Apa Kabar Menara Jakarta
Hanya Proyek Prestisius, Pemprov Tak Dapat Apa-apa
Selasa, 15/12/2009 17:47 WIB
Jakarta
Menara Jakarta merupakan proyek prestisius yang akan dibangun di Ibukota DKI Jakarta. Sekalipun pembangunannya terkatung-katung, namun proyek tersebut diyakini bakal terus dilanjutkan oleh developer.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, beberapa waktu lalu menyatakan, pembangunan Menara Jakarta sudah ada progress. Alasannya, developer sudah membangun pondasinya untuk menara setinggi 558 meter tersebut. Selain itu, kata Foke, panggilan pria berkumis ini, pengembang juga sudah menyatakan minatnya untuk terus melanjutkan proyek tersebut sampai selesai.
Foke menganggap pembangunan Menara Jakarta dirasa sangat perlu bagi kota Jakarta. Salah satunya untuk mengatasi permasalahan-permasalan terkait masalah gangguan menara pemancar televisi yang saat ini ada.
Ia juga berharap menara tersebut bisa disejajarkan dengan menara di kota-kota besar di negara lain, seperti Seoul, Shanghai, Kuala Lumpur dan Toronto.
Harapan yang sama juga dikatakan anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi. Menurutnya, pembangunan Menara Jakarta sangat diperlukan. Sebab selain bisa meningkatkan imej Kota Jakarta, menara tersebut juga bisa menyerap tenaga kerja yang banyak.
"Menara tersebut akan berdampak positif bagi masyarakat Jakarta. Tapi memang untuk Pemprov DKI Jakarta pemasukannya tidak sebarapa. Karena areal yang ada di Kemayoran merupakan wilayah Setneg yang dikelola Badan Pelaksana Pengendalian Pembangunan Komplek Kemayoran (BP3KK)," jelas Sanusi kepada detikcom.
Dalam proyek Menara Jakarta, memang peran Pemprov DKI Jakarta hanya sebatas mengeluarkan perizinan bangunan. Sementara untuk pembangunan dan pengelolaan sepenuhnya ditangani swasta. Adapun BP3KK hanya mendapat jatah 10 persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Minimnya pendapatan DKI Jakarta dalam proyek tersebut mendapat sorotan dari Ketua Forum Warga Jakarta (Fakta) Azas Tigor Naenggolan. Kata Tigor, seharusnya Pemprov DKI Jakarta bisa mendapatkan profit dari proyek tersebut, bukan sekadar pembuat regulasi. Pasalnya, bagaimanapun menara itu berada di dalam wilayah Jakarta.
"Kalau yang kebagian hanya Setneg tidak fair. Itu sama saja negara di dalam negara. sebab secara wilayah, Kemayoran sekalipun berada di tangan Setneg, merupakan di dalam wilayah Jakarta. Jadi Pemprov harus terlibat secara aktif dalam setiap proyek di kawasan tersebut," ujar Tigor.
Selain itu, Tigor juga mengaku kurang sepakat jika menara tersebut dianggap punya manfaat besar bagi warga Jakarta. Sebab, tambah Tigor, pembangunan menara itu tidak terkait langsung dengan masyarakat.
"Saya pikir, akan lebih baik jika investasi triliunan rupiah untuk bangun menara digunakan untuk pembangunan ekonomi yang bermanfaat langsung kepada masyarakat," cetusnya.
Tigor juga menilai, pembangunan Menara Jakarta lebih cenderung mengejar nilai prestisius, bukan untuk peningkatan pembangunan. Sebab gagasan tersebut mulai tercetus pada masa orde baru. Saat itu Soeharto berkeinginan membuat menara yang tersohor seperti Petronas di Malaysia.
Namun niat tersebut tidak kesampaian karena krisis ekonomi dan Soeharto sendiri keburu lengser. Nah, di era reformasi niat tersebut direalisasikan kembali oleh konglomerat yang sama, yakni Prajogo Pangestu dan Henri Pribadi.
Namun proyek tersebut tetap saja terlunta-lunta. Alhasil baru tahun depan proyek ini akan kembali berjalan secara bertahap dan akan rampung pada 2012.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, beberapa waktu lalu menyatakan, pembangunan Menara Jakarta sudah ada progress. Alasannya, developer sudah membangun pondasinya untuk menara setinggi 558 meter tersebut. Selain itu, kata Foke, panggilan pria berkumis ini, pengembang juga sudah menyatakan minatnya untuk terus melanjutkan proyek tersebut sampai selesai.
Foke menganggap pembangunan Menara Jakarta dirasa sangat perlu bagi kota Jakarta. Salah satunya untuk mengatasi permasalahan-permasalan terkait masalah gangguan menara pemancar televisi yang saat ini ada.
Ia juga berharap menara tersebut bisa disejajarkan dengan menara di kota-kota besar di negara lain, seperti Seoul, Shanghai, Kuala Lumpur dan Toronto.
Harapan yang sama juga dikatakan anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi. Menurutnya, pembangunan Menara Jakarta sangat diperlukan. Sebab selain bisa meningkatkan imej Kota Jakarta, menara tersebut juga bisa menyerap tenaga kerja yang banyak.
"Menara tersebut akan berdampak positif bagi masyarakat Jakarta. Tapi memang untuk Pemprov DKI Jakarta pemasukannya tidak sebarapa. Karena areal yang ada di Kemayoran merupakan wilayah Setneg yang dikelola Badan Pelaksana Pengendalian Pembangunan Komplek Kemayoran (BP3KK)," jelas Sanusi kepada detikcom.
Dalam proyek Menara Jakarta, memang peran Pemprov DKI Jakarta hanya sebatas mengeluarkan perizinan bangunan. Sementara untuk pembangunan dan pengelolaan sepenuhnya ditangani swasta. Adapun BP3KK hanya mendapat jatah 10 persen dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Minimnya pendapatan DKI Jakarta dalam proyek tersebut mendapat sorotan dari Ketua Forum Warga Jakarta (Fakta) Azas Tigor Naenggolan. Kata Tigor, seharusnya Pemprov DKI Jakarta bisa mendapatkan profit dari proyek tersebut, bukan sekadar pembuat regulasi. Pasalnya, bagaimanapun menara itu berada di dalam wilayah Jakarta.
"Kalau yang kebagian hanya Setneg tidak fair. Itu sama saja negara di dalam negara. sebab secara wilayah, Kemayoran sekalipun berada di tangan Setneg, merupakan di dalam wilayah Jakarta. Jadi Pemprov harus terlibat secara aktif dalam setiap proyek di kawasan tersebut," ujar Tigor.
Selain itu, Tigor juga mengaku kurang sepakat jika menara tersebut dianggap punya manfaat besar bagi warga Jakarta. Sebab, tambah Tigor, pembangunan menara itu tidak terkait langsung dengan masyarakat.
"Saya pikir, akan lebih baik jika investasi triliunan rupiah untuk bangun menara digunakan untuk pembangunan ekonomi yang bermanfaat langsung kepada masyarakat," cetusnya.
Tigor juga menilai, pembangunan Menara Jakarta lebih cenderung mengejar nilai prestisius, bukan untuk peningkatan pembangunan. Sebab gagasan tersebut mulai tercetus pada masa orde baru. Saat itu Soeharto berkeinginan membuat menara yang tersohor seperti Petronas di Malaysia.
Namun niat tersebut tidak kesampaian karena krisis ekonomi dan Soeharto sendiri keburu lengser. Nah, di era reformasi niat tersebut direalisasikan kembali oleh konglomerat yang sama, yakni Prajogo Pangestu dan Henri Pribadi.
Namun proyek tersebut tetap saja terlunta-lunta. Alhasil baru tahun depan proyek ini akan kembali berjalan secara bertahap dan akan rampung pada 2012.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Minggu, 27/05/2012 12:45 WIB
Kisah Hasidah di Pulau Terluar Indonesia, 1 Rumah 2 Negara
-
Minggu, 27/05/2012 13:23 WIB
Komisi III DPR: Konser Lady Gaga Batal Terganjal Persyaratan
-
Minggu, 27/05/2012 11:14 WIB
Konser Lady Gaga Batal!
-
Minggu, 27/05/2012 11:40 WIB
Konser Batal, Refund Tiket Lady Gaga 100 Persen
-
559 Komentar
-
288 Komentar
-
254 Komentar
-
224 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
