detikcom
QuickCount Persentase Sampel
  • 6,90%
  • 9,20%
  • 6,90%
  • 18,90%
  • 14,30%
  • 11,80%
  • 9,70%
  • 7,50%
  • 6,70%
  • 5,40%
  • 1,60%
  • 1,10%
  • Last Updated : Kamis, 10 April 2014 18:39 , Sumber : Cyrus Network dan CSIS
  • 6.67%
  • 9.44%
  • 6.61%
  • 18.65%
  • 14.86%
  • 11.40%
  • 10.26%
  • 7.60%
  • 6.52%
  • 5.41%
  • 1.60%
  • 0.97%
  • Last Updated : Rabu, 16/04/2014 11:28 , Sumber : Radio Republik Indonesia
Selasa, 08/09/2009 21:18 WIB

Terbentur Aturan, Kejaksaan Tak Bisa Pidanakan Syamsul Nursalim

Novia Chandra Dewi - detikNews
Jakarta - Desakan agar kasus dugaan korupsi BLBI di Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) dengan tersangka Syamsul Nursalim untuk dilanjutkan ke gugatan pidana terbentur aturan. Kejaksaan pun mengaku tidak bisa lagi melakukan penyidikan yang melibatkan konglomerat itu.

"Tidak ada celah untuk pidana, karena terbentur undang-undang," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Marwan Effendy di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta, Selasa (8/9/2009).

Menurut Marwan, alasan inilah sehingga pihaknya menyerahkan berkas kasus Syamsul untuk dikaji oleh bidang Perdata dan Tata Usaha Negara Kejagung. Dari hasil kajian tersebut, kemudian diketahui ada utang obligor BLBI ini yang belum dilunasi sebesar Rp 4,758 triliun.

"Jamdatun berpendapat ini masalah perdata. Tindak lanjut (wanprestasi Rp 4,758 triliun) nanti terserah Jamdatun dan Menteri Keuangan. Kalau pidanannya sudah selesai tidak ada lagi," jelasnya.

Benturan aturan tersebut, menurut Marwan, adanya aturan Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), ketetapan MPR dan Inpres. Adanya pembuktian perdata pun, tambah Marwan, tidak serta merta bisa dijadikan sebagai dasar untuk menyeret kasus ini pada gugatan pidana.

"Di situlah letaknya maka pidana tidak bisa masuk. Kecuali undang-undang mengamanatkan lain, kita kan tidak bisa menentang UU. Jadi tidak ada celah untuk pidana. Dinding ini, dinding Tap MPR, Undang-undang dan Inpres. Kalau itu tidak ada, tidak ada persoalan sebenarnya," ungkapnya.

Saat kasus ini disidik Kejagung di era Jampidsus Kemas Yahya Rahma, jumlah uang tersebut tidak terungkap. Namun, Marwan mengatakan, pidana yang melibatkan jaksa Urip Tri Gunawan atas kasus BLBI tidak ada kaitannya dan tidak bisa dijadikan fakta hukum.

"Tidak, dia (syamsul Nursalim) sudah ada release and discharge karena sudah ada perhitungan appraisal. Dia sudah serahkan asetnya. Kalau ternyata nanti aset kurang, tetap dilakukan penyelesaian secara out of court seatlement," pungkasnya.

Syamsul sebelumnya diwajibkan membayar sebesar Rp 28,408 trliliun atas kucuran kredit BI ke BDNI. Namun, Syamsul kemudian hanya membayar secara tunai Rp 1 triliun. Sisanya dibayar dengan aset pribadinya yang setelah dihitung dalam perhitungan appraisal dan mencapai Rp 22,65 triliun.

Selisih Rp 4,758 kemudian dibayarkannya dalam bentuk hak tagih. Namun utang ini belum dibayarkannya sehingga Kejagung meminta Menkeu menggugat secara perdata.

Ikuti berbagai berita menarik yang terjadi hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.15 WIB

(nov/irw)


Punya info seputar #LaluLintas? Jangan lupa kirim ke pasangmata.com .

Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
ProKontra Index »

Bagi-bagi Kursi dan Menteri Itu Tidak Baik

Calon presiden PDIP Jokowi bertekad menguatkan sistem presidensial jika nanti terpilih. Jokowi menegaskan koalisi yang dibangunnya bukanlah koalisi bagi-bagi kursi dan jatah menteri. Dia mengatakan, yang akan diajak koalisi adalah partai-partai yang siap bekerja sama membangun bangsa dan negara tanpa meminta jatah kekuasaan. Bila Anda setuju dengan gagasan Jokowi, pilih Pro!
Pro
100%
Kontra
0%