Korban KDRT Sering Dicibir
Komnas Perempuan: Matre Jangan Dijadikan Permakluman Untuk KDRT
Kamis, 18/06/2009 17:21 WIB
Foto: Dokumen detikcom
Jakarta
Baru-baru ini, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali marak. Hampir berturut-turut, beberapa perempuan mengadu dan melaporkan perbuatan suaminya ke polisi.
Tengok saja kasus Manohara Odelia Pinot yang menghebohkan. Belum lagi, kasus pedangdut Cici Paramida yang mengaku ditabrak suaminya dengan mobil hingga babak belur.
Ada lagi kasus seorang istri polisi, Priska yang mengaku disiksa suaminya selama 6 tahun pernikahan. Sri Sulistiawati, istri seorang jaksa yang bertugas di Kejaksaan Agung juga mengaku diperlakukan tidak adil oleh suaminya selama 16 tahun.
Mengapa fenomena KDRT semakin meningkat padahal berbagai regulasi perlindungan terhadap perempuan telah banyak disahkan?
"Ini justru fenomena yang baik karena semakin banyak perempuan yang berani melapor. Kalau dulu kelihatan sedikit karena perempuan hanya diam saja," kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Ninik Rahayu.
Berikut wawancara detikcom dengan Ninik tentang maraknya KDRT, Kamis (18/6/2009).
Apa maraknya KDRT ini tidak mengkhawatirkan?
Ya tentu saja, kalau pendapat saya, dengan banyaknya korban yang berani melapor sebetulnya sebuah fenomena yang baik, perempuan berani melapor. Kalau dulu kan mereka masih mengganggap kekerasan itu aib, urusan privat. Dengan begini, kita akan tahu persis sebenarnya berapa perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Tapi kadang aparat hukum seperti kurang mendukung mereka?
Makanya itu, ini harus diikuti oleh penegak hukum dalam mengungkap keadilan. Penegak hukum harus mendukung perempuan yang melaporkan kekerasan yang dialaminya karena seorang perempuan itu kadang mau melapor saja sudah takut dulu, sudah setengah mati kalau tidak didukung oleh penegak hukum ya bagaimana.
Ada juga korban yang melapor tapi dipingpong?
Nah itu, seperti istri polisi yang dianiaya suaminya, melapor ke sini di suruh ke sini. Itu akan membuat perempuan kembali lagi ke rumah dan menyerah karena merasa tidak didukung. Padahal dengan melapor dan diekspos oleh media, dia akan memberi inspirasi perempuan yang lain agar tidak diam.
Secara pribadi saya memberi acungan jempol pada Manohara karena dia sangat pulih dari traumanya. Dia bisa berani mengungkap dan bisa beraktivitas dengan biasa. Jarang ada korban KDRT yang kayak gitu.
Tapi justru banyak komentar negatif soal 'keceriaan' Manohara itu?
Ya itu, banyak yang bilang dia malah road show ke infotainment, saya malah melihat lain. Dia justru sangat pulih dan bisa berkegiatan, itu bagus.
Banyak juga masyarakat yang seakan menyalahkan si korban dengan bilang matre atau perebut suami orang seperti kasus Cici Paramida. Bagaimana menurut Anda?
Biasa itu ada pendapat miring, nanti waktu juga akan membuktikannya kalau memang dia benar-benar dianiaya oleh suaminya. Orang menikah itu kan memang harus mempertimbangkan macam-macam termasuk harta dan pekerjaan. Asal bukan satu-satunya pertimbangan. Tapi bukan berarti dia boleh dianiaya, dipukul dan sebagainya. Memang kalau kaya terus boleh melakukan KDRT?
Pendapat itu bisa membuat korban down?
Iya tentu saja, tapi menurut saya, sebaiknya korban tidak usah mempedulikan komentar yang seperti itu. Karena itu, keluarga harus mendukung penuh.
Ada pendapat istri dipukul untuk mendidik?
Pemukulan itu tidak boleh dilakukan sebagai alasan untuk mendidik anak atau istri karena mereka bukan properti. Itu dasarnya, nggak bisa diganggu gugat. (ken/iy)
Tengok saja kasus Manohara Odelia Pinot yang menghebohkan. Belum lagi, kasus pedangdut Cici Paramida yang mengaku ditabrak suaminya dengan mobil hingga babak belur.
Ada lagi kasus seorang istri polisi, Priska yang mengaku disiksa suaminya selama 6 tahun pernikahan. Sri Sulistiawati, istri seorang jaksa yang bertugas di Kejaksaan Agung juga mengaku diperlakukan tidak adil oleh suaminya selama 16 tahun.
Mengapa fenomena KDRT semakin meningkat padahal berbagai regulasi perlindungan terhadap perempuan telah banyak disahkan?
"Ini justru fenomena yang baik karena semakin banyak perempuan yang berani melapor. Kalau dulu kelihatan sedikit karena perempuan hanya diam saja," kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Ninik Rahayu.
Berikut wawancara detikcom dengan Ninik tentang maraknya KDRT, Kamis (18/6/2009).
Apa maraknya KDRT ini tidak mengkhawatirkan?
Ya tentu saja, kalau pendapat saya, dengan banyaknya korban yang berani melapor sebetulnya sebuah fenomena yang baik, perempuan berani melapor. Kalau dulu kan mereka masih mengganggap kekerasan itu aib, urusan privat. Dengan begini, kita akan tahu persis sebenarnya berapa perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Tapi kadang aparat hukum seperti kurang mendukung mereka?
Makanya itu, ini harus diikuti oleh penegak hukum dalam mengungkap keadilan. Penegak hukum harus mendukung perempuan yang melaporkan kekerasan yang dialaminya karena seorang perempuan itu kadang mau melapor saja sudah takut dulu, sudah setengah mati kalau tidak didukung oleh penegak hukum ya bagaimana.
Ada juga korban yang melapor tapi dipingpong?
Nah itu, seperti istri polisi yang dianiaya suaminya, melapor ke sini di suruh ke sini. Itu akan membuat perempuan kembali lagi ke rumah dan menyerah karena merasa tidak didukung. Padahal dengan melapor dan diekspos oleh media, dia akan memberi inspirasi perempuan yang lain agar tidak diam.
Secara pribadi saya memberi acungan jempol pada Manohara karena dia sangat pulih dari traumanya. Dia bisa berani mengungkap dan bisa beraktivitas dengan biasa. Jarang ada korban KDRT yang kayak gitu.
Tapi justru banyak komentar negatif soal 'keceriaan' Manohara itu?
Ya itu, banyak yang bilang dia malah road show ke infotainment, saya malah melihat lain. Dia justru sangat pulih dan bisa berkegiatan, itu bagus.
Banyak juga masyarakat yang seakan menyalahkan si korban dengan bilang matre atau perebut suami orang seperti kasus Cici Paramida. Bagaimana menurut Anda?
Biasa itu ada pendapat miring, nanti waktu juga akan membuktikannya kalau memang dia benar-benar dianiaya oleh suaminya. Orang menikah itu kan memang harus mempertimbangkan macam-macam termasuk harta dan pekerjaan. Asal bukan satu-satunya pertimbangan. Tapi bukan berarti dia boleh dianiaya, dipukul dan sebagainya. Memang kalau kaya terus boleh melakukan KDRT?
Pendapat itu bisa membuat korban down?
Iya tentu saja, tapi menurut saya, sebaiknya korban tidak usah mempedulikan komentar yang seperti itu. Karena itu, keluarga harus mendukung penuh.
Ada pendapat istri dipukul untuk mendidik?
Pemukulan itu tidak boleh dilakukan sebagai alasan untuk mendidik anak atau istri karena mereka bukan properti. Itu dasarnya, nggak bisa diganggu gugat. (ken/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Kamis, 24/05/2012 04:04 WIB
8 Jenazah WN Rusia Korban Sukhoi Dipulangkan dengan Ilyushin
-
Kamis, 24/05/2012 02:13 WIB
Biadab! Pria Muda Perkosa & Bunuh Anak 4 Tahun
-
Kamis, 24/05/2012 02:39 WIB
Menghitung Sisa Hukuman Sang 'Ratu Mariyuana' Corby
-
Kamis, 24/05/2012 01:28 WIB
Menelisik Batu Beraksara di Gunung Padang
-
686 Komentar
-
235 Komentar
-
219 Komentar
-
209 Komentar
Lapsus
Index »
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,796.000
- Rp 469.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
