FPG Kecewa Pelarangan Pembangunan Menara Masjid di Swiss
Selasa, 08/12/2009 10:15 WIB
Jakarta
Fraksi Partai Golkar (FPG) menyesalkan pelarangan pembangunan menara masjid di Swiss. FPG menilai tindakan tersebut menunjukkan sikap yang tidak menjunjung tinggi demokrasi dan HAM.
"Kami kecewa dengan hasil referendum itu," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR-RI Ade Komarudin melalui rilis yang dikirim ke detikcom, Selasa (8/12/2009).
Meski kecewa, Ade mengimbau kepada umat muslim Swiss untuk menggunakan jalur dialog agar hasil referendum yang melarang pembangunan menara sebagai bagian masjid itu dicabut. Dialog konstruktif dianggap langkah paling tepat untuk menjelaskan arti pentingnya menara bagi masjid.
"Kami menyarankan kepada masyarakat muslim Swiss untuk terus melakukan dialog lintas agama. Dalam dialog itu dijelaskan betapa pentingnya menara sebagai bagian dari masjid. Melalui dialog yang konstruktif, FPG yakin pelarangan itu pada akhirnya akan dicabut," imbuhnya.
Ade juga berharap agar kasus ini tidak ditiru oleh pemerintah negara-negara Eropa lainnya. "Semoga apa yang terjadi di Swiss tidak menyeret masyarakat dan pemerintah negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa lainnya untuk melakukan hal yang sama," tukasnya.
Ade mengingatkan, agar umat muslim di seluruh dunia tidak reaktif atas hasil referendum tersebut. Justru, lanjut Ade, pelarangan pembangunan menara-tempat di mana azan dikumandangkan, muncul semangat toleransi lintas agama tumbuh dan berkembang pesat secara universal.
"Karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam," jelasnya.
Di tengah-tengah arti pentingnya semangat toleransi, pemerintah Swiss telah melakukan kebijakan kontraproduktif dengan membatasi kegiatan ibadah salah satu agama. "Pelarangan itu muncul di saat di seluruh dunia menyadari betapa pentingnya toleransi, sikap saling menghormati antar satu pemuluk dengan pemeluk agama lain untuk mencipatakan kedamaian. Pelarangan ini juga tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat demokratis yang berlaku secara universal," tandasnya.
Keputusan pelarangan menara masjid dilakukan melalui referendum yang diajukan Partai Rakyat Swiss. Hasilnya, 57,5 persen warga menyatakan dukungan untuk melarang pembangunan menara masjid.
Referendum yang dikeluarkan partai berpaham nasionalis di Swiss ini menyatakan menara masjid merupakan simbol kekuatan politik kaum muslim dan itu dikhawatirkan bisa membuat Swiss berubah menjadi negara muslim.
(ape/nrl)
"Kami kecewa dengan hasil referendum itu," kata Sekretaris Fraksi Partai Golkar DPR-RI Ade Komarudin melalui rilis yang dikirim ke detikcom, Selasa (8/12/2009).
Meski kecewa, Ade mengimbau kepada umat muslim Swiss untuk menggunakan jalur dialog agar hasil referendum yang melarang pembangunan menara sebagai bagian masjid itu dicabut. Dialog konstruktif dianggap langkah paling tepat untuk menjelaskan arti pentingnya menara bagi masjid.
"Kami menyarankan kepada masyarakat muslim Swiss untuk terus melakukan dialog lintas agama. Dalam dialog itu dijelaskan betapa pentingnya menara sebagai bagian dari masjid. Melalui dialog yang konstruktif, FPG yakin pelarangan itu pada akhirnya akan dicabut," imbuhnya.
Ade juga berharap agar kasus ini tidak ditiru oleh pemerintah negara-negara Eropa lainnya. "Semoga apa yang terjadi di Swiss tidak menyeret masyarakat dan pemerintah negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa lainnya untuk melakukan hal yang sama," tukasnya.
Ade mengingatkan, agar umat muslim di seluruh dunia tidak reaktif atas hasil referendum tersebut. Justru, lanjut Ade, pelarangan pembangunan menara-tempat di mana azan dikumandangkan, muncul semangat toleransi lintas agama tumbuh dan berkembang pesat secara universal.
"Karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi sekalian alam," jelasnya.
Di tengah-tengah arti pentingnya semangat toleransi, pemerintah Swiss telah melakukan kebijakan kontraproduktif dengan membatasi kegiatan ibadah salah satu agama. "Pelarangan itu muncul di saat di seluruh dunia menyadari betapa pentingnya toleransi, sikap saling menghormati antar satu pemuluk dengan pemeluk agama lain untuk mencipatakan kedamaian. Pelarangan ini juga tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat demokratis yang berlaku secara universal," tandasnya.
Keputusan pelarangan menara masjid dilakukan melalui referendum yang diajukan Partai Rakyat Swiss. Hasilnya, 57,5 persen warga menyatakan dukungan untuk melarang pembangunan menara masjid.
Referendum yang dikeluarkan partai berpaham nasionalis di Swiss ini menyatakan menara masjid merupakan simbol kekuatan politik kaum muslim dan itu dikhawatirkan bisa membuat Swiss berubah menjadi negara muslim.
(ape/nrl)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
Minggu, 27/05/2012 01:20 WIB
Polsek Duren Sawit Gelar Razia, 14 Pelajar Hendak Tawuran Diamankan
-
Minggu, 27/05/2012 00:58 WIB
Gempa 5,0 SR Guncang Bengkulu
-
Minggu, 27/05/2012 00:50 WIB
Kapal Kargo di Pelabuhan Sunda Kelapa Terbakar
-
Sabtu, 26/05/2012 23:45 WIB
Keluarga Pramugari Henny Korban Sukhoi Dapat Santunan Rp 25 Juta
-
Minggu, 27/05/2012 02:02 WIB
Foke Siap Ikuti Diskusi Interaktif Cagub
-
Minggu, 27/05/2012 00:58 WIB
Gempa 5,0 SR Guncang Bengkulu
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 05:00 WIB
Pelaku Penembak Satpam IPB Sempat Beli Sandal Usai Tinggalkan Motor
-
282 Komentar
-
234 Komentar
-
215 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
