Lemahnya Diplomasi RI
Berjuang Sendirian di Negeri Orang
Jumat, 05/06/2009 14:10 WIB
Jakarta
Puluhan komik serial Detektif Conan dan Krayon Sincan masih tersimpan rapi di kamar almarhum David Hartanto Widjaya, mahasiswa Indonesia yang tewas di kampusnya, Nanyang Technology University (NTU), Singapura, awal Maret 2009.
Komik dan seperangkat play stasion yang jadi kegemaran David semasa hidupnya, kini menjadi pengobat rindu ayah David, Hartono Widjaya. "Kalau saya kangen sama dia saya suka ke kamar david untuk melihat barang-barang kesukaan David," jelas Hartono sambil menyeka air matanya.
Saat ini genap tiga bulan keluarga Hartono kehilangan David yang tewas di kampusnya. Selama itu keluarga David harus berjuang sendiri untuk membuktikan kalau anaknya tidak bunuh diri dan melakukan penusukan terhadap Profesor Chan Kap Luk, seperti dilansir sejumlah media di negeri singa tersebut.
Adapun KBRI yang seharusnya melayani WNI di luar negeri, dianggap tidak memberikan kontribusi yang berarti. Misalnya, KBRI tidak berdaya dengan sikap kepolisian Singapura yang tertutup terkait bukti-bukti kematian David.
Padahal semua barang bukti, seperti hasil otopsi dan komputer jinjing milik David yang berisi penemuannya ada di tangan kepolisian Singapura.
"Di awal-awal kejadian tewasnya David, KBRI sama sekali tidak memberikan solusi. Sehingga kami harus berjuang sendiri di negeri orang. Padahal saat itu kami sangat butuh masukan dan arahan dari KBRI," ungkap Hartono.
Untungnya, tutur Hartono, teman-teman David dan media massa banyak membantu mengangkat kasus kematian David. Setelah itu baru KBRI mulai turun tangan.
Lain David lain pula Manohara Odelia Pinot, model cantik asal Indonesia yang dinikahi Pangeran Kesultanan Kelantan Malaysia, Tengku Fakhry.
Ketika kasus dugaan kekerasan terhadap Manohara mulai ramai diberitakan di Indonesia. Daisy Fajarina, ibu Manohara, berulang kali meminta bantuan pemerintah agar anaknya bisa dipulangkan ke Indonesia melalui KBRI di Kuala Lumpur.
Versi KBRI Malaysia, yang dirilis Kamis, (4/6/2009), pihak KBRI menerima laporan dari Daisy mulai 14 Maret 2009. Sejak itu, KBRI mengaku berupaya maksimal mempertemukan Daisy dengan Manohara. Tapi karena beberapa sebab, upaya tersebut ternyata tidak membuahkan hasil.
Terpaksa selama berbulan-bulan Daisy harus berjuang sendirian mendatangi sejumlah pihak di Indonesia. Bahkan semua capres-cawapres yang akan bertarung di Pilpres tidak luput didatangi Daisy.
Hasilnya, pertemuan Daisy dengan Manohara dapat terwujud 31 Mei lalu. Setelah melalui drama yang cukup menegangkan. Manohara ternyata bisa meloloskan diri berkat bantuan kerabat dekat Kelantan sendiri saat berada di Hotel Cross Royal Plaza, Singapura.
Di hotel itulah KBRI Singapura, polisi Singapura, dan Kedubes AS di Singapura berhasil mempertemukan Manohara dan ibunya.
"Saya kira tidak heran kalau Manohara kemudian menyatakan kecewa kepada KBRI Malaysia. Karena dia merasa yang menolong dirinya bukan KBRI Malaysia, melainkan KBRI Singapura," terang Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah.
Menurut Anis, buruknya pelayanan KBRI bukan kali ini saja terjadi. Sebab banyak WNI di luar negeri yang pernah bernasib serupa bahkan lebih parah dari Manohara, namun tidak tertangani oleh KBRI setempat.
"Pelayanan KBRI yang tidak mengenakkan bukan perkara baru. Sejak lama kinerja diplomat kita di luar negeri memang tidak beres, khususnya di Malaysia," tegas Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah saat dihubungi detikcom.
Anis melihat, lemahnya diplomasi RI lantaran setiap membentuk regulasi bersama secara bilateral maupun multilateral, posisi Indonesia selalu lemah. Akibatnya, KBRI tidak bisa berbuat banyak ketika ada WNI yang mengalami masalah di luar negeri.
Akhirnya, setiap WNI mengalami masalah di luar negeri, upaya proaktif lebih ditempuh pihak keluarga. Bukan pemerintah.
Pengamat hukum internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Djawahir Tantowi menilai, sejatinya, tugas KBRI mengurusi perlindungan WNI di luar negeri. Baik perlindungan secara HAM maupun ekonomi.
Para diplomat di KBRI, jelas Tantowi, seharusnya bisa menjembatani komunikasi antara WNI dengan pemerintahan di mana WNI itu berada. "KBRI yang harus proaktif berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Paling tidak selalu mendampingi warganya yang sedang dalam masalah di negeri orang," kata Tantowi.
Tapi Direktur Perlindungan WNI dan BHI Deplu RI Teguh Wardaya keberatan jika para diplomatnya dianggap tidak bekerja maksimal. "Alat ukurnya KBRI tidak peduli itu apa?" tegas Wardaya saat detikcom meminta tanggapannya.
Kata Wardaya, setiap WNI yang mengalami masalah di luar negeri, pihak KBRI selalu memberikan perlindungan. Pihaknya mengaku, sepanjang tahun 2008 sebanyak 29.000 TKI yang ada di 23 negara, yang mengalami masalah diberikan perlindungan.
"Setiap mendengar informasi WNI mengalami masalah di luar negeri kita kejar. Tapi hasilnya tentu tidak selalu memuaskan bagi keluarga. Karena kalau ukurannya kepuasan tentu sulit," ujarnya.
Diakuinya, dalam kasus Manohara, KBRI di Malaysia sangat sulit melakukan perlindungan karena pengawalan yang ketat dari petugas kesultanan Kelantan. Sedangkan dalam kasus David, jelas Teguh, pihak KBRI Singapura harus mengikuti prosedur hukum di negeri tersebut.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda



Komik dan seperangkat play stasion yang jadi kegemaran David semasa hidupnya, kini menjadi pengobat rindu ayah David, Hartono Widjaya. "Kalau saya kangen sama dia saya suka ke kamar david untuk melihat barang-barang kesukaan David," jelas Hartono sambil menyeka air matanya.
Saat ini genap tiga bulan keluarga Hartono kehilangan David yang tewas di kampusnya. Selama itu keluarga David harus berjuang sendiri untuk membuktikan kalau anaknya tidak bunuh diri dan melakukan penusukan terhadap Profesor Chan Kap Luk, seperti dilansir sejumlah media di negeri singa tersebut.
Adapun KBRI yang seharusnya melayani WNI di luar negeri, dianggap tidak memberikan kontribusi yang berarti. Misalnya, KBRI tidak berdaya dengan sikap kepolisian Singapura yang tertutup terkait bukti-bukti kematian David.
Padahal semua barang bukti, seperti hasil otopsi dan komputer jinjing milik David yang berisi penemuannya ada di tangan kepolisian Singapura.
"Di awal-awal kejadian tewasnya David, KBRI sama sekali tidak memberikan solusi. Sehingga kami harus berjuang sendiri di negeri orang. Padahal saat itu kami sangat butuh masukan dan arahan dari KBRI," ungkap Hartono.
Untungnya, tutur Hartono, teman-teman David dan media massa banyak membantu mengangkat kasus kematian David. Setelah itu baru KBRI mulai turun tangan.
Lain David lain pula Manohara Odelia Pinot, model cantik asal Indonesia yang dinikahi Pangeran Kesultanan Kelantan Malaysia, Tengku Fakhry.
Ketika kasus dugaan kekerasan terhadap Manohara mulai ramai diberitakan di Indonesia. Daisy Fajarina, ibu Manohara, berulang kali meminta bantuan pemerintah agar anaknya bisa dipulangkan ke Indonesia melalui KBRI di Kuala Lumpur.
Versi KBRI Malaysia, yang dirilis Kamis, (4/6/2009), pihak KBRI menerima laporan dari Daisy mulai 14 Maret 2009. Sejak itu, KBRI mengaku berupaya maksimal mempertemukan Daisy dengan Manohara. Tapi karena beberapa sebab, upaya tersebut ternyata tidak membuahkan hasil.
Terpaksa selama berbulan-bulan Daisy harus berjuang sendirian mendatangi sejumlah pihak di Indonesia. Bahkan semua capres-cawapres yang akan bertarung di Pilpres tidak luput didatangi Daisy.
Hasilnya, pertemuan Daisy dengan Manohara dapat terwujud 31 Mei lalu. Setelah melalui drama yang cukup menegangkan. Manohara ternyata bisa meloloskan diri berkat bantuan kerabat dekat Kelantan sendiri saat berada di Hotel Cross Royal Plaza, Singapura.
Di hotel itulah KBRI Singapura, polisi Singapura, dan Kedubes AS di Singapura berhasil mempertemukan Manohara dan ibunya.
"Saya kira tidak heran kalau Manohara kemudian menyatakan kecewa kepada KBRI Malaysia. Karena dia merasa yang menolong dirinya bukan KBRI Malaysia, melainkan KBRI Singapura," terang Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah.
Menurut Anis, buruknya pelayanan KBRI bukan kali ini saja terjadi. Sebab banyak WNI di luar negeri yang pernah bernasib serupa bahkan lebih parah dari Manohara, namun tidak tertangani oleh KBRI setempat.
"Pelayanan KBRI yang tidak mengenakkan bukan perkara baru. Sejak lama kinerja diplomat kita di luar negeri memang tidak beres, khususnya di Malaysia," tegas Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah saat dihubungi detikcom.
Anis melihat, lemahnya diplomasi RI lantaran setiap membentuk regulasi bersama secara bilateral maupun multilateral, posisi Indonesia selalu lemah. Akibatnya, KBRI tidak bisa berbuat banyak ketika ada WNI yang mengalami masalah di luar negeri.
Akhirnya, setiap WNI mengalami masalah di luar negeri, upaya proaktif lebih ditempuh pihak keluarga. Bukan pemerintah.
Pengamat hukum internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Djawahir Tantowi menilai, sejatinya, tugas KBRI mengurusi perlindungan WNI di luar negeri. Baik perlindungan secara HAM maupun ekonomi.
Para diplomat di KBRI, jelas Tantowi, seharusnya bisa menjembatani komunikasi antara WNI dengan pemerintahan di mana WNI itu berada. "KBRI yang harus proaktif berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Paling tidak selalu mendampingi warganya yang sedang dalam masalah di negeri orang," kata Tantowi.
Tapi Direktur Perlindungan WNI dan BHI Deplu RI Teguh Wardaya keberatan jika para diplomatnya dianggap tidak bekerja maksimal. "Alat ukurnya KBRI tidak peduli itu apa?" tegas Wardaya saat detikcom meminta tanggapannya.
Kata Wardaya, setiap WNI yang mengalami masalah di luar negeri, pihak KBRI selalu memberikan perlindungan. Pihaknya mengaku, sepanjang tahun 2008 sebanyak 29.000 TKI yang ada di 23 negara, yang mengalami masalah diberikan perlindungan.
"Setiap mendengar informasi WNI mengalami masalah di luar negeri kita kejar. Tapi hasilnya tentu tidak selalu memuaskan bagi keluarga. Karena kalau ukurannya kepuasan tentu sulit," ujarnya.
Diakuinya, dalam kasus Manohara, KBRI di Malaysia sangat sulit melakukan perlindungan karena pengawalan yang ketat dari petugas kesultanan Kelantan. Sedangkan dalam kasus David, jelas Teguh, pihak KBRI Singapura harus mengikuti prosedur hukum di negeri tersebut.
(ddg/iy)
Dapatkan ulasan lengkap mengenai laporan & investigasi Majalah Detik melalui iPad dan Android tablet Anda
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Laporan KhususTerbaru
Indeks Laporan Khusus »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Sabtu, 26/05/2012 10:00 WIB
5 Tersangka Ikuti Rekonstruksi Pembunuhan Kelasi Arifin
-
Sabtu, 26/05/2012 09:01 WIB
Panggil Ketua DPC PD, KPK Dalami Satu per Satu Kelompok di Hambalang
-
Sabtu, 26/05/2012 10:04 WIB
Polisi Buat Sketsa Pencuri Motor yang Tembak Mati 2 Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 08:12 WIB
Menelusuri Dugaan Duit Negara di Kongres Demokrat
-
277 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
