Lemahnya Diplomasi RI
Dubes Titipan Bikin Kinerja Jadi Memble
Jumat, 05/06/2009 18:35 WIB
Jakarta
Kasus David Hartanto Widjaya, Manohara Odelia Pinot, dan Ambalat, dengan negara tetangga, kini jadi pembicaraan hangat di Indonesia. Sejumlah pihak menganggap mencuatnya kasus tersebut lantaran lemahnya sikap Departemen Luar Negeri (Deplu) dan jajaran KBRI dalam berdiplomasi.
Ketika dikecam sejumlah pihak, pihak Deplu dan KBRI kemudian membela diri. Mereka balik menyalahkan pihak-pihak yang mengeluhkan kinerja mereka. Bahkan dalam kasus Manohara, KBRI malah mensomasi model cantik tersebut karena dianggap telah melakukan pencemaran nama baik dan fitnah.
Da'i Bachtiar, Dubes RI di Kuala Lumpur menyatakan, akan mensomasi Manohara jika perempuan cantik tersebut tidak mengklarifikasi tuduhannya, yang menyatakan KBRI Kuala Lumpur tidak berbuat apa-apa karena diduga telah disuap Kesultanan Kelantan.
Bukan itu saja, pihak KBRI Malaysia juga membeberkan sisi-sisi negatif Daisy Fajarina, ibu kandung Manohara.
Sikap KBRI Malaysia tersebut sangat disayangkan sejumlah kalangan. Pasalnya, sebagai seorang diplomat harusnya KBRI melindungi dan melayani WNI yang ada di luar negeri, bukan malah mengancam dan membeberkan keburukan warganya.
"Sikap KBRI Malaysia sangat disayangkan. Harusnya tugas KBRI melindungi dan melayani. Bukan mengancam. Apalagi menjelek-jelekan warga negaranya," jelas guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Hikmahanto Juwana kepada detikcom.
Menurutnya, sikap KBRI Malaysia tersebut sangat bertolak belakang dengan tugas seorang diplomat. Karena sejatinya seorang diplomat melindungi, melayani dan memberikan akses informasi kepada WNI atau pengusaha yang ada di luar negeri.
Juwana menjelaskan, sikap diplomat yang tidak semestinya itu disebabkan banyak diplomat RI yang masih memegang paradigma lama. Mereka masih menganggap sebagai penguasa. Bukan pelayan atau pelindung masyarakat.
"Sikap ini merupakan sisa-sisa peninggalan orde baru. Mereka menganggap diri mereka sebagai pejabat atau penguasa. Sehingga mereka tidak terima jika ada warga yang mengeluhkan kinerja mereka," ungkap Juwana.
Akibat mentalitas sebagai penguasa banyak WNI di luar negeri yang mengalami masalah tidak tertangani secara benar.
Pengamat hukum internasional dari Universitas Islam Indonesia (UII) Djawahir Tantowi melihat, kelemahan para diplomatik RI di luar negeri disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, sumber daya manusia, serta adanya intervensi parpol terkait pemilihan duta besar.
"Harusnya para dubes itu berasal dari karier, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan terkait persoalan-persoalan WNI maupun negara di luar negeri. Bukan karena titipan parpol atau kekuatan politik tertentu," kata Tantowi.
Adanya dubes-dubes titipan tersebut, imbuh Tantowi, membuat kinerja di KBRI kurang berfungsi maksimal. Karena para dubes tersebut merasa seperti seorang penguasa karena mereka ditunjuk atas dasar kekuasaan bukan berdasarkan karier dan kemampuan.
"Pembenahan rekrutmen SDM di KBRI harus segera dibenahi. Kalau tidak, nasib WNI yang ada di luar negeri, terutama TKI akan terabaikan," pungkas Tantowi.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Ketika dikecam sejumlah pihak, pihak Deplu dan KBRI kemudian membela diri. Mereka balik menyalahkan pihak-pihak yang mengeluhkan kinerja mereka. Bahkan dalam kasus Manohara, KBRI malah mensomasi model cantik tersebut karena dianggap telah melakukan pencemaran nama baik dan fitnah.
Da'i Bachtiar, Dubes RI di Kuala Lumpur menyatakan, akan mensomasi Manohara jika perempuan cantik tersebut tidak mengklarifikasi tuduhannya, yang menyatakan KBRI Kuala Lumpur tidak berbuat apa-apa karena diduga telah disuap Kesultanan Kelantan.
Bukan itu saja, pihak KBRI Malaysia juga membeberkan sisi-sisi negatif Daisy Fajarina, ibu kandung Manohara.
Sikap KBRI Malaysia tersebut sangat disayangkan sejumlah kalangan. Pasalnya, sebagai seorang diplomat harusnya KBRI melindungi dan melayani WNI yang ada di luar negeri, bukan malah mengancam dan membeberkan keburukan warganya.
"Sikap KBRI Malaysia sangat disayangkan. Harusnya tugas KBRI melindungi dan melayani. Bukan mengancam. Apalagi menjelek-jelekan warga negaranya," jelas guru besar hukum internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Hikmahanto Juwana kepada detikcom.
Menurutnya, sikap KBRI Malaysia tersebut sangat bertolak belakang dengan tugas seorang diplomat. Karena sejatinya seorang diplomat melindungi, melayani dan memberikan akses informasi kepada WNI atau pengusaha yang ada di luar negeri.
Juwana menjelaskan, sikap diplomat yang tidak semestinya itu disebabkan banyak diplomat RI yang masih memegang paradigma lama. Mereka masih menganggap sebagai penguasa. Bukan pelayan atau pelindung masyarakat.
"Sikap ini merupakan sisa-sisa peninggalan orde baru. Mereka menganggap diri mereka sebagai pejabat atau penguasa. Sehingga mereka tidak terima jika ada warga yang mengeluhkan kinerja mereka," ungkap Juwana.
Akibat mentalitas sebagai penguasa banyak WNI di luar negeri yang mengalami masalah tidak tertangani secara benar.
Pengamat hukum internasional dari Universitas Islam Indonesia (UII) Djawahir Tantowi melihat, kelemahan para diplomatik RI di luar negeri disebabkan beberapa faktor. Diantaranya, sumber daya manusia, serta adanya intervensi parpol terkait pemilihan duta besar.
"Harusnya para dubes itu berasal dari karier, sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan terkait persoalan-persoalan WNI maupun negara di luar negeri. Bukan karena titipan parpol atau kekuatan politik tertentu," kata Tantowi.
Adanya dubes-dubes titipan tersebut, imbuh Tantowi, membuat kinerja di KBRI kurang berfungsi maksimal. Karena para dubes tersebut merasa seperti seorang penguasa karena mereka ditunjuk atas dasar kekuasaan bukan berdasarkan karier dan kemampuan.
"Pembenahan rekrutmen SDM di KBRI harus segera dibenahi. Kalau tidak, nasib WNI yang ada di luar negeri, terutama TKI akan terabaikan," pungkas Tantowi.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Sabtu, 26/05/2012 10:00 WIB
5 Tersangka Ikuti Rekonstruksi Pembunuhan Kelasi Arifin
-
Sabtu, 26/05/2012 09:01 WIB
Panggil Ketua DPC PD, KPK Dalami Satu per Satu Kelompok di Hambalang
-
Sabtu, 26/05/2012 10:04 WIB
Polisi Buat Sketsa Pencuri Motor yang Tembak Mati 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 08:12 WIB
Menelusuri Dugaan Duit Negara di Kongres Demokrat
-
277 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message
.gif)

_2.gif)
_3.gif)
