Larang Menara Masjid, Swiss Banjir Kritikan
Selasa, 01/12/2009 11:48 WIB
Ilustrasi
Jenewa
Figur-figur politik Swiss tengah menuai kritikan di dalam dan luar negeri. Ini terkait dengan keputusan untuk melarang pembangunan menara masjid di negeri itu.
Keputusan yang mengejutkan umat muslim itu didasari hasil referendum yang diajukan Partai Rakyat Swiss selama 10 hari dan berakhir kemarin. Hasilnya, 57,5 persen warga menyatakan dukungan untuk melarang pembangunan menara masjid.
Surat kabar Swiss, Le Temps menyebut larangan tersebut sebagai "tanda brutal permusuhan" terhadap muslim yang ditimbulkan oleh ketakutan, fantasi dan ketidakpedulian.
Komunitas muslim di Swiss juga bereaksi. "Kami kaget, kami tidak menduga keputusan ini," kata Abdel Majri, ketua Liga Muslim Swiss seperti dilansir New York Times, Selasa (1/12/2009). "Ini satu langkah menuju Islamophobia di Switzerland dan Eropa pada umumnya," cetusnya.
Menteri Kehakiman Siwss Eveline Widmer-Schlumpf menegaskan, hasil referendum tersebut bukan penolakan atas komunitas, agama dan budaya muslim namun itu menggambarkan ketakutan di kalangan penduduk.
Diakui Widmer-Schlumpf, hasil referendum tersebut tak dapat disangkal merupakan refleksi ketakutan dan ketidakpastian yang ada di kalangan penduduk.
Di luar Swiss, kritikan pun mengalir deras. "Saya sedikit kaget dengan keputusan ini," kata Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner dalam wawancara dengan radio RTL. Dia menyebut keputusan itu "ungkapan intoleransi."
Referendum yang dikeluarkan partai berpaham nasionalis di Swiss ini menyatakan menara masjid merupakan simbol kekuatan politik kaum muslim dan itu dikhawatirkan bisa membuat Swiss berubah menjadi negara muslim. Jajak pendapat usulan melarang menara masjid yang diusung partai terbesar di Swiss ini melibatkan 2,67 juta orang dan hanya empat kanton (negara bagian) dari 26 kanton yang menentang jajak pendapat itu.
"Menara masjid itu simbol kekuatan politik yang lebih kuat jika dibandingkan dengan keharusan berjilbab, keharusan menikah, dan menyunat genital anak perempuan," kata Partai Rakyat Swiss dalam referendumnya.
Pertumbuhan umat muslim di Eropa kian pesat dalam beberapa tahun terakhir ini hingga memaksa beberapa negara merubah hukum dan peraturannya. Di Prancis, ada larangan memakai baju kerudung (burga) bagi wanita muslim. Di beberapa negara bagian Jerman ada larangan bagi para guru muslim mengenakan jilbab saat mengajar.
(ita/iy)
Keputusan yang mengejutkan umat muslim itu didasari hasil referendum yang diajukan Partai Rakyat Swiss selama 10 hari dan berakhir kemarin. Hasilnya, 57,5 persen warga menyatakan dukungan untuk melarang pembangunan menara masjid.
Surat kabar Swiss, Le Temps menyebut larangan tersebut sebagai "tanda brutal permusuhan" terhadap muslim yang ditimbulkan oleh ketakutan, fantasi dan ketidakpedulian.
Komunitas muslim di Swiss juga bereaksi. "Kami kaget, kami tidak menduga keputusan ini," kata Abdel Majri, ketua Liga Muslim Swiss seperti dilansir New York Times, Selasa (1/12/2009). "Ini satu langkah menuju Islamophobia di Switzerland dan Eropa pada umumnya," cetusnya.
Menteri Kehakiman Siwss Eveline Widmer-Schlumpf menegaskan, hasil referendum tersebut bukan penolakan atas komunitas, agama dan budaya muslim namun itu menggambarkan ketakutan di kalangan penduduk.
Diakui Widmer-Schlumpf, hasil referendum tersebut tak dapat disangkal merupakan refleksi ketakutan dan ketidakpastian yang ada di kalangan penduduk.
Di luar Swiss, kritikan pun mengalir deras. "Saya sedikit kaget dengan keputusan ini," kata Menteri Luar Negeri Prancis Bernard Kouchner dalam wawancara dengan radio RTL. Dia menyebut keputusan itu "ungkapan intoleransi."
Referendum yang dikeluarkan partai berpaham nasionalis di Swiss ini menyatakan menara masjid merupakan simbol kekuatan politik kaum muslim dan itu dikhawatirkan bisa membuat Swiss berubah menjadi negara muslim. Jajak pendapat usulan melarang menara masjid yang diusung partai terbesar di Swiss ini melibatkan 2,67 juta orang dan hanya empat kanton (negara bagian) dari 26 kanton yang menentang jajak pendapat itu.
"Menara masjid itu simbol kekuatan politik yang lebih kuat jika dibandingkan dengan keharusan berjilbab, keharusan menikah, dan menyunat genital anak perempuan," kata Partai Rakyat Swiss dalam referendumnya.
Pertumbuhan umat muslim di Eropa kian pesat dalam beberapa tahun terakhir ini hingga memaksa beberapa negara merubah hukum dan peraturannya. Di Prancis, ada larangan memakai baju kerudung (burga) bagi wanita muslim. Di beberapa negara bagian Jerman ada larangan bagi para guru muslim mengenakan jilbab saat mengajar.
(ita/iy)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 21:53 WIB
Satu Sekolah Tak Lulus UN, Siswa di Langkat Pingsan
-
Sabtu, 26/05/2012 19:49 WIB
Dua Warga Hilang Terseret Banjir Bandang di Bima
-
Sabtu, 26/05/2012 19:32 WIB
Usai kelulusan UN, Polisi Razia Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru
-
Sabtu, 26/05/2012 19:28 WIB
Dua Tewas Akibat Angin Kencang di Nagan Raya
-
Sabtu, 26/05/2012 19:13 WIB
Satu Pembunuh Wartawan Senior TVRI Ditangkap di Karawang
-
Sabtu, 26/05/2012 19:09 WIB
Mabes TNI: Kalau Ada Mobil Mencurigakan Pakai Pelat TNI, Tanya Saja!
-
Sabtu, 26/05/2012 19:13 WIB
Satu Pembunuh Wartawan Senior TVRI Ditangkap di Karawang
-
Sabtu, 26/05/2012 19:01 WIB
Lagi, Ada Mercy Berpelat TNI Tapi Bukan Mobil Dinas
-
Sabtu, 26/05/2012 21:53 WIB
Satu Sekolah Tak Lulus UN, Siswa di Langkat Pingsan
-
280 Komentar
-
247 Komentar
-
243 Komentar
-
225 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
