Bom JW Marriott dan Ritz Carlton
Pengamat: Ada Keterkaitan Pilpres dan Unjuk Gigi Teroris
Sabtu, 18/07/2009 01:34 WIB
Jakarta
Peledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, diduga terkait pelaksanaan Pilpres 2009. Selain itu, ledakan bom ini juga untuk unjuk gigi bahwa di Indonesia masih ada kelompok teroris.
"Ini ada keterkaitan dengan Pilpres, karena itu mereka memberikan indikasi atau sign (tanda) bahwa teroris masih eksis secara nasional dan bisa sewaktu-waktu hadir," kata pengamat intelijen, AC Manullang kepada detikcom via telepon di Jakarta, Jumat (17/7/2009).
Manullang menjelaskan akan adanya ancaman itu sejak April 2008. Pasalnya, sejak peledakan bom terakhir di Bali pada 1 Oktober 2005 dan sebelumnya Kedubes Australia pada Agustus 2004, tidak ada aksi terorisme di Indonesia.
"Sejak itu sampai 2009 tidak ada aksi terorisme, nah sekarang ada
lagi," jelasnya.
Manullang mengatakan, pelaku peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton diduga merupakan jaringan dari kelompok yang sama dengan kelompok Nurdin M Top. Dalam era globalisasi saat ini yang paling penting perannya adalah adaya grand strategi AS tentang Neo-Liberalisme dan Neo-Kapitalisme.
"Selain itu ada gerakan Islamisasi dan ingin menciptakan kekerasan yang
dilakukan dunia Islam. Ini yang aparat keamanan dan intelijen kita kecolongan," ungkap mantan Direktur Litbang Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN, sekarang BIN) ini.
Mestinya, lanjut Manullang, pihak intelijen mampu 'menanam' orang-orangnya di dalam kelompok terorisme itu.
"Itu yang tidak ada di kita. Beda dengan intelijen asing," ujarnya lagi.
Manulang pun menganalisa tentang peristiwa peledakan bom saat ini bisa terjadi.
"Pertama, apapun, siapapun dan bagaimanapun peristiwa akhir-akhir ini terkait dengan pelaksanaan demokrasi di Indonesia, khususnya Pemilu Legislatif dan Pilpres," ucapnya.
Pelaksanaan Pemilu dan Pilpres di Indonesia sangat menarik perhatian dunia
internasional.
"Kita semua lihat, Pilpres yang berjalan satu putaran, itu sangat luar biasa dan tidak ada di dunia, di Amerika Serikat saja tidak bisa dan dua putaran. Jadi aksi ini cuma cari-cari dan cari gara-gara saja," tegasnya.
Kedua, belakangan ini terjadi aksi kekisruhan sosial, agama termasuk kasus di Papua, ini dalam waktu dekat juga akan terjadi lagi. Ketiga, terkait kedatangan orang asing, seperti para pemain sepakbola MU ke Indonesia.
Manullang menambahkan, isu-isu kemiskinan rakyat Indonesia juga masih
dimanfaatkan para kelompok teroris di Indonesia.
"Termasuk memanfaatkan isu Pilpres," imbuhnya.
(zal/lrn)
"Ini ada keterkaitan dengan Pilpres, karena itu mereka memberikan indikasi atau sign (tanda) bahwa teroris masih eksis secara nasional dan bisa sewaktu-waktu hadir," kata pengamat intelijen, AC Manullang kepada detikcom via telepon di Jakarta, Jumat (17/7/2009).
Manullang menjelaskan akan adanya ancaman itu sejak April 2008. Pasalnya, sejak peledakan bom terakhir di Bali pada 1 Oktober 2005 dan sebelumnya Kedubes Australia pada Agustus 2004, tidak ada aksi terorisme di Indonesia.
"Sejak itu sampai 2009 tidak ada aksi terorisme, nah sekarang ada
lagi," jelasnya.
Manullang mengatakan, pelaku peledakan bom JW Marriott dan Ritz Carlton diduga merupakan jaringan dari kelompok yang sama dengan kelompok Nurdin M Top. Dalam era globalisasi saat ini yang paling penting perannya adalah adaya grand strategi AS tentang Neo-Liberalisme dan Neo-Kapitalisme.
"Selain itu ada gerakan Islamisasi dan ingin menciptakan kekerasan yang
dilakukan dunia Islam. Ini yang aparat keamanan dan intelijen kita kecolongan," ungkap mantan Direktur Litbang Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN, sekarang BIN) ini.
Mestinya, lanjut Manullang, pihak intelijen mampu 'menanam' orang-orangnya di dalam kelompok terorisme itu.
"Itu yang tidak ada di kita. Beda dengan intelijen asing," ujarnya lagi.
Manulang pun menganalisa tentang peristiwa peledakan bom saat ini bisa terjadi.
"Pertama, apapun, siapapun dan bagaimanapun peristiwa akhir-akhir ini terkait dengan pelaksanaan demokrasi di Indonesia, khususnya Pemilu Legislatif dan Pilpres," ucapnya.
Pelaksanaan Pemilu dan Pilpres di Indonesia sangat menarik perhatian dunia
internasional.
"Kita semua lihat, Pilpres yang berjalan satu putaran, itu sangat luar biasa dan tidak ada di dunia, di Amerika Serikat saja tidak bisa dan dua putaran. Jadi aksi ini cuma cari-cari dan cari gara-gara saja," tegasnya.
Kedua, belakangan ini terjadi aksi kekisruhan sosial, agama termasuk kasus di Papua, ini dalam waktu dekat juga akan terjadi lagi. Ketiga, terkait kedatangan orang asing, seperti para pemain sepakbola MU ke Indonesia.
Manullang menambahkan, isu-isu kemiskinan rakyat Indonesia juga masih
dimanfaatkan para kelompok teroris di Indonesia.
"Termasuk memanfaatkan isu Pilpres," imbuhnya.
(zal/lrn)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 16:07 WIB
Ini Dia Hasil UN SMA di DKI Jakarta
-
Sabtu, 26/05/2012 16:00 WIB
Avanza Terguling di Tol Jagorawi, Sopir Luka Ringan
-
Sabtu, 26/05/2012 15:43 WIB
Cerita Buyung Soal Kepemimpinan SBY yang Unik
-
Sabtu, 26/05/2012 15:40 WIB
Harimau Sumatera Masih Ditemukan di Jambi
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
Sabtu, 26/05/2012 15:22 WIB
Lengkapi Izin, Promotor Lady Gaga Diberi Waktu Hingga Senin
-
Sabtu, 26/05/2012 14:20 WIB
Sebanyak 53.401 Siswa Lulus SNMPTN 2012 Jalur Undangan
-
Sabtu, 26/05/2012 13:53 WIB
Menjarah Toko, Putri Jutawan Inggris Dipenjara 2 Tahun
-
Sabtu, 26/05/2012 15:08 WIB
Usai Rapimnassus, Kader Golkar yang Tak Dukung Ical akan Dipecat
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
237 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
