Sketsa Pemilu 2009
Menyoal Keterlibatan Lembaga Asing
Selasa, 21/07/2009 21:55 WIB
Jakarta
Ada kegiatan-kegiatan penyelenggaraan pemilu yang tidak boleh disentuh oleh pihak lain. Jika KPU tidak memahami soal ini, maka independensinya dipertanyakan.
"Tidak ada makan siang gratis." Sama dengan IMF, World Bank, ADB, dan lain-lain, negara/lembaga asing yang menyalurkan dana hibah ke Indonesia juga ingin mendapatkan imbalan. Setidaknya, mereka ingin mendapatkan data-data dan hasil analisis atas bidang yang mendapat kucuran dana.
Negara/lembaga donor ingin mengetahui lebih banyak tentang negara/masyarakat yang dibantunya. Informasi yang berupa data atau hasil analisis itu diperlukan untuk pengambilan kebijakan negara/lembaga bersangkutan. Pengambilan kebijakan itu bisa positif bisa juga negatif, tergantung dari mana kita menilainya.
Jika kita percaya bahwa negara/lembaga asing itu punya komitmen untuk mengembangkan demokrasi lewat bantuannya, maka kita tidak perlu banyak curiga dengan kucuran dananya. Namun, jika kita percaya bahwa negara/lembaga asing memiliki niat terentu, misalnya mengusung pasangan calon presiden tertentu, maka kucuran dana itu bisa dimaknai sebagai bentuk intervensi atas proses politik di sini.
Pada titik inilah, KPU selaku penyelenggara pemilu, mestinya sadar betul: pada bagian apa tawaran dana asing itu ditempatkan, dan bagaimana memanfaatkannya secara maksimal? Salah menempatkan atau memanfaatkan, maka akan memicu masalah, menimbulkan kontroversi, sebagaimana terjadi pada keterlibatan IFES dalam kegiatan tabulasi nasional pemilu presiden.
Sebetulnya, posisi dana hibah asing yang disalurkan lewat lembaga asing atau lembaga nasional, sifatnya hanya supporting. Sebab dalam banyak hal, kegiatan penyelenggaraan pemilu sudah disediakan oleh pos pemilu dalam APBN. Namun ini bukan berarti dana hibah tidak masuk dalam hitungan APBN. Dana itu masuk dalam pos hibah asing, yang administrasinya dikendalikan oleh Bappenas.
Karena sifatnya hanya supporting, lembaga asing atau lembaga nasional yang menyalurkan dana hibah asing tersebut, hanya membantu atau memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh KPU. Artinya, mereka tidak melakukan kegiatan pokok yang menjadi urusan KPU, seperti pelatihan, sosialisasi, pengajuan draf-draf peraturan teknis, dan lain-lain.
KPU mestinya juga sadar, bahwa kegiatan yang langsung berkaitan dengan proses pengubahan suara menjadi kursi, tidak boleh disentuh oleh pihak lain. Kegiatan yang dimaksud adalah pendataan pemilih, pencalonan, pemungutan suara, penghitungan suara dan penetapan calon terpilih. Ini wilayah sensitif yang menjadi urat nadi penyelenggaraan pemilu.
Jika wilayah tersebut sampai disentuh oleh pihak lain, maka berarti memberi ruang buat pihak lain mengintervensi atau mencampuri penetapan hasil pemilu. Data pemilih yang tidak beres misalnya, akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih, dan pada akhirnya bisa juga dikaitkan hasil pemilu. Sementara data enghitungan suara, sangat mungkin diutak-atik oleh pihak lain yang tidak punya wewenang.
Lantas bagaimana dengan keterlibatan IFES dalam tabulasi nasional penghitungan suara pemilu presiden? Tabulasi nasional memang bukan penghitungan suara resmi. Keberadaannya tidak diakui oleh undang-undang, sehingga hasil tabulasi nasional tidak berpengaruh terhadap proses penghitungan suara manual yang tengah berjalan.
Meskipun demikian, bukan berarti keterilbatan IFES tidak menimbulkan masalah. Karena hasil tabulasi itu diumumkan ke publik, sehingga masyarakat mengetahui perolehan masing-masing pasngan calon. Tentu saja pasangan calon yang perolehan suaranya sedikit dari yang diperkirakan, tidak bisa menerima hasil pengumuman ini.
IFES tidak bisa dipersalahkan dalam hal ini, karena keterlibatannya atas permintaan KPU. Di sinilah kita semakin yakin, bahwa KPU memang tidak memiliki pemahaman yang cukup tetang permasalahan pemilu, sehingga mereka tidak bisa membedakan mana wilayah sensitif politik, mana yang tidak. Ketidakpamahan ini yang menyebabkan banyak orang berkesimpulan: KPU memang gampang diitervensi.
*) Didik Supriyanto adalah Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)
(diks/asy)
"Tidak ada makan siang gratis." Sama dengan IMF, World Bank, ADB, dan lain-lain, negara/lembaga asing yang menyalurkan dana hibah ke Indonesia juga ingin mendapatkan imbalan. Setidaknya, mereka ingin mendapatkan data-data dan hasil analisis atas bidang yang mendapat kucuran dana.
Negara/lembaga donor ingin mengetahui lebih banyak tentang negara/masyarakat yang dibantunya. Informasi yang berupa data atau hasil analisis itu diperlukan untuk pengambilan kebijakan negara/lembaga bersangkutan. Pengambilan kebijakan itu bisa positif bisa juga negatif, tergantung dari mana kita menilainya.
Jika kita percaya bahwa negara/lembaga asing itu punya komitmen untuk mengembangkan demokrasi lewat bantuannya, maka kita tidak perlu banyak curiga dengan kucuran dananya. Namun, jika kita percaya bahwa negara/lembaga asing memiliki niat terentu, misalnya mengusung pasangan calon presiden tertentu, maka kucuran dana itu bisa dimaknai sebagai bentuk intervensi atas proses politik di sini.
Pada titik inilah, KPU selaku penyelenggara pemilu, mestinya sadar betul: pada bagian apa tawaran dana asing itu ditempatkan, dan bagaimana memanfaatkannya secara maksimal? Salah menempatkan atau memanfaatkan, maka akan memicu masalah, menimbulkan kontroversi, sebagaimana terjadi pada keterlibatan IFES dalam kegiatan tabulasi nasional pemilu presiden.
Sebetulnya, posisi dana hibah asing yang disalurkan lewat lembaga asing atau lembaga nasional, sifatnya hanya supporting. Sebab dalam banyak hal, kegiatan penyelenggaraan pemilu sudah disediakan oleh pos pemilu dalam APBN. Namun ini bukan berarti dana hibah tidak masuk dalam hitungan APBN. Dana itu masuk dalam pos hibah asing, yang administrasinya dikendalikan oleh Bappenas.
Karena sifatnya hanya supporting, lembaga asing atau lembaga nasional yang menyalurkan dana hibah asing tersebut, hanya membantu atau memfasilitasi kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan oleh KPU. Artinya, mereka tidak melakukan kegiatan pokok yang menjadi urusan KPU, seperti pelatihan, sosialisasi, pengajuan draf-draf peraturan teknis, dan lain-lain.
KPU mestinya juga sadar, bahwa kegiatan yang langsung berkaitan dengan proses pengubahan suara menjadi kursi, tidak boleh disentuh oleh pihak lain. Kegiatan yang dimaksud adalah pendataan pemilih, pencalonan, pemungutan suara, penghitungan suara dan penetapan calon terpilih. Ini wilayah sensitif yang menjadi urat nadi penyelenggaraan pemilu.
Jika wilayah tersebut sampai disentuh oleh pihak lain, maka berarti memberi ruang buat pihak lain mengintervensi atau mencampuri penetapan hasil pemilu. Data pemilih yang tidak beres misalnya, akan berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih, dan pada akhirnya bisa juga dikaitkan hasil pemilu. Sementara data enghitungan suara, sangat mungkin diutak-atik oleh pihak lain yang tidak punya wewenang.
Lantas bagaimana dengan keterlibatan IFES dalam tabulasi nasional penghitungan suara pemilu presiden? Tabulasi nasional memang bukan penghitungan suara resmi. Keberadaannya tidak diakui oleh undang-undang, sehingga hasil tabulasi nasional tidak berpengaruh terhadap proses penghitungan suara manual yang tengah berjalan.
Meskipun demikian, bukan berarti keterilbatan IFES tidak menimbulkan masalah. Karena hasil tabulasi itu diumumkan ke publik, sehingga masyarakat mengetahui perolehan masing-masing pasngan calon. Tentu saja pasangan calon yang perolehan suaranya sedikit dari yang diperkirakan, tidak bisa menerima hasil pengumuman ini.
IFES tidak bisa dipersalahkan dalam hal ini, karena keterlibatannya atas permintaan KPU. Di sinilah kita semakin yakin, bahwa KPU memang tidak memiliki pemahaman yang cukup tetang permasalahan pemilu, sehingga mereka tidak bisa membedakan mana wilayah sensitif politik, mana yang tidak. Ketidakpamahan ini yang menyebabkan banyak orang berkesimpulan: KPU memang gampang diitervensi.
*) Didik Supriyanto adalah Ketua Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem)
(diks/asy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Jumat, 10/07/2009 15:33 WIB
Hasil Pilpres Pertegas Rakyat Tak Percaya Parpol Lagi
-
Kamis, 02/07/2009 10:52 WIB
Sketsa Pemilu 2009
Independensi dan Konfrontasi
-
Senin, 22/06/2009 10:13 WIB
Sketsa Pemilu 2009
Perilaku Orang/Lembaga Survei (3)
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
Sabtu, 26/05/2012 14:20 WIB
Sebanyak 53.401 Siswa Lulus SNMPTN 2012 Jalur Undangan
-
Sabtu, 26/05/2012 13:53 WIB
Menjarah Toko, Putri Jutawan Inggris Dipenjara 2 Tahun
-
Sabtu, 26/05/2012 15:08 WIB
Usai Rapimnassus, Kader Golkar yang Tak Dukung Ical akan Dipecat
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
237 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
