Korban UN
Indah Trauma, Sekolah 3 Tahun Hanya Ditentukan 1 Mata Pelajaran
Rabu, 25/11/2009 23:35 WIB
Ilustrasi
Jakarta
Trauma. Itu yang dirasakan Indah Kusumaningrum (21) saat tahun 2006 lalu diberitahu dirinya tidak lulus Ujian Nasional (UN). Bagaimana tidak, hanya gara-gara 1 mata pelajaran saja, dirinya dinyatakan tak lulus dan tak mendapat ijazah SMA yang diimpikannya.
Padahal, di dua mata pelajaran lainnya, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, gadis berambut panjang ini mendapatkan nilai lumayan, 8. Nilai itu jauh di atas standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah saat itu, 4,26.
"Saya jatuh di mata pelajaran matematika, dapat 4. Hanya selisih sedikit, nol koma," ujar Indah saat 'Syukuran Kemenangan Gugatan UN' di Kantor LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (25/11/2009).
Indah tak langsung tahu bahwa dirinya tak lulus. Hasil kelulusan yang dikirmkan ke rumah tak kunjung tiba sampai malam. Padahal beberapa temannya sudah menerima hasil di hari pengumuman kelulusan. Para guru yang dicoba dihubungi pun tak ada yang membuka mulut. Akhirnya berita buruk itu didapat setelah orang tuanya menelepon kepala sekolah malam itu juga.
"Shock, kaget. Sekelas yang tak lulus cuma 2 orang, saya dan teman saya lainnya," tutur alumni SMA PSKD 7 Depok jurusan IPA itu. Padahal, selama 3 tahun menempuh pendidikan di SMA, Indah mengaku selalu masuk 10 besar. Tak pernah luput sekalipun. Dan untuk mempersiapkan diri dalam UN, Indah mengikuti bimbingan belajar setahun sebelumnya, atau sejak naik ke kelas 3 SMA.
Bukan hanya satu nilai mata pelajaran yang hanya selisih sedikit dari standar nilai pemerintah itu saja yang membuat dia gemas. Belakangan dia mengetahui, banyak teman-temannya yang memiliki nilai sedikit di atas standar di tiga mata pelajaran itu malah lulus. Ini membuat dirinya 'mutung'.
"Teman-temanku banyak yang nilai tiga mata pelajarannya 5 tapi lulus. Nilaiku yang 8 ada dua, cuma satu yang 4, nggak lulus. Ya, yang nilainya 8 jadi percuma. Buat apa belajar keras-keras di 2 mata pelajaran itu, nilai bagus-bagus kalau tak ada gunanya," kenang Indah dengan kecewa.
Akhirnya, Indah pun mengikuti kursus privat untuk mengejar ujian Kejar Paket C pada 2 bulan setelahnya. Hasilnya, matematikanya mendapatkan nilai 9, dan mata pelajaran lainnya mendapatkan nilai 7. Masalah tak lantas selesai, formulir ujian masuk Universitas Indonesia (UI) yang dibeli dengan harga Rp 350 ribu pun sia-sia.
"Karena saat itu UI tak menerima ijazah Kejar Paket C," ujar Indah.
Beberapa universitas swasta pun ada yang menolaknya. Setelah mencari-cari informasi mengenai sekolah di universitas, Indah pun diterima di program D3 Manajemen Keuangan YAI, Kramat Raya. Kini, dia pun telah lulus dari universitas itu, tepat 3 tahun.
"IPK terakhir saya 3,5 dan sekarang sedang mencari kerja. Saya ingin membuktikan, bahwa tak lulus UN bukan berarti tak mampu di universitas," ujar Indah.
Perjuangan Indah ini, didukung oleh orang tuanya, Kristiono (50) yang saat mendengar Indah tak lulus UN langsung meminta bantuan kepada LBH Jakarta. Hingga akhirnya ada sekitar 58-an orang korban UN mengajukan citizen law suit kepada pemerintah pada tahun 2006 lalu. Hingga akhirnya Mahkamah Agung (MA) memutuskan berpihak pada para penggugat ini 14 September 2009 lalu.
"Saat itu saya pusing, karena dua anak saya yang menghadapi ujian, satu ujian SMP satu lagi SMA," ujar Kristiono yang mata kanannya tampak dibalut kasa usai operasi katarak 2 hari lalu itu.
Indah pun mencoba bersuara agar pemerintah tak hanya menggunakan UN sebagai satu-satunya syarat lulus. "Bisa nilai UN, plus nilai raport dan nilai kepribadian dan perilaku sehari-hari. Jangan hanya UN saja," tandas Indah yang mulai optimis menatap masa depan ini.
(nwk/ape)
Padahal, di dua mata pelajaran lainnya, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, gadis berambut panjang ini mendapatkan nilai lumayan, 8. Nilai itu jauh di atas standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah saat itu, 4,26.
"Saya jatuh di mata pelajaran matematika, dapat 4. Hanya selisih sedikit, nol koma," ujar Indah saat 'Syukuran Kemenangan Gugatan UN' di Kantor LBH Jakarta, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (25/11/2009).
Indah tak langsung tahu bahwa dirinya tak lulus. Hasil kelulusan yang dikirmkan ke rumah tak kunjung tiba sampai malam. Padahal beberapa temannya sudah menerima hasil di hari pengumuman kelulusan. Para guru yang dicoba dihubungi pun tak ada yang membuka mulut. Akhirnya berita buruk itu didapat setelah orang tuanya menelepon kepala sekolah malam itu juga.
"Shock, kaget. Sekelas yang tak lulus cuma 2 orang, saya dan teman saya lainnya," tutur alumni SMA PSKD 7 Depok jurusan IPA itu. Padahal, selama 3 tahun menempuh pendidikan di SMA, Indah mengaku selalu masuk 10 besar. Tak pernah luput sekalipun. Dan untuk mempersiapkan diri dalam UN, Indah mengikuti bimbingan belajar setahun sebelumnya, atau sejak naik ke kelas 3 SMA.
Bukan hanya satu nilai mata pelajaran yang hanya selisih sedikit dari standar nilai pemerintah itu saja yang membuat dia gemas. Belakangan dia mengetahui, banyak teman-temannya yang memiliki nilai sedikit di atas standar di tiga mata pelajaran itu malah lulus. Ini membuat dirinya 'mutung'.
"Teman-temanku banyak yang nilai tiga mata pelajarannya 5 tapi lulus. Nilaiku yang 8 ada dua, cuma satu yang 4, nggak lulus. Ya, yang nilainya 8 jadi percuma. Buat apa belajar keras-keras di 2 mata pelajaran itu, nilai bagus-bagus kalau tak ada gunanya," kenang Indah dengan kecewa.
Akhirnya, Indah pun mengikuti kursus privat untuk mengejar ujian Kejar Paket C pada 2 bulan setelahnya. Hasilnya, matematikanya mendapatkan nilai 9, dan mata pelajaran lainnya mendapatkan nilai 7. Masalah tak lantas selesai, formulir ujian masuk Universitas Indonesia (UI) yang dibeli dengan harga Rp 350 ribu pun sia-sia.
"Karena saat itu UI tak menerima ijazah Kejar Paket C," ujar Indah.
Beberapa universitas swasta pun ada yang menolaknya. Setelah mencari-cari informasi mengenai sekolah di universitas, Indah pun diterima di program D3 Manajemen Keuangan YAI, Kramat Raya. Kini, dia pun telah lulus dari universitas itu, tepat 3 tahun.
"IPK terakhir saya 3,5 dan sekarang sedang mencari kerja. Saya ingin membuktikan, bahwa tak lulus UN bukan berarti tak mampu di universitas," ujar Indah.
Perjuangan Indah ini, didukung oleh orang tuanya, Kristiono (50) yang saat mendengar Indah tak lulus UN langsung meminta bantuan kepada LBH Jakarta. Hingga akhirnya ada sekitar 58-an orang korban UN mengajukan citizen law suit kepada pemerintah pada tahun 2006 lalu. Hingga akhirnya Mahkamah Agung (MA) memutuskan berpihak pada para penggugat ini 14 September 2009 lalu.
"Saat itu saya pusing, karena dua anak saya yang menghadapi ujian, satu ujian SMP satu lagi SMA," ujar Kristiono yang mata kanannya tampak dibalut kasa usai operasi katarak 2 hari lalu itu.
Indah pun mencoba bersuara agar pemerintah tak hanya menggunakan UN sebagai satu-satunya syarat lulus. "Bisa nilai UN, plus nilai raport dan nilai kepribadian dan perilaku sehari-hari. Jangan hanya UN saja," tandas Indah yang mulai optimis menatap masa depan ini.
(nwk/ape)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Jumat, 25/05/2012 23:10 WIB
Api Lahap SD di Kebon Jeruk, 25 Unit Pemadam Kebakaran Dikerahkan
-
Jumat, 25/05/2012 22:07 WIB
Jika di Posisi SBY, Mahfud MD Tak akan Berikan Grasi untuk Corby
-
Jumat, 25/05/2012 21:41 WIB
Longsor di Gunung Gede Bogor, 8 Penambang Tewas Tertimbun
-
Jumat, 25/05/2012 21:23 WIB
Kejagung Janji Putuskan Nasib Sisminbakum Pekan Depan
-
Jumat, 25/05/2012 20:30 WIB
Komisi II akan Minta Penjelasan Kemendagri Soal Kematian Praja IPDN
-
Jumat, 25/05/2012 12:58 WIB
Ruhut: Selamat dari Insiden Ternate, Anas Harus Berterimakasih kepada Ibas
-
Jumat, 25/05/2012 11:56 WIB
Hotman Paris Anggap Menggelikan Henry Yosodiningrat Gugat Grasi Corby
-
Jumat, 25/05/2012 07:19 WIB
Mabes Janji Usut Porsche Cayenne Berpelat Nomor TNI
-
Jumat, 25/05/2012 13:53 WIB
Dicatut Website Jokowi-Basuki, Najwa Shihab Layangkan Protes
-
275 Komentar
-
242 Komentar
-
234 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
