Jangan Terjebak Label Neoliberal Vs Kerakyatan
Kamis, 14/05/2009 12:43 WIB
ireyogya.org
Jakarta
Calon pemilih diingatkan agar tidak terjebak label neoliberal dengan kerakyatan dalam menghadapi Pemilu Presiden (Pilpres) 2009. Bisa saja dalam aplikasinya antara neoliberal dan kerakyatan akan sama saja.
Demikian disampaikan pengamat pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (14/5/2009).
Istilah neoliberal mengemuka terkait keputusan SBY menggandeng Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono sebagai cawapresnya. Parpol peserta koalisi menolak Boediono dengan alasan ia penganut paham ekonomi neoliberal.
"Selama ini para calon hanya mengedepankan jargon-jargon saja. Jangan-jangan penganut ekonomi neoliberal dan ekonomi kerakyatan dalam aplikasinya sama," kritik Arie.
Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Arie Sudjito, Kamis :
Plus minus pilpres dengan tiga calon?
Kalau kekuatannya berimbang, bagus. Tapi kalau tidak berimbang mudah memprediksi siapa yang menang. Dalam sistem demokrasi, 3 capres lebih menarik, dengan asumsi bahwa ada substansi yang dimunculkan dan ini nanti yang jadi penilaian pemilih. Selama ini perdebatan lebih pada koalisi, tidak dimunculkan dia mau bawa apa dan yang membedakan dengan calon lain apa. Ini penting meski belum kampanye.
Kalau saat ini tidak ada bedanya tiga capres, jangan sampai saat kampanye perdebatan itu baru muncul. Kalau dimunculkan dari awal kan ada perdebatkan orang. Orang akan bikin spekulasi. Karena ini bagian dari pembelajaran politik. Kalau tidak ada perdebatan, tidak ada artinya.
Berarti pilpres nanti tidak seimbang, karena SBY mendominasi?
Kalau SBY melawan JK memang nggak imbang. Tapi kalau ada calon baru, bloknya seperti apa, ini nanti akan menjadi lebih menarik.
Efektifkah gerakan-gerakan menjaring koalisi sekarang mengingat masyarakat kita masih cenderung memilih figur?
Faktanya memang ke situ, masyarakat kita lebih memilih figur. Makanya ke depan yang harus kita lakukan adalah, selain memunculkan figur juga harus ada ukuran-ukuran. Figur selama ini dipilih sebagai reaksi atas tidak kerjanya alat-alat politik. Tidak beda jauh dengan pragmatisme.
Tiga capres yang muncul apakah ke depan bisa membawa Indonesia lebih baik lagi?
Indonesia sepertinya masih akan konservatif seperti sekarang ini siapa pun presiden yang terpilih. Kecuali ada perdebatan-perdebatan baru baru.
Perdebatan-perdebatan seperti apa?
Perdebatan bagaimana mengatasi krisis, bagaimana memajukan ekonomi, menyelesaikan utang luar negeri, mengurangi ketergantungan dengan asing, serta pelembagaan demokrasi.
Selama ini para calon hanya mengedepankan jargon-jargon saja. Jangan-jangan penganut ekonomi neoliberal dan ekonomi kerakyatan dalam aplikasinya sama. Jangan-jangan calon dari agama dan dari nasionalis juga sama.
Jadi harusnya yang seperti apa yang kita layak memimpin Indonesia nanti?
Yang pro pada populisme, tapi bisa menjaga stabilitas ekonomi dan pro rakyat.
Jadi tak masalah apakah yang memimpin berfaham neoliberal atau kerakyatan?
Ya harus pro kerakyatan. Tapi susah dibedakan neolib dan kerakyatan, karena sampai saat ini belum ada perdebatan soal itu.
Sebenarnya efektif nggak memperdebatkan neoliberal dan kerakyatan?
Selama ini kan cuma jargon-jargon saja. Calon Ini condong neolib, calon itu condong kerakyatan. Ukurannya apa? Jadi mereka memberi label dirinya masing-masing. Ini bentuk kolonisasi politik. Jangan sampai pemilih terjebak narsisme para calon.
(anw/iy)
Demikian disampaikan pengamat pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (14/5/2009).
Istilah neoliberal mengemuka terkait keputusan SBY menggandeng Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono sebagai cawapresnya. Parpol peserta koalisi menolak Boediono dengan alasan ia penganut paham ekonomi neoliberal.
"Selama ini para calon hanya mengedepankan jargon-jargon saja. Jangan-jangan penganut ekonomi neoliberal dan ekonomi kerakyatan dalam aplikasinya sama," kritik Arie.
Berikut wawancara lengkap detikcom dengan Arie Sudjito, Kamis :
Plus minus pilpres dengan tiga calon?
Kalau kekuatannya berimbang, bagus. Tapi kalau tidak berimbang mudah memprediksi siapa yang menang. Dalam sistem demokrasi, 3 capres lebih menarik, dengan asumsi bahwa ada substansi yang dimunculkan dan ini nanti yang jadi penilaian pemilih. Selama ini perdebatan lebih pada koalisi, tidak dimunculkan dia mau bawa apa dan yang membedakan dengan calon lain apa. Ini penting meski belum kampanye.
Kalau saat ini tidak ada bedanya tiga capres, jangan sampai saat kampanye perdebatan itu baru muncul. Kalau dimunculkan dari awal kan ada perdebatkan orang. Orang akan bikin spekulasi. Karena ini bagian dari pembelajaran politik. Kalau tidak ada perdebatan, tidak ada artinya.
Berarti pilpres nanti tidak seimbang, karena SBY mendominasi?
Kalau SBY melawan JK memang nggak imbang. Tapi kalau ada calon baru, bloknya seperti apa, ini nanti akan menjadi lebih menarik.
Efektifkah gerakan-gerakan menjaring koalisi sekarang mengingat masyarakat kita masih cenderung memilih figur?
Faktanya memang ke situ, masyarakat kita lebih memilih figur. Makanya ke depan yang harus kita lakukan adalah, selain memunculkan figur juga harus ada ukuran-ukuran. Figur selama ini dipilih sebagai reaksi atas tidak kerjanya alat-alat politik. Tidak beda jauh dengan pragmatisme.
Tiga capres yang muncul apakah ke depan bisa membawa Indonesia lebih baik lagi?
Indonesia sepertinya masih akan konservatif seperti sekarang ini siapa pun presiden yang terpilih. Kecuali ada perdebatan-perdebatan baru baru.
Perdebatan-perdebatan seperti apa?
Perdebatan bagaimana mengatasi krisis, bagaimana memajukan ekonomi, menyelesaikan utang luar negeri, mengurangi ketergantungan dengan asing, serta pelembagaan demokrasi.
Selama ini para calon hanya mengedepankan jargon-jargon saja. Jangan-jangan penganut ekonomi neoliberal dan ekonomi kerakyatan dalam aplikasinya sama. Jangan-jangan calon dari agama dan dari nasionalis juga sama.
Jadi harusnya yang seperti apa yang kita layak memimpin Indonesia nanti?
Yang pro pada populisme, tapi bisa menjaga stabilitas ekonomi dan pro rakyat.
Jadi tak masalah apakah yang memimpin berfaham neoliberal atau kerakyatan?
Ya harus pro kerakyatan. Tapi susah dibedakan neolib dan kerakyatan, karena sampai saat ini belum ada perdebatan soal itu.
Sebenarnya efektif nggak memperdebatkan neoliberal dan kerakyatan?
Selama ini kan cuma jargon-jargon saja. Calon Ini condong neolib, calon itu condong kerakyatan. Ukurannya apa? Jadi mereka memberi label dirinya masing-masing. Ini bentuk kolonisasi politik. Jangan sampai pemilih terjebak narsisme para calon.
(anw/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
284 Komentar
-
237 Komentar
-
220 Komentar
-
216 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 901.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
