detikcom

Syamsudin Haris: SBY Sukses Pecah Belah Koalisi Besar video foto

Niken Widya Yunita - detikNews
Senin, 11/05/2009 12:17 WIB
Foto: Dok.detikcom
Jakarta Di luar prediksi, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melirik PDIP. Sebaliknya, Koalisi Besar antara PDIP, Golkar, Hanura dan Gerindra pecah. SBY dinilai sukses mengacak-acak Koalisi Besar.

Berikut wawancara detikcom dengan pengamat politik LIPI Syamsudin Haris, Senin (11/5/2009).

PD membuat banyak politisi/pengamat melongo karena tiba-tiba banting setir?

Ya saya juga nggak habis pikir juga. Namanya kekuasaaan itu membuat politisi bisa mengubah posisi. Mungkin ada hubungannya dengan pembagian kekuasaan antara Partai Demokrat dan PDIP. Dengan kata lain, fenomena ini menjelaskan sangat pragmatisnya parpol-parpol kita. Jadi ideologi itu hanya tameng untuk kekuasaan.

Hal itu menunjukkan SBY canggih berpolitik?

Sebetulnya SBY mau merangkul PDIP dan Megawati sudah lama. Cuma tidak ada respons dan sekarang sudah merespons karena PDIP ada kebuntuan koalisi, ada masalah di PDIP. Koalisi Besar itu tampaknya gagal sejak JK sama Wiranto memutuskan maju sebagai pasangan capres-cawapres. Di sisi lain Prabowo ngotot menjadi capres dan Mega tidak mau kalah. Mungkin dihadapkan pada kebuntuan koalisi itu maka PDIP ada peluang.

Jadi menunjukkan SBY canggih berpolitik?

Mungkin istilah itu bisa dipakai. Kecanggihan itu bisa dilihat dengan memecah belah kubu lawan.

Bisa dibilang nasib Koalisi Besar tamat?

Saya kira yang namanya Koalisi Besar itu sejak JK-Wiranto deklarasi, sudah gagal. Saya nggak yakin ada masa depan lebih baik di parleman. Saya menduga Koalisi Besar kalau basisnya hanya negosiasi itu tidak akan lama.

Kembali lagi ke koalisi PD-PDIP, koalisi seperti apa yang kemungkinan bisa terbentuk?

Saya pikir PD sama PDIP saling merapat bukan dalam membentuk koalisi. Tapi ini ada hubungannya dengan keinginan SBY untuk mengambil cawapres dari tokoh yang dekat dengan PDIP. Saya menduga itu.

Apakah cawapresnya Taufiq Kiemas atau Pramono Anung?

Ya nggak tahu ya.

PDIP kan tidak menawarkan kursi cawapres. Jadi koalisi seperti apa yang masuk akal?

Memang tidak, saya menduga ada tokoh yang dekat dengan PDIP yang hendak dipinang oleh SBY, misalnya Boediono. Dulu kan dia menteri di zaman Mega, mungkin itu dugaan saya.

Saya berpendapat, SBY akan menghindari untuk mengambil cawapres dari partai yang berkoalisi dengannya. Kenapa? Sebab akan menimbulkan selisih internal koalisi. PKS kan menawarkan Hidayat Nurwahid, PAN menawarkan Hatta Rajasa. Saya menduga SBY tidak akan memilih dua-duanya ataupun Muhaimin Iskandar. SBY akan memilih di luar itu. Boediono kan masuk di dalam kategori yang di luar tadi.

Apa untung ruginya jika PD dan PDIP berkoalisi?

Untungnya bagi PDIP mungkin dia bisa menjadi bagian dari pemerintahan SBY yang akan datang. Bagi PD, ya tentu memperkuat basis politik bagi SBY dalam koalisi di parlemen kalau SBY menang.

Ruginya, tentu bagi pendukung Megawati yang loyal masih menginginkan Mega sebagai capres. Bagi PD, saya kira nggak ada ruginya.

Bila PD menggandeng PDIP, bagaimana nasib PAN, PPP, PKS dan PKB?

Kan SBY sudah menegaskan, koalisinya itu koalisi atas dasar kesamaan platform, bukan bagi-bagi kekuasaan. Artinya, SBY tidak punya komitmen apapun mengenai jabatan cawapres.

Apakah mungkin mereka akan mengancam keluar dari koalisi?

Mungkin saja, sebab saya sekarang menduga kontrak koalisi itu sendiri belum ditandatangani. Masih sepakat, tapi belum tanda tangan. Poin sudah disepakati, tapi belum tanda tangan.

Apa ada juga yang akan ikut SBY?

Saya menduga yang akan ikut SBY ya PKB. Sebab secara formal PKB tidak menyinggung cawapres. Kalau PAN dan PKS kan menyodorkan nama.

Jadi akan ada koalisi baru?

Betul. Kalau ada pendekatan PD atau SBY dengan Mega atau PDIP itu akan mengubah peta koalisi. Ada kemungkinan ancaman dari PKS dan PAN.

Kira-kira peta politik nanti seperti apa?

Kita akan menunggu. Ya yang sekarang sudah jelas JK-Wiranto karena sudah dideklarasikan kepada publik. Peta politik nanti tergantung pada tokoh SBY dan Mega. Kalau SBY misalnya betul akan mendekat ke Mega dan sebaliknya, tentu akan terbentuk koalisi baru dengan tokoh Prabowo. Tokoh yang kecewa bisa gabung ke Prabowo atau JK-Wiranto.
(nik/nrl)

Share:


Komentar (0 Komentar)

    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Lapsus Index »
    Cari Penawaran Terbaik di Sini