Kamis, 19/11/2009 13:07 WIB

Jual Vaksin Anti Rabies, RSUD Buleleng Berdalih Lambat Ambil Jatah

Gede Suardana - detikNews
Denpasar - RSUD Buleleng menjual vaksin anti rabies (VAR), yang seharusnya dibagikan secara gratis, seharga Rp 188 ribu kepada dua pasien. Rumah Sakit ini berdalih kehabisan stok VAR karena lambat mengambil jatah ke Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Kasus jual beli VAR di RSUD Buleleng membuat Gubernur Bali Made Mangku Pastika kecewa. Ia pun memerintahkan RSUD Singaraja untuk segera mengambil jatah vaksin anti rabies (VAR) di Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

"RSUD Singaraja memang belum mengambil jatahnya," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Bali Putu Suardhika kepada detikcom, Kamis (19/11/2009).

"Gubernur Bali Made Mangku Pastika merasa kaget mendengar kejadian itu sehingga langsung memerintahkan Kadiskes Bali melakukan pengecekan. Dari hasil pengecekan yang dilakukan,
ternyata, memang benar stok VAR di RSUD Singaraja habis," lanjut Suadhika.

Pernyataan tersebut berbeda dengan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Nyoman Suteja. Menurut Suteja, pihaknya telah memberikan jatah 100 vial VAR kepada RSUD Buleleng pada 5 November 2009. "Kita sudah memberikan jatah ke Buleleng," kata Suteda.

Hal ini terlihat dari proses vaksinasi yang diberikan pihak RSUD Buleleng kepada pasien bocah inisial YG (8) serta pasien seorang nenek.

Kedua pasien ini telah mendapatkan suntikan VAR tahap pertama pada 10 November 2009. Mereka pun dijanjikan akan mendapatkan suntikan VAR tahap kedua pada 17 November 2009 secara gratis. Namun, oleh petugas RSUD Buleleng, mereka disarankan untuk membeli VAR di apotik atau berobat ke RSUP Sanglah, Denpasar. "Kami terpaksa membeli di apotik," kata orangtua YG.

Orang tua YG pun tidak percaya stok VAR di RSUD Buleleng habis. "Kami diminta datang kedua kali untuk disuntik VAR gratis. Saya pikir, stok di rumah sakit pasti ada karena sudah dijadwal untuk datang pada 17 November 2009," ujarnya.

Seperti diketahui Pemprov Bali telah mendistribusikan VAR ke seluruh kabupaten/kota. Kabupaten Badung sebanyak 5.124 vial, RSUP Sanglah (5.052) vial, FK Unud/BBV + Biomol (17 vial), Disnak Bali (42 vial), Denpasar (4.122 vial), RS Polda (40 vial), Tabanan (150 vial), Kabupaten selain Tabanan, Badung dan Denpasar (700 vial) dan stok Dinkes Bali 113 vial. Stok pada Dinkes Bali sudah termasuk jatah RSUD Singaraja yang belum diambil.

Mengantisipasi munculnya kasus baru, Pemprov Bali mengimbau kepada Pemkab/Pemkot se-Bali untuk segera menyiapkan VAR di masing-masing wilayahnya.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(gds/djo)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

16 Kursi Menteri dari Parpol di Kabinet Jokowi Terlalu Banyak

Presiden Terpilih Jokowi telah mengumumkan postur kabinetnya. Jokowi memberi jatah 16 kursi untuk kader parpol. Menurut pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Gun Gun Heryanto, 16 kursi untuk kader parpol ini dinilai terlalu besar, tak sesuai harapan publik. Awalnya publik mengira jatah menteri untuk parpol jauh lebih sedikit. Bila Anda setuju dengan Gun Gun Heryanto, pilih Pro!
Pro
41%
Kontra
59%