Siapa Pun Plt Pimpinan KPK Hanya Jadi Tameng Presiden
Rabu, 23/09/2009 07:31 WIB
Jakarta
Siapa pun orang yang ditunjuk SBY sebagai pelaksana tugas (Plt) sementara pimpinan KPK hanya akan menjadi tameng presiden yang turut membiarkan kriminalisasi kewenangan KPK. Tanpa seleksi ketat, siapa pun yang dipilih nantinya sulit untuk diyakini integritas dan independensinya.
Demikian dikatakan anggota Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Wahyudi Djafar saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/9/2009).
"Siapapun orangnya, apakah aktivis antikorupsi atau eks pimpinan KPK yang diminta jadi Plt, hanya akan menjadi tameng presiden yang membiarkan tindakan kriminalisasi kewenangan KPK," kata Wahyudi.
Oleh karena itu, lanjutnya, apapun alasannya Perpu harus ditolak.
Peneliti hukum ICW Febri Diansyah mengatakan, kalapun perpu jadi diterapkan, pimpinan KPK yang bukan Plt harus bertahan. Hal ini diperlukan untuk menjaga sistem dan aturan internal di KPK.
"Jangan biarkan kuda troya mengobrak-abrik jantung pertahanan KPK," pungkasnya.
Lebih lanjut, Febri mengatakan sebaiknya KPK tidak hanya mengirimkan surat kepada Presiden untuk menolak penerbitan Perpu, tetapi juga kepada semua jaringan antikorupsi, baik LSM, mahasiswa ataupun kampus yang pernah kerja sama dengan KPK.
"Agar masyarakat luas mengetahui mereka sedang dipimpin oleh 'pesolek' antikorupsi atau benar-benar oleh pendekar pemberantas korupsi. Hal ini penting dilakukan, agar masyarakat semakin sadar dengan ancaman yang nyata terhadap KPK," tuturnya. (lrn/lrn)
Demikian dikatakan anggota Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Wahyudi Djafar saat berbincang dengan detikcom, Rabu (23/9/2009).
"Siapapun orangnya, apakah aktivis antikorupsi atau eks pimpinan KPK yang diminta jadi Plt, hanya akan menjadi tameng presiden yang membiarkan tindakan kriminalisasi kewenangan KPK," kata Wahyudi.
Oleh karena itu, lanjutnya, apapun alasannya Perpu harus ditolak.
Peneliti hukum ICW Febri Diansyah mengatakan, kalapun perpu jadi diterapkan, pimpinan KPK yang bukan Plt harus bertahan. Hal ini diperlukan untuk menjaga sistem dan aturan internal di KPK.
"Jangan biarkan kuda troya mengobrak-abrik jantung pertahanan KPK," pungkasnya.
Lebih lanjut, Febri mengatakan sebaiknya KPK tidak hanya mengirimkan surat kepada Presiden untuk menolak penerbitan Perpu, tetapi juga kepada semua jaringan antikorupsi, baik LSM, mahasiswa ataupun kampus yang pernah kerja sama dengan KPK.
"Agar masyarakat luas mengetahui mereka sedang dipimpin oleh 'pesolek' antikorupsi atau benar-benar oleh pendekar pemberantas korupsi. Hal ini penting dilakukan, agar masyarakat semakin sadar dengan ancaman yang nyata terhadap KPK," tuturnya. (lrn/lrn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 01:20 WIB
Polsek Duren Sawit Gelar Razia, 14 Pelajar Hendak Tawuran Diamankan
-
Minggu, 27/05/2012 00:58 WIB
Gempa 5,0 SR Guncang Bengkulu
-
Minggu, 27/05/2012 00:50 WIB
Kapal Kargo di Pelabuhan Sunda Kelapa Terbakar
-
Sabtu, 26/05/2012 23:45 WIB
Keluarga Pramugari Henny Korban Sukhoi Dapat Santunan Rp 25 Juta
-
Sabtu, 26/05/2012 23:16 WIB
Satu Orang Tewas Tertimpa Pohon Akibat Angin Kencang di Medan
-
Minggu, 27/05/2012 00:58 WIB
Gempa 5,0 SR Guncang Bengkulu
-
Sabtu, 26/05/2012 05:00 WIB
Pelaku Penembak Satpam IPB Sempat Beli Sandal Usai Tinggalkan Motor
-
Sabtu, 26/05/2012 01:27 WIB
Duh! Sepasang Pelajar Kedapatan Mesum di Lantai Parkiran Rumah Sakit
-
Sabtu, 26/05/2012 10:59 WIB
Ini Sketsa Wajah Pelaku Penembakan 2 Satpam IPB
-
282 Komentar
-
232 Komentar
-
215 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
