Rabu, 14/10/2009 17:14 WIB

Pragmatisme Politik (Kedangkalan Moral) Pemuda

Abdul Ghopur - detikNews
Halaman 2 dari 4
Tapi, apa lacur. DPR malah menggerogoti uang negara yang sejatinya berasal dari pajak yang dibayarkan oleh rakyat. Demi hidup yang mewah dan kesenangan pribadi mereka menghambur-hamburkan uang rakyat tanpa rasa malu sedikit pun. Tak jarang dari mereka yang terang-terangan melakukan korupsi. Mulai dari proyek pengadaan barang dan jasa, program studi banding ke luar negeri yang banyak menguras kocek negara, sampai praktik jual-beli hukum.

Perilaku elit-elit politik kita makin hari makin memuakkan nurani saja. Tanpa ada
niatan mereka untuk berubah. Kita menyaksikan bagaimana sesama mereka saling "membunuh" dan membuka aib sesama. Mereka terus berebut kue kekuasaan yang menggerus nurani dan akal sehat mereka. Demi kekuasaan yang sesaat mereka rela mengebiri dan mengorbankan apa saja. Termasuk hak rakyat kecil untuk hidup layak. Sementara itu perbaikan kehidupan rakyat ditelantarkan begitu saja.

Rakyat dibiarkan miskin dan terlunta-lunta menanti nasibnya yang tak kunjung pasti. Kemakmuran dan kesejahteraan semakin menjauh dari relung kehidupan mereka. Kelaparan karena tak bisa membeli makan, putus sekolah kerana tak punya biaya, menjadi pengemis di jalan hanya demi sesuap nasi menjadi pemandangan rutin yang tak sedap dipandang mata kita.

Tanpa disadari kalau perilaku elit politik kita telah mengimbas di dunia akademik-mahasiswa (aktivis pemuda). Tak sedikit dari mereka yang "berjuang" di organisasinya masing-masing hanya untuk menjadi anggota dewan yang terhormat. Dengan berpartisipasi menjadi ketua cabang, ketua daerah, sampai menjadi ketua umum organisasinya di tingkat nasional. Kemudian, setelah lulus dari organisasinya
masing-masing, mereka ramai-ramai mencalegkan diri menjadi anggota dewan. Mereka berharap, akan terjadi sebuah transformasi diri dari hidup yang biasa menjadi sejahtera. Dari yang "miskin" menjadi tidak terlalu "miskin".

Harapan akan transformasi diri pribadi inilah telah menanamkan sikap atau mental korup dalam benak anak-anak muda ini. Tanpa disadari bahwa perilaku dan sikap korup sehari-hari sedang mereka jalani.

Banyak contoh kasus sikap pragmatisme yang dilakukan pemuda. Misalnya, tertangkapnya politisi muda kita Al Amin Nasution atas dakwaan korupsi/ suap miliaran rupiah dana alih fungsi lahan. Al Amin merupakan anggota DPR RI dari fraksi PPP dan mantan aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kasus Al-Amin merupakan cerminan pragmatisme seorang mantan aktivis muda yang ingin mentransformasi diri pribadi secara instan tanpa harus bekerja keras.

Contoh lain dari sikap pragmatisme politik pemuda adalah masuknya para mantan aktivis pemuda ke dalam lingkaran kekuasaan. Sederet nama seperti: Andy Arif,
Syahganda Nainggolan, Aam Sapulete, Anas Urbaningrum, Rama Pratama, dan Nusron Wahid, semuanya masuk dalam lingkaran kekuasaan. Next

Halaman 1 2 3 4

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(msh/msh)




Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Minggu, 19/10/2014 19:41 WIB
    Iriana Bicara tentang Gaya, Media Sosial, Burung hingga Diri Sendiri
    Gb Iriana, tidak lama lagi akan menjadi Ibu Negara. Banyak yang penasaran akan sosoknya. Iriana, yang cenderung tak banyak berbicara, kali ini bersedia menjawab pertanyaan. Mulai soal gaya, hobi merawat burung hingga tentang dirinya sendiri. Seperti apa?
ProKontra Index »

Jokowi Harus Dengarkan Informasi KPK agar Ciptakan Kabinet Bersih

KPK mengatakan 43 nama calon menteri yang diberikan Jokowi, setengahnya memiliki rapor merah atau incaran KPK. Pengamat politik dari UGM Ari Dwipayana mengimbau agar Jokowi harus mendengarkan informasi dari KPK tersebut agar dapat menciptakan kabinet yang bersih.Bila Anda setuju dengan Ari Dwipayanya, pilih Pro!
Pro
65%
Kontra
35%