Pemerintah Hentikan Pemekaran Wilayah Selama 5 Tahun
Rabu, 11/11/2009 18:49 WIB
Jakarta
Mendagri Gamawan Fauzi mengungkapkan rencananya untuk menghentikan pemekaran wilaya (moratorium) selama dua sampai lima tahun. Pemerintah ingin lebih fokus pada pengembangan wilayah sambil mempersiapkan grand design pemekaran.
"Paling kurang kita break dua tahun, minimal dua tahun tapi kalau boleh lima tahun. Jadi kabinet sekarang berhentilah moratorium. Benahi dulu, supaya kita susun juga grand design itu," kata Gamawan.
Hal ini disampaikan Gamawan dalam Rapat Kerja antara Komisi II DPR dengan Mendagri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/11/2009).
Menurut Gamawan, masih banyak hal yang harus diperhatikan ketimbang sekedar pemekaran. Daerah yang sudah dimekarkan perlu dikembangkan.
"Kita bahas ini, kalau kita cenderung moratorium. Kerja kita nanti pemekaran-pemekaran terus. Yang ini belum terbenahi batas belum jelas," papar Gamawan.
Kalau dipaksakan dimekarkan, lanjut Gamawan, akan menjadikan pemerintahan tidak efektif. Mengingat banyaknya pegawai yang tidak kompeten di wilayah baru. "Nanti jangan-jangan 2D jadi eselon dua. Memberi ijin salah itu, kan rugi, kesejahteraan rakyat bisa terganggu," imbuh Gamawan.
Terlebih dari itu, menurut Gamawan, hasil audit BPK juga tidak memuaskan. Daerah yang sudah dimekarkan pun bisa saja digabung kembali. "Ini kan baru tahun pertama dievaluasi. Tahun pertama itu diketahui hasil pemeriksaan BPK bahwa 83 persen keuangannya buruk," keluh Gamawan.
(van/yid)
"Paling kurang kita break dua tahun, minimal dua tahun tapi kalau boleh lima tahun. Jadi kabinet sekarang berhentilah moratorium. Benahi dulu, supaya kita susun juga grand design itu," kata Gamawan.
Hal ini disampaikan Gamawan dalam Rapat Kerja antara Komisi II DPR dengan Mendagri di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/11/2009).
Menurut Gamawan, masih banyak hal yang harus diperhatikan ketimbang sekedar pemekaran. Daerah yang sudah dimekarkan perlu dikembangkan.
"Kita bahas ini, kalau kita cenderung moratorium. Kerja kita nanti pemekaran-pemekaran terus. Yang ini belum terbenahi batas belum jelas," papar Gamawan.
Kalau dipaksakan dimekarkan, lanjut Gamawan, akan menjadikan pemerintahan tidak efektif. Mengingat banyaknya pegawai yang tidak kompeten di wilayah baru. "Nanti jangan-jangan 2D jadi eselon dua. Memberi ijin salah itu, kan rugi, kesejahteraan rakyat bisa terganggu," imbuh Gamawan.
Terlebih dari itu, menurut Gamawan, hasil audit BPK juga tidak memuaskan. Daerah yang sudah dimekarkan pun bisa saja digabung kembali. "Ini kan baru tahun pertama dievaluasi. Tahun pertama itu diketahui hasil pemeriksaan BPK bahwa 83 persen keuangannya buruk," keluh Gamawan.
(van/yid)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 12:41 WIB
Mayat Penuh Luka Ditemukan Terapung di Sungai Sei Putih
-
Sabtu, 26/05/2012 12:35 WIB
Polisi Imbau Pelajar di Jakarta Tak Konvoi Usai Kelulusan
-
Sabtu, 26/05/2012 12:32 WIB
Coret Baju dan Konvoi Sepeda Motor Ramaikan Kelulusan SMA di Yogya
-
Sabtu, 26/05/2012 12:17 WIB
Corby Diberi Grasi, Bagaimana dengan Ekstradisi Adrian Kiki?
-
Sabtu, 26/05/2012 12:13 WIB
Menkum: Apa yang Mereka Lakukan untuk WNI yang Dibui di Luar Negeri?
-
Sabtu, 26/05/2012 12:16 WIB
Lagi, Pesawat Tak Berawak AS Tewaskan 4 Militan di Pakistan
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 12:13 WIB
Menkum: Apa yang Mereka Lakukan untuk WNI yang Dibui di Luar Negeri?
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
