detikcom

'Citra' Buaya Merosot, Publik Surabaya Tak Terganggu video foto

Irawulan - detikNews
Rabu, 04/11/2009 14:29 WIB
Surabaya Gara-gara isu 'cicak vs buaya' menguasai publik Indonesia, malang tak dapat ditolak, 'citra' buaya jadi merosot. Namun masyarakat Surabaya, sebagai pemilik julukan Kota Buaya, merasa tidak terganggu dengan itu semua.

"Tidak akan berpengaruh pada Warga Surabaya meski buaya adalah lambang atau logo. Tidak mungkin kita mengganti lambang hanya karena buaya konotasinya negatif," kata Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Rabu (4/11/2009).

Surabaya identik dengan legenda ikan Suro dan Boyo (buaya). Pertarungan antara kedua hewan itu dimonumenkan dalam bentuk Tugu Suro dan Boyo di depan Kebun Binatang Surabaya.

Menurut Arif, jika buaya diistilahkan untuk laki-laki mungkin konotasinya negatif. Tapi jika diistilahkan dalam bentuk lambang atau logo Kota Surabaya bisa diistilahkan
sebagai keberanian dan konotasinya adalah positif.

Cak Kandar, seniman asal Surabaya, juga punya pendapat serupa. Karena menurut dia lambang orang Surabaya adalah kepahlawanan. "Tidak ada pengaruhnya ke masyarakat. Baru akan berpengaruh jika jiwa kepahlawanan itu hilang," tandasnya.

Cak Kandar mengatakan istilah cicak dan buaya adalah istilah yang dibuat kalangan atas untuk menyatakan power."Itu kan istilah yang dibuat oleh kalangan elit untuk menyatakan kekuatan dengan lembaga lainnya," pungkasnya.

(wln/nrl)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel