Sistem Kesehatan Indonesia Sangat Liberal
Kamis, 30/07/2009 17:00 WIB
Jakarta
Sistem kesehatan di Indonesia dinilai sangat liberal dan tak terkontrol. Bahkan, pihak swasta bisa membuat harga sendiri tanpa kontrol dari siapa pun.
"Harusnya pemerintah ikut mengontrol pelayanan kesehatan oleh swasta. Tapi
kenyatannya, siapa yang mengontrol. Mekanisme komplain harus diatur jelas," kata Ketua Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KUIS), Firman Lubis dalam diskusi
RUU Kesehatan di kantor ICW, Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis,
(30/7/2009).
Dengan sistem kesehatan sekarang ini, pengelola swasta bisa memberikan harga terhadap pasien secara sepihak. Selain itu, standar pelayanan pun tak
transparan seperti tata cara memberikan keluhan dan sebagainya.
"Itu harus diatur dalam RUU Kesehatan yang sedang digodok DPR," ujarnya.
Selain kontrol terhadap peran layanan kesehatan oleh masyarakat, menurut dia, RUU harus bisa mengubah paradigma jaminan kesehatan dari paradigma kuratif (pengobatan) menjadi paradigma preventif (pencegahan).
"Jika menggunakan paradigma sekarang, maka yang terjadi adalah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu pemerintah mengobati orang sakit. Itu sangat butuh dana besar dan memboroskan anggaran. Tidak mendidik dan menjadikan ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit. Ini harus diubah menjadi program pencegahan seperti di AS dan Eropa," papar Firman yang juga staff pengajar FK UI ini.
Selain masalah peran negara, RUU juga harus jelas mengatur hubungan dokter
dengan produsen obat. Selama ini, terjadi kolusi antara keduanya sehingga
masyarakat dirugikan dengan harga obat yang tak terkontrol. "Harus dipisahkan tegas antara keduanya," kata dia.
Berbeda dengan UU 23/2003, RUU ini juga akan mengatur aborsi yang
kontroversial. Di RUU ini mengatur peran tokoh agama untuk menentukan
seorang ibu boleh diaborsi atau tidak.
Jika aturan ini dimasukan, lanjut dia, maka akan menjadi permasalahn baru tentang siapa lembaga agama tersebut. "Kalau peraturan sebelumnya, hanya ada 2 yaitu dokter dan psikolog. Kalau ada lembaga agama, siapa dia," kata Firman.
(asp/aan)
"Harusnya pemerintah ikut mengontrol pelayanan kesehatan oleh swasta. Tapi
kenyatannya, siapa yang mengontrol. Mekanisme komplain harus diatur jelas," kata Ketua Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KUIS), Firman Lubis dalam diskusi
RUU Kesehatan di kantor ICW, Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis,
(30/7/2009).
Dengan sistem kesehatan sekarang ini, pengelola swasta bisa memberikan harga terhadap pasien secara sepihak. Selain itu, standar pelayanan pun tak
transparan seperti tata cara memberikan keluhan dan sebagainya.
"Itu harus diatur dalam RUU Kesehatan yang sedang digodok DPR," ujarnya.
Selain kontrol terhadap peran layanan kesehatan oleh masyarakat, menurut dia, RUU harus bisa mengubah paradigma jaminan kesehatan dari paradigma kuratif (pengobatan) menjadi paradigma preventif (pencegahan).
"Jika menggunakan paradigma sekarang, maka yang terjadi adalah Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yaitu pemerintah mengobati orang sakit. Itu sangat butuh dana besar dan memboroskan anggaran. Tidak mendidik dan menjadikan ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit. Ini harus diubah menjadi program pencegahan seperti di AS dan Eropa," papar Firman yang juga staff pengajar FK UI ini.
Selain masalah peran negara, RUU juga harus jelas mengatur hubungan dokter
dengan produsen obat. Selama ini, terjadi kolusi antara keduanya sehingga
masyarakat dirugikan dengan harga obat yang tak terkontrol. "Harus dipisahkan tegas antara keduanya," kata dia.
Berbeda dengan UU 23/2003, RUU ini juga akan mengatur aborsi yang
kontroversial. Di RUU ini mengatur peran tokoh agama untuk menentukan
seorang ibu boleh diaborsi atau tidak.
Jika aturan ini dimasukan, lanjut dia, maka akan menjadi permasalahn baru tentang siapa lembaga agama tersebut. "Kalau peraturan sebelumnya, hanya ada 2 yaitu dokter dan psikolog. Kalau ada lembaga agama, siapa dia," kata Firman.
(asp/aan)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 16:21 WIB
Keluarga Korban Sukhoi Belum Dikontak Soal Asuransi
-
Sabtu, 26/05/2012 16:19 WIB
Panic Button Bagi Minimarket di Jakarta Masih Dalam Tahap Uji Coba
-
Sabtu, 26/05/2012 16:07 WIB
Ini Dia Hasil UN SMA di DKI Jakarta
-
Sabtu, 26/05/2012 16:00 WIB
Avanza Terguling di Tol Jagorawi, Sopir Luka Ringan
-
Sabtu, 26/05/2012 15:43 WIB
Cerita Buyung Soal Kepemimpinan SBY yang Unik
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
Sabtu, 26/05/2012 14:20 WIB
Sebanyak 53.401 Siswa Lulus SNMPTN 2012 Jalur Undangan
-
Sabtu, 26/05/2012 13:53 WIB
Menjarah Toko, Putri Jutawan Inggris Dipenjara 2 Tahun
-
Sabtu, 26/05/2012 15:08 WIB
Usai Rapimnassus, Kader Golkar yang Tak Dukung Ical akan Dipecat
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
237 Komentar
-
214 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,847.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
