Indonesia Tak Akan Bawa Kasus Ambalat ke Den Haag
Selasa, 26/05/2009 11:34 WIB
Armada Malaysia dari jauh (Mayor Salim)
Jakarta
Indonesia tidak akan membawa masalah penyusupan armada perang Malaysia di perairan Ambalat, Kalimantan Timur, ke Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda. Indonesia cukup menyelesaikan persoalan ini ke hubungan bilateral kedua negara.
Berikut ini petikan wawancara detikcom dengan anggota Komisi Pertahanan (Komisi I) DPR Yusron Ihza Mahendra, Selasa (26/5/2009):
Bagaimana tanggapan Anda tentang masuknya kapal perang Malaysia ke Ambalat yang masih saja berulang?
Yang paling terdepan di dalam masalah ini harusnya Deplu dan Dephan. Kalau kita bicara tentang negara lain ini masuk luar negeri.
Pelanggaran kedaulatan yang berulang-ulang tentu tidak mungkin kita biarkan berlanjut. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan salah satunya berbicara kepada pihak Malaysia, itu tugas Deplu dan Dephan, dengan cara hubungan diplomatik.
Harus ada protes diplomatik yang keras terhadap wilayah itu. Kita harus tetap memperkuat pertahanan kita. Hercules kita pernah jatuh, seharusnya hal ini membuat pemerintah berfikir keras tentang pertahanan kita. Tapi itu semua tergantung keberanian politik Indonesia.
Tetapi ada satu hal juga yang perlu diwaspadai dalam kita melangkah. Sejauh yang saya ketahui, Ambalat itu ada kesepakatan antara Deplu RI dan Deplu Malaysia secara teritorial. Kesepakatannya sudah lama, Deplu keduanya adakan sidang, tapi tidak saya pantau hasilnya.
Perlu saya tegaskan, dalam masalah Ambalat, pemerintah tidak akan membawa ke (Mahkamah Internasional) Den Haag seperti Sipadan dan Sigitan, karena nanti kalah lagi. Lebih baik menyelesaikan secara bilateral antar dua negara saja, antara Deplu kita dengan Deplu Malaysia.
Ini juga analisa saya, perlu kita waspadai juga, jangan-jangan pelanggaran batas oleh pihak Malaysia itu dilakukan oleh tentara laut Malaysia untuk pancingan agar terjadi clash, dan nanti mencuat ke dunia internasional, dan dibawa ke Den Haag. Cobalah kita tembak, nanti mencuat dan dibawa ke dunia internasional. Kita bukan takut dibawa ke dunia internasional (tapi) nanti kita kalah lagi. Lebih baik dibawa saja ke diplomatik. Karena ini perangkap.
Diplomatik antara RI dengan Malaysia memang tidak berjalan selama ini karena kok kejadiannya berulang-ulang?
Deplu Malaysia dengan militer Malaysia tidak segaris. Ada upaya-upaya untuk menginternasionalisasi masalah ini.
Apa perlu kedua kepala negara bertemu untuk berbicara masalah ini?
Dalam pertemuan antara kedua kepala negara masalah semacam ini perlu dibicarakan dan ditindaklanjuti oleh pihak departemen masing-masing.
Sikap Komisi I nanti seperti apa?
Kita tentu akan mempertanyakan ini dalam sidang.
(nik/nrl)
Berikut ini petikan wawancara detikcom dengan anggota Komisi Pertahanan (Komisi I) DPR Yusron Ihza Mahendra, Selasa (26/5/2009):
Bagaimana tanggapan Anda tentang masuknya kapal perang Malaysia ke Ambalat yang masih saja berulang?
Yang paling terdepan di dalam masalah ini harusnya Deplu dan Dephan. Kalau kita bicara tentang negara lain ini masuk luar negeri.
Pelanggaran kedaulatan yang berulang-ulang tentu tidak mungkin kita biarkan berlanjut. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan salah satunya berbicara kepada pihak Malaysia, itu tugas Deplu dan Dephan, dengan cara hubungan diplomatik.
Harus ada protes diplomatik yang keras terhadap wilayah itu. Kita harus tetap memperkuat pertahanan kita. Hercules kita pernah jatuh, seharusnya hal ini membuat pemerintah berfikir keras tentang pertahanan kita. Tapi itu semua tergantung keberanian politik Indonesia.
Tetapi ada satu hal juga yang perlu diwaspadai dalam kita melangkah. Sejauh yang saya ketahui, Ambalat itu ada kesepakatan antara Deplu RI dan Deplu Malaysia secara teritorial. Kesepakatannya sudah lama, Deplu keduanya adakan sidang, tapi tidak saya pantau hasilnya.
Perlu saya tegaskan, dalam masalah Ambalat, pemerintah tidak akan membawa ke (Mahkamah Internasional) Den Haag seperti Sipadan dan Sigitan, karena nanti kalah lagi. Lebih baik menyelesaikan secara bilateral antar dua negara saja, antara Deplu kita dengan Deplu Malaysia.
Ini juga analisa saya, perlu kita waspadai juga, jangan-jangan pelanggaran batas oleh pihak Malaysia itu dilakukan oleh tentara laut Malaysia untuk pancingan agar terjadi clash, dan nanti mencuat ke dunia internasional, dan dibawa ke Den Haag. Cobalah kita tembak, nanti mencuat dan dibawa ke dunia internasional. Kita bukan takut dibawa ke dunia internasional (tapi) nanti kita kalah lagi. Lebih baik dibawa saja ke diplomatik. Karena ini perangkap.
Diplomatik antara RI dengan Malaysia memang tidak berjalan selama ini karena kok kejadiannya berulang-ulang?
Deplu Malaysia dengan militer Malaysia tidak segaris. Ada upaya-upaya untuk menginternasionalisasi masalah ini.
Apa perlu kedua kepala negara bertemu untuk berbicara masalah ini?
Dalam pertemuan antara kedua kepala negara masalah semacam ini perlu dibicarakan dan ditindaklanjuti oleh pihak departemen masing-masing.
Sikap Komisi I nanti seperti apa?
Kita tentu akan mempertanyakan ini dalam sidang.
(nik/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Kamis, 24/05/2012 02:13 WIB
Biadab! Pria Muda Perkosa & Bunuh Anak 4 Tahun
-
Kamis, 24/05/2012 02:39 WIB
Menghitung Sisa Hukuman Sang 'Ratu Mariyuana' Corby
-
Rabu, 23/05/2012 09:59 WIB
Inilah Sosok Pemangsa 19 Kambing yang Meresahkan Warga Banyumas
-
Kamis, 24/05/2012 01:28 WIB
Menelisik Batu Beraksara di Gunung Padang
-
686 Komentar
-
235 Komentar
-
219 Komentar
-
208 Komentar
Lapsus
Index »
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 469.000
- Rp 2,796.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
