detikcom

Selasa, 08/09/2009 21:18 WIB

Terbentur Aturan, Kejaksaan Tak Bisa Pidanakan Syamsul Nursalim

Novia Chandra Dewi - detikNews
Jakarta - Desakan agar kasus dugaan korupsi BLBI di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) dengan tersangka Syamsul Nursalim untuk dilanjutkan ke gugatan pidana terbentur aturan. Kejaksaan pun mengaku tidak bisa lagi melakukan penyidikan yang melibatkan konglomerat itu.

"Tidak ada celah untuk pidana, karena terbentur undang-undang," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendy di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta, Selasa (8/9/2009).

Menurut Marwan, alasan inilah sehingga pihaknya menyerahkan berkas kasus Syamsul untuk dikaji oleh bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejagung. Dari hasil kajian tersebut, kemudian diketahui ada utang obligor BLBI ini yang belum dilunasi sebesar Rp 4,758 triliun.

"Jamdatun berpendapat ini masalah perdata. Tindak lanjut (wanprestasi Rp 4,758 triliun) nanti terserah Jamdatun dan Menteri Keuangan. Kalau pidanannya sudah selesai tidak ada lagi," jelasnya.

Benturan aturan tersebut, menurut Marwan, adanya aturan Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), ketetapan MPR dan Inpres. Adanya pembuktian perdata pun, tambah Marwan, tidak serta merta bisa dijadikan sebagai dasar untuk menyeret kasus ini pada gugatan pidana.

"Di situlah letaknya maka pidana tidak bisa masuk. Kecuali undang-undang mengamanatkan lain, kita kan tidak bisa menentang UU. Jadi tidak ada celah untuk pidana. Dinding ini, dinding Tap MPR, Undang-undang dan Inpres. Kalau itu tidak ada, tidak ada persoalan sebenarnya," ungkapnya.

Saat kasus ini disidik Kejagung di era Jampidsus Kemas Yahya Rahma, jumlah uang tersebut tidak terungkap. Namun, Marwan mengatakan, pidana yang melibatkan jaksa Urip Tri Gunawan atas kasus BLBI tidak ada kaitannya dan tidak bisa dijadikan fakta hukum.

"Tidak, dia (syamsul Nursalim) sudah ada release and discharge karena sudah ada perhitungan appraisal. Dia sudah serahkan asetnya. Kalau ternyata nanti aset kurang, tetap dilakukan penyelesaian secara out of court seatlement," pungkasnya.

Syamsul sebelumnya diwajibkan membayar sebesar Rp 28,408 trliliun atas kucuran kredit BI ke BDNI. Namun, Syamsul kemudian hanya membayar secara tunai Rp 1 triliun. Sisanya dibayar dengan aset pribadinya yang setelah dihitung dalam perhitungan appraisal dan mencapai Rp 22,65 triliun.

Selisih Rp 4,758 kemudian dibayarkannya dalam bentuk hak tagih. Namun utang ini belum dibayarkannya sehingga Kejagung meminta Menkeu menggugat secara perdata.

Mulai hari anda dengan informasi aneka peristiwa penting dan menarik di "Reportase Pagi" pukul 04.00 - 05.30 WIB hanya di Trans TV

(nov/irw)


Setelah eksekusi 6 terpidana mati narkoba, dua negara menarik duta besarnya. Bagaimana perkembangan terkini? Simak di sini.


Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
  • Selasa, 27/01/2015 16:57 WIB
    Menteri Yohana Yembise: Kekerasan Anak Akibat Nikah Muda
    Gb Bagi Yohana Susana Yembise, jabatan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak adalah kepercayaan sekaligus menjadi simbol perjuangan atas dominasi adat di Papua, yang umumnya didominasi laki-laki. Yohana juga mengkhawatirkan tingkat kekerasan anak yang makin memprihatinkan.
ProKontra Index »

Jika Presiden Jokowi Berhentikan BW, BG Juga Harus Dinonaktifkan

Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto (BW) mengajukan berhenti sementara karena menjadi tersangka di Polri. Menurut peneliti ICW, Donal Fariz, bila Presiden nanti menerima pengunduran diri BW, maka Presiden juga harus menonaktifkan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon Kapolri. Apalagi kasus yang menjerat Komjen BG lebih krusial, yakni korupsi dibanding kasus yang menjerat BW, pidana biasa. Bila Anda setuju dengan Donal Fariz, pilih Pro!
Pro
75%
Kontra
25%