Golkar Paling Cocok Koalisi dengan PDIP
Jumat, 24/04/2009 11:47 WIB
Jakarta
Pasca diputuskan menjadi calon presiden (Capres) Golkar, Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla (JK) sibuk mendekati partai lain untuk berkoalisi. Kamis kemarin, JK bertemu dengan Jajaran PDIP. Pertemuan kedua partai besar tersebut akan berlanjut hari ini.
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto mengatakan, kubu beringin memang paling memungkinkan berkoalisi dengan PDIP. Koalisi dengan parpol lain, misalnya Gerindra atau Hanura, tak akan mendongkrak Golkar.
"Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis," kata Yulianto kepada detikcom, Kamis (24/4/2009).
Berikut wawancara dengan Yulianto selengkapnya:
Tanggapan Anda mengenai pencalonan JK sebagai presiden oleh Golkar?
Tadinya Golkar ingin keluar dari kongsi politik dengan Demokrat. Dari awal pun Jusuf Kalla (JK) juga sudah mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Mengapa kini mencalonkan presiden, ya, karena pertimbangan kalau kembali ke Demokrat harga politik Golkar akan turun drastis.
Mengapa DPD II Golkar banyak yang menolak keputusan Rapimnassus?
Penolakan itu karena DPD Golkar di tingkat kabupaten/kota lebih realistis. Dengan perolehan suara seperti ini (14 persen), Golkar memang terpaksa harus mengajukan cawapres.
Jadi bagaimana peluang JK dalam pilpres?
Kalau Pak JK maju dengan blok sendiri, selama solidaritas hubungan antara antara DPD dan DPP terjaga, dia akan mampu menjadi pesaing SBY. Majunya JK itu memperuncing konflik internal khususnya antara DPD II dengan DPP.
Padahal kalau ingin tahu, kekuatan utama Golkar itu adalah di daerah-daerah. Keputusan DPP untuk mengajukan JK itu menjadi kontraproduktif berhadapan dengan DPD, terutama di Jawa.
Keputusan sudah diambil, dan Golkar sedang mendekati parpol lain untuk berkoalisi. Dengan siapa sebaiknya koalisi itu dibangun?
Saya kira kalau Golkar berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura, itu sesungguhnya jeruk minum jeruk. Kan orang-orangnya sama. Orang Golkar lama semua, yang disatukan dengan pakaian berbeda-beda. Itu tidak akan bisa mendongkrak suara JK. Apalagi suara Golkar banyak digerogoti oleh Gerindra dan Hanura.
Bagaimana kalau dengan PDIP?
Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis.
Sementara kedua partai sama-sama ingin mengajukan capres, bisakah Golkar dan PDIP menyatu?
Memang yang menjadi masalah jika Golkar-PDIP berkoalisi adalah siapa yang jadi presiden dan wakil presiden. Tapi dalam politik segalanya bisa terjadi dan bersinergi untuk pilpres.
Sebaiknya siapa yang jadi capres?
Kalau saya lihat dari prospek kepemimpinan, serta aura politik, saya lebih condong capresnya dari Golkar, cawapres dari PDIP dengan menganulir hasil Rapimnas PDIP. Saya kira nilai jualnya lebih bagus.
Dengan keputusan Rapimnassus Golkar, bagaimana kesempatan buat Akbar Tandjung?
Menurut saya sudah semakin tipis dan sulit. DPP sudah tidak menginginkan. Sementara statement SBY bahwa siapa cawapres dari Golkar harus melalui mekanisme Rapimnassus.
(irw/nrl)
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto mengatakan, kubu beringin memang paling memungkinkan berkoalisi dengan PDIP. Koalisi dengan parpol lain, misalnya Gerindra atau Hanura, tak akan mendongkrak Golkar.
"Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis," kata Yulianto kepada detikcom, Kamis (24/4/2009).
Berikut wawancara dengan Yulianto selengkapnya:
Tanggapan Anda mengenai pencalonan JK sebagai presiden oleh Golkar?
Tadinya Golkar ingin keluar dari kongsi politik dengan Demokrat. Dari awal pun Jusuf Kalla (JK) juga sudah mendeklarasikan diri menjadi calon presiden. Mengapa kini mencalonkan presiden, ya, karena pertimbangan kalau kembali ke Demokrat harga politik Golkar akan turun drastis.
Mengapa DPD II Golkar banyak yang menolak keputusan Rapimnassus?
Penolakan itu karena DPD Golkar di tingkat kabupaten/kota lebih realistis. Dengan perolehan suara seperti ini (14 persen), Golkar memang terpaksa harus mengajukan cawapres.
Jadi bagaimana peluang JK dalam pilpres?
Kalau Pak JK maju dengan blok sendiri, selama solidaritas hubungan antara antara DPD dan DPP terjaga, dia akan mampu menjadi pesaing SBY. Majunya JK itu memperuncing konflik internal khususnya antara DPD II dengan DPP.
Padahal kalau ingin tahu, kekuatan utama Golkar itu adalah di daerah-daerah. Keputusan DPP untuk mengajukan JK itu menjadi kontraproduktif berhadapan dengan DPD, terutama di Jawa.
Keputusan sudah diambil, dan Golkar sedang mendekati parpol lain untuk berkoalisi. Dengan siapa sebaiknya koalisi itu dibangun?
Saya kira kalau Golkar berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura, itu sesungguhnya jeruk minum jeruk. Kan orang-orangnya sama. Orang Golkar lama semua, yang disatukan dengan pakaian berbeda-beda. Itu tidak akan bisa mendongkrak suara JK. Apalagi suara Golkar banyak digerogoti oleh Gerindra dan Hanura.
Bagaimana kalau dengan PDIP?
Kalau dengan PDIP lebih bagus, karena dari dulu konstituennya berbeda, sementara ideologinya sama-sama nasionalis.
Sementara kedua partai sama-sama ingin mengajukan capres, bisakah Golkar dan PDIP menyatu?
Memang yang menjadi masalah jika Golkar-PDIP berkoalisi adalah siapa yang jadi presiden dan wakil presiden. Tapi dalam politik segalanya bisa terjadi dan bersinergi untuk pilpres.
Sebaiknya siapa yang jadi capres?
Kalau saya lihat dari prospek kepemimpinan, serta aura politik, saya lebih condong capresnya dari Golkar, cawapres dari PDIP dengan menganulir hasil Rapimnas PDIP. Saya kira nilai jualnya lebih bagus.
Dengan keputusan Rapimnassus Golkar, bagaimana kesempatan buat Akbar Tandjung?
Menurut saya sudah semakin tipis dan sulit. DPP sudah tidak menginginkan. Sementara statement SBY bahwa siapa cawapres dari Golkar harus melalui mekanisme Rapimnassus.
(irw/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Rabu, 23/05/2012 17:56 WIB
Amien Rais: Mengapa Konser Lady Gaga Harus Dilarang?
-
Rabu, 23/05/2012 18:05 WIB
Kisah Sigit 11 Tahun Menggugat Kecelakaan Singapore Airlines
-
Rabu, 23/05/2012 18:54 WIB
Pengacara: Kasus Ari Sigit adalah Masalah Perdata
-
Rabu, 23/05/2012 18:32 WIB
Hidayat Nurwahid Akan Kerja Keras 'Kalahkan' Fauzi Bowo di Pilkada DKI
-
685 Komentar
-
454 Komentar
-
234 Komentar
-
228 Komentar
Lapsus
Index »
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Senin, 21/05/2012 12:10 WIB
Berapapun Dibayar Asal Bungkam
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,049.000
- Rp 2,796.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer








Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
