detikcom
Kamis, 26/11/2009 17:47 WIB

Khutbah Wukuf Arafah

Labbaik Allahumma Labbaik, Semoga Menjadi Haji Mabrur

M. Rizal Maslan - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - "Labbaik Allahumma Labbaik...Labbaika La Syarika Laka Labbaik," itulah kalimat talbiyah yang selalu dikumandangkan para jamaah haji seantero dunia yang sedang mengelar wukuf di Padang Arafah. Bacaan itu juga yang dikumandangkan hampir 3 juta umat Muslim yang melakukan ibadah haji pada tahun 2009 ini.

Bila kita mendengarkan bacaan itu, khususnya yang sekarang berada di tanah suci untuk memenuhi panggilan Allah menunaikan ibadah haji ke Baitullah (Rumah Allah), maka hati akan bergetar sembari meneteskan air mata. Sebab, ibadah haji adalah takdir dan ketetapan Tuhan yang tidak bisa dielakkan. Pertanyaannya? Mabrurkah ibadah haji kita? Ini yang selalu menggelayuti semua jamaah haji yang sedang wukuf dan menunaikan ibadah wajib haji selama seminggu ini.

Inilah pesan yang disampaikan Naib Amirul Hajj 1430 Hijriah, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, KH Ali Mustafa Yaqub dalam khutbah wukufnya di Padang Arafah, tepatnya di tenda perkemahan jamaah haji Indonesia dalam pelaksanaan Wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, Kamis (26/11/2009).

"Hari ini kita ditakdirkan oleh Allah untuk melakukan wuquf di Arafah sebagai puncak rangkaian ibadah haji. Ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang kelima adalah totalitas ibadah yang mengintegrasikan antara ibadah badaniah (fisik) dan ibadah maliyah (harta). Karenanya, harapan kita, ibadah haji kita semoga mabrur," kata Ali Mustafa mengawali khutbahnya.

Menurut Ali, ibadah haji yang mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Lebih konkrit Imam Al-Nawawi ( Wafat 676 H) mengatakan, ibadah haji yang mabrur adalah ibadah haji yang tidak tercampur sedikit pun oleh dosa. Karenanya, di samping amalan-amalan haji atau yang lazim disebut manasik itu harus dikerjakan dengan sempurna sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW, untuk mencapai haji mabrur harus dipenuhi syarat-syarat dan etika haji.

Pertama, lanjut Ali, uang yang dipakai untuk ongkos naik haji (ONH) harus benar-benar uang yang halal, bukan uang yang haram. Maksudnya uang yang diperoleh dengan usaha atau cara-cara yang halal, sedangkan uang yang haram adalah uang yang dihasilkan dengan usaha atau cara-cara yang haram.

"Hal itu karena sebenarnya, seperti disebutkan dalam disiplin Ilmu Ushul Fiqh, tidak terdapat istilah uang halal atau uang haram, sebab halal atau haram itu tidak berkaitan dengan materi, melainkan berkaitan dengan perbuatan," jelasnya.Next

Halaman 1 2

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(zal/yid)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Biarkan Ahok Pilih Pendampingnya Pimpin DKI

Siapa bakal pendamping Plt Gubernur DKI Ahok? Masih menjadi pro kontra antara parpol di DPRD DKI dan Kemendagri. Kemendagri memastikan Plt Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok menjadi Gubernur menggantikan Joko Widodo. Setelah diberhentikan sebagai Wagub dan Plt Gubernur dan diangkat menjadi Gubernur, Ahok bisa memilih dua orang untuk menjadi wakilnya. Bila Anda setuju dengan Kemendagri, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%