Detik.com News
Detik.com

Minggu, 18/10/2009 15:11 WIB

Nila Juwita Anfasa Moeleok Calon Menkes?

Luhur Hertanto - detikNews
Nila Juwita Anfasa Moeleok Calon Menkes? foto: Didit/detikcom
Jakarta - Perempuan kedua yang mengikuti 'audisi' calon menteri di Cikeas adalah Nila Juwita Anfasa Moeloek. Nila mengaku diajak bicara soal mengurangi angka kematian ibu, anak, dan pengurangan kemiskinan.

"Tadi Pak Boediono banyak mengatakan capaian MDG's yang harus kita capai pada 2015. Ya kan banyak kalau MDG's antara lain mengurangi angka kematian ibu, angka kematian anak, pengurangan kemiskinan dan lain-lain," ujar Nila kepada wartawan di Cikeas, Minggu (18/10/2009).

Nila yang datang mengenakan baju batik biru hijau ini mengaku belum tahu persis pos kementrian apa yang akan didudukinya. Nila mengaku dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru sebatas calon saja.

"Saya dipanggil ke Cikeas sebagai calon. Detailnya belum, ini masih calon lo," ujarnya yang tampak canggung dikerumuni wartawan.

Nila adalah dokter spesialis mata lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Selain sebagai dokter, Nila tercatat masih sebagai ketua umum Dharma Wanita Pusat. Nila adalah istri mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(Rez/iy)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Senin, 23/02/2015 10:27 WIB
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif
    Komjen Badrodin: Penertiban Internal agar Tak Terjangkit Hedonis-Konsumtif Wakil Kapolri Komjen Badrodin Haiti diusulkan Presiden Jokowi menjadi calon Kapolri. Komjen Badrodin mengakui masih banyak perbaikan yang perlu dilakukan di jajaran Polri. Dia juga dengan besar hati mengakui masih banyak penyimpangan yang perlu ditertibkan. Apa saja?
ProKontra Index »

MA Harus Turun Tangan Setop 'Sarpin Effect'!

Putusan hakim PN Jaksel Sarpin Rizaldi yang memperbolehkan status tersangka jadi materi gugatan praperadilan berpotensi menimbulkan kekacauan hukum di Indonesia. "MA harus menyetop. Segera batalkan putusan Sarpin. Kalau tidak, semua tersangka akan melakukan hal yang sama," jelas FH Unsoed Purwokerto, Prof Dr Hibnu Nugroho. Bila Anda setuju dengan Prof Hibnu, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%