Awal Kisah Kontroversi Klaim Clara Mendaki Puncak Everest
Selasa, 13/10/2009 07:27 WIB
Foto Clara di Puncak Everest yang diragukan
Jakarta
Klaim Clara Sumarwati sebagai wanita Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Gunung Everest menjadi kontroversi. Kisah kontroversi ini sudah terjadi sejak lama sebelum dia dirawat di RS Jiwa (RSJ) Prof dr Soerojo, Magelang. Di banyak kalangan para pendaki gunung, Clara tidak bisa membuktikan bahwa dia mencapai puncak Everest.
Clara yang kini berusia sekitar 45 tahun mengaku berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, 8.848 mdpl, itu pada April 1996. Namun, dia tidak memiliki foto atau dokumentasi saat berada di puncak gunung yang jadi dambaan banyak pendaki itu.
Kisah kontroversi ini sudah menyebar luas, termasuk di media-media internet. Dan kisah ini mengemuka kembali setelah muncul pemberitaan Clara Sumarwati yang dirawat di RSJ.
Serka Asmujiono, prajurit TNI yang anggota Kopassus, merupakan salah seorang yang memiliki cerita tentang Clara. Dia mengaku bahwa di kalangan pendaki gunung, pengakuan Clara menjadi orang Indonesia pertama yang sampai ke puncak Everest memang diragukan, karena tidak ada bukti.
"Yang diperlukan bagi pendaki adalah kejujuran. Meski begitu, saya pribadi sangat bangga terjadap Ibu Clara karena beliau adalah perempuan yang berani mendaki Everest, terlepas beliau sampai puncak atau tidak," ujar Asmujiono, kini berusia 39 tahun, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Asmujiono menyampaikan sebuah cerita mengapa klaim Clara bisa mencapai puncak Everest diragukan. Suatu saat pada tahun 1997, Tim Kopassus bersama Wanadri, Mapala UI, Rakata, RCTI, dan beberapa kelompok pecinta alam lainnya tengah bersiap untuk melakukan ekspedisi Everest. Agar misi itu sukses, segala persiapan dilakukan, termasuk tim meminta kepada Clara berbagi sukses mencapai puncak Everest.
"Namun, meski kami meminta berkali-kali, Ibu Clara tidak pernah mau datang. Kami tidak tahu mengapa Ibu Clara tidak mau menghadiri undangan itu. Padahal Ibu Clara salah satu yang kami andalkan, agar kami juga bisa sukses mendaki puncak Everest," ujar Asmujiono.
Akhirnya tim diberangkatkan, meski gagal menghadirkan Clara saat persiapannya. Asmujiono yang saat itu berumur 25 tahun menjadi salah satu anggota tim.
"Akhirnya, tim kami berangkat ke sana untuk mendaki puncak Everest, sekaligus menelusuri klaim Ibu Clara apakah benar menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Everest. Kami menelusuri ini dengan dilatarbelakangi Ibu Clara yang tidak pernah mau berbagi kisah bagaimana bisa mencapai puncak," ujar dia.
Singkat kata, setelah mencari informasi ke berbagai pihak di Nepal, Asmujiono dan tim mendapat informasi bahwa Clara dan timnya pada 1996 memang mendaki gunung yang berada di Nepal itu. Namun, klaim Clara mencapai puncak Everest diragukan, karena tidak ada bukti.
"Penelusuran teman-teman, Clara memang mendapat sertifikat dari asosiasi pendaki Everest di Nepal. Nama dia tercatat. Namun, pemberian sertifikat itu juga mencatatkan syarat agar Ibu Clara melengkapi bukti-buktinya. Namun, kabarnya Ibu Clara tidak pernah bisa memberikan bukti itu," kata Asmujiono.
Setahu Asmujiono, ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar dicatat sebagai pendaki puncak Everest. Selain mencatat waktu saat di puncak, pendaki juga harus menyerahkan bukti foto dan video di puncak Everest itu. Salah satu tanda puncak Everest adalah tiang segitiga yang menandakan titik paling tinggi.
(asy/nrl)
Clara yang kini berusia sekitar 45 tahun mengaku berhasil mencapai puncak gunung tertinggi di dunia, 8.848 mdpl, itu pada April 1996. Namun, dia tidak memiliki foto atau dokumentasi saat berada di puncak gunung yang jadi dambaan banyak pendaki itu.
Kisah kontroversi ini sudah menyebar luas, termasuk di media-media internet. Dan kisah ini mengemuka kembali setelah muncul pemberitaan Clara Sumarwati yang dirawat di RSJ.
Serka Asmujiono, prajurit TNI yang anggota Kopassus, merupakan salah seorang yang memiliki cerita tentang Clara. Dia mengaku bahwa di kalangan pendaki gunung, pengakuan Clara menjadi orang Indonesia pertama yang sampai ke puncak Everest memang diragukan, karena tidak ada bukti.
"Yang diperlukan bagi pendaki adalah kejujuran. Meski begitu, saya pribadi sangat bangga terjadap Ibu Clara karena beliau adalah perempuan yang berani mendaki Everest, terlepas beliau sampai puncak atau tidak," ujar Asmujiono, kini berusia 39 tahun, saat berbincang-bincang dengan detikcom, Selasa (13/10/2009).
Asmujiono menyampaikan sebuah cerita mengapa klaim Clara bisa mencapai puncak Everest diragukan. Suatu saat pada tahun 1997, Tim Kopassus bersama Wanadri, Mapala UI, Rakata, RCTI, dan beberapa kelompok pecinta alam lainnya tengah bersiap untuk melakukan ekspedisi Everest. Agar misi itu sukses, segala persiapan dilakukan, termasuk tim meminta kepada Clara berbagi sukses mencapai puncak Everest.
"Namun, meski kami meminta berkali-kali, Ibu Clara tidak pernah mau datang. Kami tidak tahu mengapa Ibu Clara tidak mau menghadiri undangan itu. Padahal Ibu Clara salah satu yang kami andalkan, agar kami juga bisa sukses mendaki puncak Everest," ujar Asmujiono.
Akhirnya tim diberangkatkan, meski gagal menghadirkan Clara saat persiapannya. Asmujiono yang saat itu berumur 25 tahun menjadi salah satu anggota tim.
"Akhirnya, tim kami berangkat ke sana untuk mendaki puncak Everest, sekaligus menelusuri klaim Ibu Clara apakah benar menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Everest. Kami menelusuri ini dengan dilatarbelakangi Ibu Clara yang tidak pernah mau berbagi kisah bagaimana bisa mencapai puncak," ujar dia.
Singkat kata, setelah mencari informasi ke berbagai pihak di Nepal, Asmujiono dan tim mendapat informasi bahwa Clara dan timnya pada 1996 memang mendaki gunung yang berada di Nepal itu. Namun, klaim Clara mencapai puncak Everest diragukan, karena tidak ada bukti.
"Penelusuran teman-teman, Clara memang mendapat sertifikat dari asosiasi pendaki Everest di Nepal. Nama dia tercatat. Namun, pemberian sertifikat itu juga mencatatkan syarat agar Ibu Clara melengkapi bukti-buktinya. Namun, kabarnya Ibu Clara tidak pernah bisa memberikan bukti itu," kata Asmujiono.
Setahu Asmujiono, ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi agar dicatat sebagai pendaki puncak Everest. Selain mencatat waktu saat di puncak, pendaki juga harus menyerahkan bukti foto dan video di puncak Everest itu. Salah satu tanda puncak Everest adalah tiang segitiga yang menandakan titik paling tinggi.
(asy/nrl)
Baca Juga
- Pendaki Everest Masuk RSJ
FMI Minta Kontroversi Soal Prestasi Clara Dihentikan - Pendaki Everest Masuk RSJ
Kontroversi Saat Pertama Merah Putih Berkibar di Everest - Pendaki Everest Masuk RSJ
Clara Masih Bermimpi Daki 4 Puncak Gunung Tertinggi Lainnya - Pendaki Everest Masuk RSJ
Keluarga dan Tetangga Menolak Kepulangan Clara
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Kamis, 24/05/2012 19:48 WIB
Siswi SMAN 2 Kuningan Raih Nilai UN Murni Tertinggi
-
Kamis, 24/05/2012 19:25 WIB
Andi Mallarangeng Diperiksa 10 Jam di KPK
-
Kamis, 24/05/2012 19:07 WIB
BNPB: Banjir & Longsor di Balikpapan, 4 Orang Tewas dan Belasan Rumah Rusak
-
Kamis, 24/05/2012 19:02 WIB
Ribuan Polisi Kawal Laga Inter Milan Vs Liga Selection
-
Kamis, 24/05/2012 18:51 WIB
Perebutan Wilayah, Sulbar: Pulau Lari-larian Milik Kami, Harga Mati!
-
Kamis, 24/05/2012 17:55 WIB
Polda: Kiriman Paket Ganja untuk Anak Renny Jayusman Modus Baru
-
Kamis, 24/05/2012 17:46 WIB
Ahli Sebut Pemeran Video Porno Mirip Anggota Dewan
-
Kamis, 24/05/2012 18:14 WIB
Tak Terbukti Bunuh Istri, AKBP Mindo Bebas
-
Kamis, 24/05/2012 16:42 WIB
'Bidadari' Beraksi di Bundaran HI, Lalu Lintas Tersendat
-
699 Komentar
-
259 Komentar
-
238 Komentar
-
227 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 572.000
- Rp 2,801.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
