detikcom

Jejak SJ di Kahuripan

Kisah Protes Salawat dan Diulangnya Salat Idul Adha foto

Selasa, 11/08/2009 16:47 WIB
Jakarta Saifuddin Jaelani (SJ) memang dikenal sebagai ustad yang memiliki ilmu tinggi. Namun, dia pernah diprotes saat menjadi khotib salat Jumat. Gara-gara ketelitian SJ, salat Idul Adha di Masjid Raya Telaga Kahuripan juga harus diulang.

Selain menjadi imam di Masjid As Surur di gugus Candraloka, SJ juga diminta menjadi khatib di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Dia juga pernah diminta menjadi penceramah di Masjid At Taubah Taman Ganesha.

Suatu siang di hari Jumat pada 2008 lalu, SJ kebagian giliran menjadi khotib salat Jumat. Seperti biasa dengan khotib lain, setelah mengucapkan salam dan puji-pujian bagi Allah, SJ pun mengucapkan salawat.

"Salawat ini termasuk rukun khutbah. Namun, saat itu SJ mengucapkan salawat tidak seperti lafal biasanya. Jadinya membuat ramai jamaah," kata salah seorang jamaah Masjid Raya Telaga Kahuripan kepada detikcom, Selasa (11/8/2009).

Biasanya bunyi salawat adalah sebagai berikut: Allahumma salli ala Muhammad wa ala alihi wasahbihi ajmain. Namun, SJ saat mengucapkan: 'Allahumma salli ala nabiyyil akhiril zaman'.

Salawat SJ ini cukup membuat geger jamaah. Karena, pada saat itu, ada sejumlah jamaah yang kemudian salat Jumat sendiri, karena tidak yakin bahwa ibadah salat Jumat yang dia lakukan sah.

"Namun, akhirnya geger soal salawat ini bisa diredam. Sejumlah ustad mendatangi rumah SJ untuk klarifikasi. Dan SJ saat itu menyampaikan bahwa dari sisi arti, salawat yang ia sampaikan itu sama. SJ pun meminta maaf. Perkara selesai," ujar dia.

Beberapa hari setelah itu, tibalah Hari Idul Adha 1429 H. Salat Idul Adha sekompleks Telaga Kahuripan disatukan di Masjid Raya Telaga Kahuripan. Kebetulan saat itu, Ketua Yayasan Masjid Raya Telaga Kahuripan Ustad Yusnar menjadi imam salat.

Nah, saat rakaat kedua, Ustad Yunar lupa membaca surat Al Fatihah. Ada beberapa jamaah di shaf bagian depan mengingatkan, namun Ustad Yusnar tidak mendengar. Akhirnya, salat tetap berlanjut hingga salam. Setelah itu, khotib yang didatangkan dari Pondok Pesantren di Parung naik mimbar. Khotib pun memulai khutbah.

Di sinilah peran SJ. Dia kemudian memberitahu kepada takmir masjid bahwa salat Idul Adha yang baru saja dilakukan tidak menggunakan Al Fatihah di rakaat kedua. Menurut SJ, salat tanpa Al Fatihah tidak sah, sehingga harus diulang.

Lantas takmir memberitahu imam bahwa salat harus diulang karena tidak ada bacaan Al Fatihah pada rakaat kedua. Imam setuju dan khotib pun turun mimbar. Imam kemudian memimpin salat Idul Adha untuk kedua kalinya. "Ini sejarah baru di Kahuripan, baru kali ini ada salat Idul Adha diulang," kata seorang warga yang tinggal di Kahuripan sejak tahun 2000.

Begitulah salah satu jejak SJ. Di Kahuripan, dia kenal sebagai penceramah yang handal. Ceramahnya datar-datar saja, tidak menggebu-gebu. "SJ bahkan pernah disandingkan dengan seorang ustad yang sangat jago di sini. SJ bisa mengimbangi," kata seorang jamaah lainnya.

Namun, kesan terhadap SJ yang begitu memesona sirna begitu saja setelah seorang pria berinisial SJ diburu polisi karena terlibat kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton. SJ disebut Kapolri sebagai perekrut Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di JW Marriott. SJ yang dimaksud, adalah Saifuddin Jaelani, yang dekat dengan Dani, remaja berusia 18 tahun.
(asy/nrl)

Share:



Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Lapsus Index »
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel