Antasari Jelaskan Testimoninya Soal Dugaan Suap Pimpinan KPK
Minggu, 08/11/2009 16:37 WIB
Jakarta
Mantan Ketua KPK Antasari Azhar menjelaskan testimoninya mengenai dugaan suap yang diterima oknum pimpinan KPK dari Direktur PT Masaro Radiokom Anggoro Widjojo. Ini merupakan penjelasan Antasari untuk pertama kalinya setelah diam karena berada di tahanan.
"Ini untuk tidak menjadikan bermacam-macam persepsi di publik yang sudah seperti melihat gajah dalam gelap. Ini saya mau luruskan," kata Antasari usai diperiksa Tim 8 di Kantor Watimpres, Jl Veteran III, Jakarta Pusat (8/11/2009).
Antasari bercerita, sekitar bulan Oktober 2008, dirinya mendapat informasi bahwa penanganan kasus yang melibatkan PT Masaro mungkin tidak berlanjut. Sebab, ada indikasi suap untuk menyetop kasus tersebut di lembaga antikorupsi yang dipimpinnya.
"Saya menyikapi itu dengan serius, karena begitu cintanya saya kepada KPK. Saya berangkat ke Singapura untuk mendengar testimoninya Anggoro. Dia bercerita bla, bla, bla, seolah-oleh yakin sudah ada suap," kata Antasari.
Sebagai penegak hukum, lanjut Antasari, dia merasa keterangan Anggoro itu bukan bukti, karena satu alat bukti belum merupakan bukti. Karena itu, dia menemui Ari Muladi yang sedang berada di Malang, Jawa Timur (Jatim). Ari lantas membeberkan perincian uang yang masuk ke KPK.
"Dia (Ari) menjelaskan rinciannya. Tapi saya belum yakin, karena saya lihat di KPK kasus Masaro masih penyelidikan," jelas mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung) ini.
Pada saat dia berupaya mendalami kasus suap tersebut, menurut Antasari, dia dinyatakan tersangka dan ditahan oleh Polda Metro Jaya dalam kasus pembunuhan. Pada saat menyidik kasus tersebut, polisi menyita laptopnya dan menemukan bukti rekaman pembicaraannya dengan Anggoro saat di Singapura.
"Penyidik bertanya, bukti itu konteksnya apa? Kemudian saya memberi penjelasan, maka saya bikin testimoni. Jadi testimoni itu atas testimoninya Anggoro," cetus pria yang mengenakan batik warna biru ini.
Menurut Antasari, wajar apabila penyidik ingin menindaklanjuti temuan adanya dugaan suap kepada oknum pimpinan KPK setelah menemukan bukti rekaman itu. Hingga kemudian prosesnya berlanjut dengan dia membuat laporan kepada polisi.
"Karena itu dugaan korupsi, saya pikir wajar-wajar saya penyidik ingin menindaklanjuti. Kemudian prosesnya berlanjut sampai kami bikin laporan," papar Antasari yang didampingi oleh tim pengacaranya ini.
(irw/nrl)
"Ini untuk tidak menjadikan bermacam-macam persepsi di publik yang sudah seperti melihat gajah dalam gelap. Ini saya mau luruskan," kata Antasari usai diperiksa Tim 8 di Kantor Watimpres, Jl Veteran III, Jakarta Pusat (8/11/2009).
Antasari bercerita, sekitar bulan Oktober 2008, dirinya mendapat informasi bahwa penanganan kasus yang melibatkan PT Masaro mungkin tidak berlanjut. Sebab, ada indikasi suap untuk menyetop kasus tersebut di lembaga antikorupsi yang dipimpinnya.
"Saya menyikapi itu dengan serius, karena begitu cintanya saya kepada KPK. Saya berangkat ke Singapura untuk mendengar testimoninya Anggoro. Dia bercerita bla, bla, bla, seolah-oleh yakin sudah ada suap," kata Antasari.
Sebagai penegak hukum, lanjut Antasari, dia merasa keterangan Anggoro itu bukan bukti, karena satu alat bukti belum merupakan bukti. Karena itu, dia menemui Ari Muladi yang sedang berada di Malang, Jawa Timur (Jatim). Ari lantas membeberkan perincian uang yang masuk ke KPK.
"Dia (Ari) menjelaskan rinciannya. Tapi saya belum yakin, karena saya lihat di KPK kasus Masaro masih penyelidikan," jelas mantan Kapuspenkum Kejaksaan Agung (Kejagung) ini.
Pada saat dia berupaya mendalami kasus suap tersebut, menurut Antasari, dia dinyatakan tersangka dan ditahan oleh Polda Metro Jaya dalam kasus pembunuhan. Pada saat menyidik kasus tersebut, polisi menyita laptopnya dan menemukan bukti rekaman pembicaraannya dengan Anggoro saat di Singapura.
"Penyidik bertanya, bukti itu konteksnya apa? Kemudian saya memberi penjelasan, maka saya bikin testimoni. Jadi testimoni itu atas testimoninya Anggoro," cetus pria yang mengenakan batik warna biru ini.
Menurut Antasari, wajar apabila penyidik ingin menindaklanjuti temuan adanya dugaan suap kepada oknum pimpinan KPK setelah menemukan bukti rekaman itu. Hingga kemudian prosesnya berlanjut dengan dia membuat laporan kepada polisi.
"Karena itu dugaan korupsi, saya pikir wajar-wajar saya penyidik ingin menindaklanjuti. Kemudian prosesnya berlanjut sampai kami bikin laporan," papar Antasari yang didampingi oleh tim pengacaranya ini.
(irw/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 11:57 WIB
Pria Korban Penganiayaan Ditemukan Tewas di Tambak
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 10:39 WIB
Isu Pencapresan Ani Yudhoyono Tunjukkan PD Tak Solid
-
Sabtu, 26/05/2012 10:38 WIB
Presiden SBY Jalan Santai di Borobudur
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 10:32 WIB
Ini Kronologi Penembakan 2 Satpam IPB oleh Maling Motor
-
Sabtu, 26/05/2012 10:22 WIB
SBY Diyakini Akan Pegang Ucapannya, Ani Yudhoyono Tak Akan Maju di 2014
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
