Detik.com News
Detik.com

Jumat, 11/09/2009 17:20 WIB

Proses Peradilan Kasus Tanjung Priok Dilaporkan ke PBB

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews
Jakarta - Proses peradilan kasus Tanjung Priok dilaporkan ke Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Jenewa. Pemerintah dinilai gengsi mengakui kejahatan masa lalu.

"Kami hari ini sudah melaporkan secara langsung kelemahan proses peradilan peristiwa Tanjung Priok kepada PBB. PBB sudah menerima laporannya via email," ujar Ketua Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Yeti.

Yeti mengatakan hal itu dalam jumpa pers memperingati 25 tahun peristiwa Tanjung Priok 1984 yang akan jatuh 12 September besok, di kantor Kontras, Jl Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/9/2009).

Yeti berharap, laporannya bisa direspons dengan hadirnya utusan dari PBB untuk menekan pemerintah Indonesia. Dia juga berharap pemerintah saat ini menaruh perhatian pada kasus Tanjung Priok sesuai janji pada kampanye dahulu.

"Kami meminta pemerintah dapat mengakui kejahatan masa lalu. Ini juga dimaksudkan untuk meminta keadilan bagi kasus-kasus HAM lain," tuturnya.

Kasus Tanjung Priok merupakan tonggak pertama dari kasus HAM di Indonesia. Jika kasus Tanjung Priok ini bisa diselesaikan, maka kasus HAM lainnya pun akan terjangkau.

Kasus Tanjung Priok berawal dari demo masyarakat di Jl Yos Sudarso, Jakarta Utara pada 1984. Saat itu terjadi penembakan oleh aparat terhadap pendemo. Ratusan orang tewas ditembak namun data dari kelurga korban sebanyak 80 orang tewas.

Pemerintah saat itu menyatakan ada islah antara korban dan pelaku sehingga korban mencabut kesaksian di persidangan. Namun keluarga korban mengatakan islah merupakan istilah pemerintah terhadap penyuapan yang dilakukan. Pemerintah tidak pernah minta maaf, memberikan penggantian dan juga merehabilitasi korban.

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(nik/iy)


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Jumat, 17/04/2015 20:40 WIB
    Wawancara
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat
    Luhut Panjaitan: Persiapan KAA Super Singkat Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai penanggung jawab peringatan 60 tahun KAA. Hanya tersedia waktu kurang lebih 6 minggu bagi panitia untuk mengadakan persiapan.
ProKontra Index »

Jokowi Presiden Pilihan Rakyat, Bukan Presiden Partai!

Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri mengungkap hukum demokrasilah yang mengatur presiden dan wapres ikut garis politik partai. Namun pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio membantah pernyataan Mega, karena presiden adalah pilihan rakyat, bukan presiden partai. Bila Anda setuju dengan pendapat Hendri Satrio, pilih Pro!
Pro
95%
Kontra
5%