detikcom

Elektabilitas SBY Anjlok

Dominasi Fox Bikin Kesal Para Pendukung

Deden Gunawan - detikNews
Senin, 29/06/2009 12:55 WIB
Jakarta Para relawan Pandu 57, organisasi pendukung pasangan SBY-Boediono, merasa kesal. Agenda pertemuan para pedagang pasar tradisional di Semarang, Jawa Tengah, dengan cawapres Boediono, pekan lalu, tidak kesampaian.

Agenda penggalangan dukungan yang sudah disusun dua minggu sebelumnya itu tidak terlaksana karena Boediono memilih melakukan dialog dengan para pendukung di Bandara Ahmad Yani, Semarang.

"Di bandara itu Boediono menghabiskan waktu sampai 1,5 jam. Padahal dengan waktu sebanyak itu Boediono masih punya waktu menemui para pedagang yang ingin memberikan dukungan," ujar Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Relawan SBY, Suryokoco Adiprawiro saat dihubungi detikcom.

Suryokoco menganggap, gagalnya pertemuan antara pedagang pasar dengan Boediono di Semarang karena buruknya koordinasi yang dilakukan Fox Indonesia, konsultan politik yang dibayar pasangan SBY-Boediono.

Salah satu kekecewaan para relawan terhadap Fox, lantaran lembaga tersebut abai terhadap ada antusiame masyarakat dalam menyambut SBY-Boediono. Mereka dianggap tidak berarti apa-apa bagi Fox. Padahal, para relawan sudah bekerja keras menggalang massa swing voter untuk pemenangan SBY-Boediono.

"Ini terjadi karena kurang bagusnya koordinasi. Jadi kami lihat ada dua persoalan itu yang harus segera dicermati SBY," tandasnya.

Suryokoco juga mempertanyakan posisi Fox Indonesia sebagai konsultan politik. Sebab dalam kasus peredaran kliping tabloid Monitor Indonesia yang menyatakan istri Boediono beragama katolik, Fox tidak bergerak cepat.

Padahal, lanjutnya, berita tersebut sudah diinformasikan dua minggu sebelumnya. "Harusnya saat itu Fox segera bersikap. Bisa dengan mensomasi media tersebut atau menggugat nara sumber media tersebut. Kalau sekarang Rizal baru teriak-teriak sama juga bohong," tandasnya.

Buruknya koordinasi antara Fox dan jajaran pendukung SBY-Boediono dianggap Suryokoco sebagai salah satu biang keladi melorotnya tingkat keterpilihan SBY-Boediono. Kalau dibiarkan ia memprediksi pilpres 1 putaran yang diharapkan kubu SBY tidak akan terwujud.

Diakuinya, kekecewaan yang dialami para relawan SBY di daerah, saat ini sudah dilaporkan Ketua Umum Relawan SBY, Fasial Riza Yunus kepada SBY.

Faisal sudah mengirimkan surat yang berisi ultimatum agar Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono dan Fox Indonesia melakukan koreksi atas kinerjanya. Dalam surat itu juga ditegaskan, jika surat tersebut tidak ditanggapi, Relawan SBY menyerahkan kepada anggotanya untuk memilih atau tidak pergi ke TPS.

"Bila sampai tanggal 30 Juni belum ada konfirmasi, saya serahkan semua ke daerah. Pertama, silakan pilih dan dukung SBY, kedua tidak pergi ke TPS. Saya serahkan ke daerah bila merasa tidak di-wongke Timkamnas dan Fox Indonesia," Faisal Riza.

Penyebab lain turunnya elektabilitas SBY-Boediono diperkirakan terjadi akibat gesekan antara Fox Indonesia dengan parpol pendukung SBY. Sebelumnya beredar kabar sejumlah pengurus partai pendukung SBY-Boediono merasa kesal dengan dominasi Fox Indonesia. Mereka merasa tidak diberi ruang untuk berperan memenangkan pasangan tersebut.

Karena alasan itu pula, sejumlah kader partai pendukung SBY, seperti PAN, PKS, dan PPP, ada yang mengalihkan dukungan ke pasangan lain.

Namun kurangnya koordinasi antara Fox Indonesia dan parpol pendukung SBY ditampik Ketua Fraksi PPP Lukman Hakim Saefuddin. Kata Lukman, tugas Fox Indonesia dan parpol pendukung memang ada perbedaan.

"Tugas parpol pendukung berfungsi untuk menggalang massa, sedangkan Fox berfungsi untuk mengemas isu-isu dan pencitraan media," ujarnya.

Hal senada juga dikatakan Ruhut Sitompul, salah satu tim sukses SBY-Boediono. Menurutnya, kalangan parpol yang mengeluh hanyalah kader-kader di bawah. Sementara Fox Indonesia berdasarkan aturan mainnya, hanya berkoordinasi dengan pimpinan parpol.

"Fox itu konsultan yang profesional. Mereka sangat patuh pada aturan. Jadi tidak mungkin mereka melakukan aktivitas di luar kewenangannya," bela Ruhut.

Lagi pula, imbuh Ruhut, kekecewaan beberapa kader partai tidak berpengaruh terhadap turunnya elektabilitas SBY-Boediono. Sebab dalam pilpres yang dipilih SBY-Boediono, bukannya partai.

(ddg/iy)

Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
     

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Laporan KhususTerbaru Indeks Laporan Khusus »
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel