Pidato di Roma, Din Sebut Krisis Global Akibat Negara Maju Serakah
Rabu, 17/06/2009 20:10 WIB
Jakarta
Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin menegaskan krisis global yang terjadi sekarang akibat ulah negara maju yang serakah. Din meminta negara-negara maju yang tergabung dalam Kelompok 8 (G-8) berinvestasi bagi perdamaian dunia, bukan sebaliknya bersaham bagi terciptakan kerusakan dunia.
Din menyampaikan hal ini dalam pidatonya di depan 200 tokoh agama dunia yang sedang bertemu di Roma dalam rangka memberi masukan bagi G-8 Summit yang akan bersidang di Roma pada 8-10 Juli 2009. Demikian siaran pers Din yang diterima detikcom, Rabu (17/6/2009).
Din yang diminta bicara mewakili Islam menegaskan bahwa kerusakan dunia yang ditandai antara lain adanya aneka krisis global - pangan, energi, lingkungan hidup dan keuangan - adalah akibat ulah negara-negara maju yang serakah dan mau menang sendiri. Sebagai akibatnya, tercipta ketidakadilan global, merajalelanya kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kerusakan lingkungan hidup, pandemi, perang dan berbagai bentuk kekerasan.
Pada sesi yang juga menghadirkan Menlu Italia Franco Frattini sebagai pembicara lain, Din membeberkan fakta-fakta kemiskinan dan pengangguran di dunia dewasa ini, dan betapa negara-negara besar mengeluarkan dana besar-besaran untuk militer dan perang. Untuk itu Din mengajukan saran dari perspektif umat beragama kepada negara-negara maju.
Pertama, agar dilakukan perubahan paradigma pembangunan dari sekadar sustainable development menjadi sustainable development with meaning (pembangunan berkelanjutan dengan makna), yang dalam aplikasi ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan semata tapi mengabaikan pemerataan dan keadilan sosial. Begitu pula, paradigma ini akan menolak eksploitasi sumber daya alam tanpa upaya pelestarian.
Kedua, agar negara-negara maju berinvestasi bagi perdamaian dunia, semisal melakukan langkah-langkah nyata dalam menerapkan Millenium Development Goals (MDGs) yang sudah menjadi konsensus mereka sejak 2000, tapi belum ada realisasi nyata.
Ketiga, agar negara-negara maju mengedepankan soft power or love power dalam mengatasi masalah-masalah di negara-negara lain, tidak seperti sekarang ini lebih menonjolkan hard power sehingga mereka terjebak ke dalam kekerasan negara atas negara lain.
Di akhir pidatonya yang mendapat sambutan antusias peserta, Din menaruh harapan kepada Presiden baru AS Barack Obama dengan memberi apresiasi terhadap pidatonya dari Kairo beberapa waktu lalu untuk membuka hubungan baru dengan dunia Islam atas dasar saling memahami, menghormati dan kepentingan bersama. Namun, tandas Din, umat Islam sedunia menunggu realisasi janji tersebut, karena perkataan harus sesuai dengan perbuatan. Tapi betapapun juga, sikap Obama itu memberi harapan baru kepada dunia, dan Din optimistis perbaikan dunia terjadi jika ada kesadaran baru dari para pemimpin negara-negara maju yang benar-benar berniat bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia.
Selama di Roma, Din bersama sejumlah tokoh agama dunia Selasa sore diterima oleh Presiden Italia Giorgio Napolitano di Istana Kepresidenan. Pada audiensi tersebut, para tokoh agama menyampaikan penghargaan kepada para pemimpin G-8 atas perhatiannya terhadap saran-saran kalangan agamawan. Presiden Napolitano juga menegaskan penting nilai-nilai moral dan etika agama untuk melandasi pembangunan dunia. Pada kesempatan audiensi tersebut Din Syamsuddin menyampaikan rasa duka cita atas gempa yang melanda L'Aquila, Italia April lalu dan berharap Semangat L'Aquila (tempat G-8 Summit) akan memberi solusi terhadap problematika dunia dan mencerahi peradaban dunia di masa depan.
(asy/gah)
Din menyampaikan hal ini dalam pidatonya di depan 200 tokoh agama dunia yang sedang bertemu di Roma dalam rangka memberi masukan bagi G-8 Summit yang akan bersidang di Roma pada 8-10 Juli 2009. Demikian siaran pers Din yang diterima detikcom, Rabu (17/6/2009).
Din yang diminta bicara mewakili Islam menegaskan bahwa kerusakan dunia yang ditandai antara lain adanya aneka krisis global - pangan, energi, lingkungan hidup dan keuangan - adalah akibat ulah negara-negara maju yang serakah dan mau menang sendiri. Sebagai akibatnya, tercipta ketidakadilan global, merajalelanya kemiskinan, pengangguran, kebodohan, kerusakan lingkungan hidup, pandemi, perang dan berbagai bentuk kekerasan.
Pada sesi yang juga menghadirkan Menlu Italia Franco Frattini sebagai pembicara lain, Din membeberkan fakta-fakta kemiskinan dan pengangguran di dunia dewasa ini, dan betapa negara-negara besar mengeluarkan dana besar-besaran untuk militer dan perang. Untuk itu Din mengajukan saran dari perspektif umat beragama kepada negara-negara maju.
Pertama, agar dilakukan perubahan paradigma pembangunan dari sekadar sustainable development menjadi sustainable development with meaning (pembangunan berkelanjutan dengan makna), yang dalam aplikasi ekonomi tidak hanya mengejar pertumbuhan semata tapi mengabaikan pemerataan dan keadilan sosial. Begitu pula, paradigma ini akan menolak eksploitasi sumber daya alam tanpa upaya pelestarian.
Kedua, agar negara-negara maju berinvestasi bagi perdamaian dunia, semisal melakukan langkah-langkah nyata dalam menerapkan Millenium Development Goals (MDGs) yang sudah menjadi konsensus mereka sejak 2000, tapi belum ada realisasi nyata.
Ketiga, agar negara-negara maju mengedepankan soft power or love power dalam mengatasi masalah-masalah di negara-negara lain, tidak seperti sekarang ini lebih menonjolkan hard power sehingga mereka terjebak ke dalam kekerasan negara atas negara lain.
Di akhir pidatonya yang mendapat sambutan antusias peserta, Din menaruh harapan kepada Presiden baru AS Barack Obama dengan memberi apresiasi terhadap pidatonya dari Kairo beberapa waktu lalu untuk membuka hubungan baru dengan dunia Islam atas dasar saling memahami, menghormati dan kepentingan bersama. Namun, tandas Din, umat Islam sedunia menunggu realisasi janji tersebut, karena perkataan harus sesuai dengan perbuatan. Tapi betapapun juga, sikap Obama itu memberi harapan baru kepada dunia, dan Din optimistis perbaikan dunia terjadi jika ada kesadaran baru dari para pemimpin negara-negara maju yang benar-benar berniat bagi kemajuan dan kesejahteraan dunia.
Selama di Roma, Din bersama sejumlah tokoh agama dunia Selasa sore diterima oleh Presiden Italia Giorgio Napolitano di Istana Kepresidenan. Pada audiensi tersebut, para tokoh agama menyampaikan penghargaan kepada para pemimpin G-8 atas perhatiannya terhadap saran-saran kalangan agamawan. Presiden Napolitano juga menegaskan penting nilai-nilai moral dan etika agama untuk melandasi pembangunan dunia. Pada kesempatan audiensi tersebut Din Syamsuddin menyampaikan rasa duka cita atas gempa yang melanda L'Aquila, Italia April lalu dan berharap Semangat L'Aquila (tempat G-8 Summit) akan memberi solusi terhadap problematika dunia dan mencerahi peradaban dunia di masa depan.
(asy/gah)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Kamis, 24/05/2012 02:39 WIB
Menghitung Sisa Hukuman Sang 'Ratu Mariyuana' Corby
-
Kamis, 24/05/2012 01:28 WIB
Menelisik Batu Beraksara di Gunung Padang
-
Kamis, 24/05/2012 00:22 WIB
Menlu: Pandangan Ekstrim Tantangan Bagi Perlindungan HAM RI
-
Rabu, 23/05/2012 23:20 WIB
Ari Sigit Hadirkan Kurator Sebagai Saksi Penggelapan
-
Rabu, 23/05/2012 23:01 WIB
Popularitas, Materi & Kekuasaan Tak Cukup untuk Jadi Anggota DPR
-
Kamis, 24/05/2012 04:04 WIB
8 Jenazah WN Rusia Korban Sukhoi Dipulangkan dengan Ilyushin
-
Kamis, 24/05/2012 02:13 WIB
Biadab! Pria Muda Perkosa & Bunuh Anak 4 Tahun
-
Kamis, 24/05/2012 02:39 WIB
Menghitung Sisa Hukuman Sang 'Ratu Mariyuana' Corby
-
Kamis, 24/05/2012 01:28 WIB
Menelisik Batu Beraksara di Gunung Padang
-
686 Komentar
-
235 Komentar
-
219 Komentar
-
209 Komentar
Lapsus
Index »
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,796.000
- Rp 469.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message
.gif)

_2.gif)
