009.

Reno, pria berusia 25 tahun diketahui melompat dari kaca lantai lima, tepatnya di dekat sebuah restauran Jepang. Jasad Reno kemudian tersangkut di lantai 2. Ia langsung tewas seketika. sedangkan Ice Juniar, melakukan aksi nekatnya di pusat perbelanjaan Grand Indonesia. Dari rekaman CCTV diketahui, gadis berusia 24 tahun tersebut terlihat memanjat pinggir eskalator di lantai 5. Tidak lama kemudian, ia langsung terjun dan tersangkut di pegangan eskalator di lantai upper ground.

Beberapa hari setelah kasus bunuh diri Reno dan Ice, seorang pria bernama Richard Kurniawan juga ditemukan tewas akibat melompat dari lantai 11 Mangga Dua Square, 4 Desember 2009. Menurut Kapolres Jakarta Utara Kombes Rudy Sufahriadi, dari keterangan saksi-saksi diketahui Richard tewas akibat bunuh diri.

Selain di Jakarta, kejadian bunuh diri di mal juga terjadi di surabaya, 5 November 2009, di Darmo Trade Center (DTC) Surabaya. seorang ibu bernama Anita (31) nekat mengajak anaknya, Andika Putra (3), terjun dari lantai 4. Anita nekat bunuh diri karena punya masalah dengan suaminya Adrin Afianto (33).

Upaya bunuh diri yang dilakukan dari tempat ketinggian atau gedung bertingkat memang menjadi fenomena belakangan ini. sebelumnya, upaya bunuh diri banyak dilakukan dengan cara meminum racun serangga, gantung diri, menyayat urat nadi atau meminum cairan tertentu.

Tapi kali ini, modus melakukan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian menjadi pilihan favorit. Apa sebab? Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Liza Malrielly Djaprie, berpendapat, cara bunuh diri dari gedung bertingkat menjadi pilihan karena bisa dengan cepat mengakhiri hidup. Selain itu juga kemungkinan tewasnya hampir 100 persen.

"Kalau bunuh diri dengan racun serangga atau gantung diri, dari beberapa kasus banyak yang mengalami kegagalan. Sementara dengan terjun dari gedung tinggi kematian sudah bisa dipastikan," jelas Liza saat berbincang-bincang dengan detikcom.

Tingkat keberhasilan bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi inilah yang menurut liza menginspirasi masyarakat yang sedang mengalami depresi. Sebab mereka merasa akan lebih mudah mengakhiri hidup. Kalau dengan racun serangga atau gantung
diri, sebelum tewas mereka akan merasa tersiksa karena proses kematiannya yang tidak segera.

"Peran pemberitaan media seputar kasus bunuh diri menjadi salah satu faktor pilihan beberapa masyarakat yang ingin bunuh diri," terang Liza.

Adanya peran media dalam menginspirasi cara melakukan bunuh diri, urai Liza, bisa dilihat dari rangkaian peristiwa bunuh diri yang umumnya berdekatan dengan modus yang sama. Misalnya ketika ramai pemberitaan seorang ibu yang bunuh diri bersama
anak-anaknya dengan cara meminum racun. Tidak lama kemudian kejadian serupa juga terjadi di sejumlah wilayah daerah.

Kini, ketika banyak pemberitaan tentang peristiwa bunuh diri dengan cara terjun bebas, peristiwa dengan modus yang sama juga terjadi di sejumlah tempat dengan waktu yang berdekatan. "Ini membuktikan kalau modus yang dilakukan para pelaku bunuh diri
salah satunya akibat terinspirasi dari pemberitaan media,"tandasnya.

Hal sama juga dikatakan psikolog Mintarsih A Latif. Menurutnya, pengertian bunuh diri yang dilakukan orang Indonesia umumnya berdasarkan apa yang sering dilakukan orang. Misalnya jika saat ini trendnya sedang ramai bunuh diri dari gedung tinggi
maka upaya bunuh diri sejenis akan banyak dilakukan.

"Saat ini karena persentase bunuh diri dari apartemen atau mal yang tinggi, maka upaya serupa dimungkinkan akan dilakukan oleh orang lain yang sedang mengalami depresi," jelas Mintarsih.

Faktor lainnya, imbuh Mintarsih, dengan bunuh diri dengan melompat dari mal pelakunya tidak perlu capek-capek mempersiapkan prosesi bunuh diri, seperti jika bunuh diri dengan cara minum serangga atau gantung diri. Sebab kalau bunuh diri di
mal atau gedung bertingkat lainnya, cukup dengan melompat dari ketinggian tertentu ia bisa dipatikan langsung tewas.

Nah, bisa jadi bunuh diri dengan melompat dari gedung jadi populer belakangan ini karena pelakunya merasa tidak harus capek-cepek mempersiapkan tali atau mencari racun. "Jadi gak perlu repot-repot lagi kan," pungkas Mintarsih.

Menurut Mintarsih, kalau di Jepang bunuh diri lebih banyak disebabkan faktor harga diri. Jadi bunuh diri di Jepang merupakan simbol keberanian. Namun tidak demikian dengan kultur di Indonesia. Di sini, bunuh diri bukan menjadi simbol keberanian,
tapi karena depresi.

(ddg/iy)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel