Beberkan Peran di Perdamaian Aceh, Tim SBY Nilai JK Tak Etis
Minggu, 14/06/2009 12:38 WIB
Jakarta
Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Kampanye Nasional SBY-Boediono Bara Hasibuan menilai pernyataan capres Partai Golkar, Jusuf Kalla (JK) terkait siapa yang paling berjasa terhadap perjanjian damai Aceh yang ditandatangani di Helsinki, Finlandia sebagai tindakan tidak etis.
"Kita semua tahu Jusuf Kalla sampai saat ini masih menjabat sebagai wakil presiden RI. Itu artinya dia masih menjadi bagian pokok dari pemerintahan ini yang dipimpin oleh Presiden Yudhoyono. Bagaimana mungkin seorang wakil presiden menyerang secara terbuka kepala sebuah pemerintahan di mana dia masih menjadi bagian penting di dalamnya," kata Bara dalam rilisnya yang diterima detikcom, Minggu (14/6/2009).
Menurut mantan politisi PAN ini, pernyataan JK tersebut dinilai tidak mematuhi prinsip presidensialisme yang dianut konstitusi Indonesia. Menurutnya, dalam sistem presidensial, presiden sebagai sebagai satu-satunya kepala pemerintahan dan kepala negara memberikan keputusan akhir dan bertanggung jawab penuh atas semua keputusan dan kebijakan pemerintah seperti perdamaian di Aceh.
"Dalam proses negosiasi dengan GAM, bisa saja Wakil Presiden Jusuf Kalla berperan besar tetapi keputusan akhir dibuat oleh Yudhoyono sebagai presiden," papar Bara
"Tidak mungkin perjanjian tersebut dapat diteken oleh pihak Indonesia tanpa Yudhoyono sebagai presiden memberikan persetujuan. Dan memang kenyataannya setiap pasal yang ada di perjanjian perdamaian diperiksa dengan seksama dan disetujui langsung oleh Presiden Yudhoyono," Lanjutnya.
Sabtu (13/6/2009), Jusuf Kalla melontarkan kritikan terbuka kepada SBY mengenai siapa yang paling berjasa di balik suksesnya perundingan damai Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). JK menyampaikan hal itu saat berbicara di Anjong Monmata, Banda Aceh.
Menurut JK, semua risiko perjanjian Aceh yang akhirnya menjadikan Aceh damai seperti sekarang ini adalah berkat kerja keras dan sentuhan tangan halusnya. Semua risiko pun diambilnya saat itu sampai harus menandatangani perjanjian karena SBY tidak mau.
"Coba periksa, tidak ada tandatangan siapapun kecuali tanda tangan saya di dalam perjanjian perdamaian Helsinki. Saya pernah minta tandatangan soal partai lokal, tetapi presiden tidak mau. Akhirnya saya yang menandatangani dengan segala risiko setelah 10 kali saya membaca surat Yasin bersama istri saya," kata JK.
(yid/iy)
"Kita semua tahu Jusuf Kalla sampai saat ini masih menjabat sebagai wakil presiden RI. Itu artinya dia masih menjadi bagian pokok dari pemerintahan ini yang dipimpin oleh Presiden Yudhoyono. Bagaimana mungkin seorang wakil presiden menyerang secara terbuka kepala sebuah pemerintahan di mana dia masih menjadi bagian penting di dalamnya," kata Bara dalam rilisnya yang diterima detikcom, Minggu (14/6/2009).
Menurut mantan politisi PAN ini, pernyataan JK tersebut dinilai tidak mematuhi prinsip presidensialisme yang dianut konstitusi Indonesia. Menurutnya, dalam sistem presidensial, presiden sebagai sebagai satu-satunya kepala pemerintahan dan kepala negara memberikan keputusan akhir dan bertanggung jawab penuh atas semua keputusan dan kebijakan pemerintah seperti perdamaian di Aceh.
"Dalam proses negosiasi dengan GAM, bisa saja Wakil Presiden Jusuf Kalla berperan besar tetapi keputusan akhir dibuat oleh Yudhoyono sebagai presiden," papar Bara
"Tidak mungkin perjanjian tersebut dapat diteken oleh pihak Indonesia tanpa Yudhoyono sebagai presiden memberikan persetujuan. Dan memang kenyataannya setiap pasal yang ada di perjanjian perdamaian diperiksa dengan seksama dan disetujui langsung oleh Presiden Yudhoyono," Lanjutnya.
Sabtu (13/6/2009), Jusuf Kalla melontarkan kritikan terbuka kepada SBY mengenai siapa yang paling berjasa di balik suksesnya perundingan damai Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). JK menyampaikan hal itu saat berbicara di Anjong Monmata, Banda Aceh.
Menurut JK, semua risiko perjanjian Aceh yang akhirnya menjadikan Aceh damai seperti sekarang ini adalah berkat kerja keras dan sentuhan tangan halusnya. Semua risiko pun diambilnya saat itu sampai harus menandatangani perjanjian karena SBY tidak mau.
"Coba periksa, tidak ada tandatangan siapapun kecuali tanda tangan saya di dalam perjanjian perdamaian Helsinki. Saya pernah minta tandatangan soal partai lokal, tetapi presiden tidak mau. Akhirnya saya yang menandatangani dengan segala risiko setelah 10 kali saya membaca surat Yasin bersama istri saya," kata JK.
(yid/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Senin, 10/08/2009 13:49 WIB
Caleg Terpilih DPRD Muba Sumsel Diduga Berijazah Palsu
-
Kamis, 06/08/2009 20:40 WIB
Tim Mega-Prabowo: Penjelasan KPU tentang DPT di MK Menggelikan
-
Kamis, 06/08/2009 19:36 WIB
Pelaksanaan Pilpres 2009
Sekjen PBB Beri Selamat ke Presiden SBY
-
Kamis, 06/08/2009 19:19 WIB
Ical Diminta Waspadai Kader Pragmatis di Sekelilingnya
-
Kamis, 06/08/2009 18:34 WIB
Dituduh Curang, KPU Ancam Serang Balik
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
284 Komentar
-
237 Komentar
-
220 Komentar
-
218 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
