Pakar ekonomi Kwik Kian Gie menegaskan indikasi korupsi bisa saja terjadi karena dalam proses penyimpanan tersebut muncul keanehan.
"Jadi kalau dikatakan ada indikasi korupsi ya memang ada. Sesuatu yang tidak logis pasti ada yang tidak beres," kata Kwik usai peluncuran buku Bibit Samad Rianto berjudul Koruptor Go To Hell, di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (16/12/2009)malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kita lihat dulu ada kasus Jamsostek, dirutnya dipenjara karena menebar uang dimana-mana. Setelah diteliti lebih dalam ternyata ada korupsi,"ungkapnya.
Kwik juga merasa heran mengapa para pimpinan BUMN tersebut mau menyimpan dana di bank yang sudah jelas bermasalah seperi Century. Bahkan dengan jumlah yang cukup besar hingga mencapai Rp 412 miliar.
"Secara nalar sulit dipahami bahwa ada perusahan milik negara melakukan hal seperti itu. Mereka kan juga diisi oleh bisnisman yang mengerti usaha, seharusnya mereka mengerti Bank Century sudah busuk sejak awal," tutupnya.
Sebelumnya, Masyarakat Anti Korupsi (MAKI) mendesak agar KPK mengusut temuan dana BUMN di Bank Century. Ada sekitar 5 BUMN yang datanya disampaikan oleh MAKI. Mereka adalah Jamsotek (Rp 212 miliar), Telkom (165 miliar), Perkebunan Nusatara (Rp 10 miliar), Asabri (Rp 5 miliar) dan WIKA (Rp 20 miliar). (mpr/Rez)











































