Kabinet SBY Jangan Jadikan Alasan Transparasi untuk Privatisasi BUMN
Rabu, 24/06/2009 19:05 WIB
Jakarta
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai tidak menepati janjinya
karena berencana menjual sejumlah aset BUMN. Padahal pada awal masa pemerintahannya, SBY pernah berjanji tidak akan menjual aset BUMN untuk melindungi rakyat.
"Saya kira apapun pernyataan SBY sebenarnya tidak dilaksanakan. Katanya
dulu tidak mau melakukan privatisasi, nyatanya ada privatisasi yang terburu-buru,"kata anggota Komisi VI DPR dari FPDIP Irmadi Lubis.
Hal itu disampaikan Irmadi dalam diskusi tentang 'Obral BUMN lanjutkan' di Mega-Prabowo Media Center, Jl Prapanca, Jakarta, Rabu (24/6/2009).
Irmadi mengatakan SBY telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 33 tahun
2005 tentang privatisasi BUMN. PP tersebut berisi privatisasi atau penjualan saham BUMN potensial termasuk PT Krakatau Steel.
"Beruntung ada krisis karena menghalangi privatisasi," kata Irmadi.
Menurut Irmadi, janji pasangan SBY-Boediono saat ini juga sama denga kebijakan SBY pada awal pemerintahannya. Sekarang, ada 34 BUMN yang akan
diprivatisasi yang bisa memberikan harapan dan terutama masukan keuangan pada negara.
"Ini banyak kepentingan-kepentingan yang dipakai untuk berdalih dalam menjual," katanya.
Irmadi mengatakan dengan pengurangan BUMN strategis yang akan di privatisasi, artinya pemerintah tidak mau repot repot dalam melakukan pemetaan atau asal jual.
"Pemerintah harus membuat alasan bahwa privatisasi BUMN tidak boleh dilakukan hanya demi transparansi," tutupnya.
(mpr/nwk)
karena berencana menjual sejumlah aset BUMN. Padahal pada awal masa pemerintahannya, SBY pernah berjanji tidak akan menjual aset BUMN untuk melindungi rakyat.
"Saya kira apapun pernyataan SBY sebenarnya tidak dilaksanakan. Katanya
dulu tidak mau melakukan privatisasi, nyatanya ada privatisasi yang terburu-buru,"kata anggota Komisi VI DPR dari FPDIP Irmadi Lubis.
Hal itu disampaikan Irmadi dalam diskusi tentang 'Obral BUMN lanjutkan' di Mega-Prabowo Media Center, Jl Prapanca, Jakarta, Rabu (24/6/2009).
Irmadi mengatakan SBY telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 33 tahun
2005 tentang privatisasi BUMN. PP tersebut berisi privatisasi atau penjualan saham BUMN potensial termasuk PT Krakatau Steel.
"Beruntung ada krisis karena menghalangi privatisasi," kata Irmadi.
Menurut Irmadi, janji pasangan SBY-Boediono saat ini juga sama denga kebijakan SBY pada awal pemerintahannya. Sekarang, ada 34 BUMN yang akan
diprivatisasi yang bisa memberikan harapan dan terutama masukan keuangan pada negara.
"Ini banyak kepentingan-kepentingan yang dipakai untuk berdalih dalam menjual," katanya.
Irmadi mengatakan dengan pengurangan BUMN strategis yang akan di privatisasi, artinya pemerintah tidak mau repot repot dalam melakukan pemetaan atau asal jual.
"Pemerintah harus membuat alasan bahwa privatisasi BUMN tidak boleh dilakukan hanya demi transparansi," tutupnya.
(mpr/nwk)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 10/08/2009 13:49 WIB
Caleg Terpilih DPRD Muba Sumsel Diduga Berijazah Palsu
-
Kamis, 06/08/2009 20:40 WIB
Tim Mega-Prabowo: Penjelasan KPU tentang DPT di MK Menggelikan
-
Kamis, 06/08/2009 19:36 WIB
Pelaksanaan Pilpres 2009
Sekjen PBB Beri Selamat ke Presiden SBY
-
Kamis, 06/08/2009 19:19 WIB
Ical Diminta Waspadai Kader Pragmatis di Sekelilingnya
-
Kamis, 06/08/2009 18:34 WIB
Dituduh Curang, KPU Ancam Serang Balik
-
Senin, 21/05/2012 18:30 WIB
Bagaimana Bentuk 'Piramida' di Situs Gunung Padang?
-
Senin, 21/05/2012 18:35 WIB
Innova yang Dipakai Staf Kedutaan Inggris Hilang di Pondok Indah Mall
-
Senin, 21/05/2012 18:45 WIB
Tragis! 3 Orang Tewas Saat Mendaki Mount Everest
-
Senin, 21/05/2012 17:17 WIB
Ini Batu Beraksara di Situs Gunung Padang
-
661 Komentar
-
443 Komentar
-
357 Komentar
-
347 Komentar
Lapsus
Index »
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 470.000
- Rp 2,792.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message




_(baru).gif)

_2.gif)
(2).gif)
