Pilihan Terbaik JK Kembali ke Pelukan SBY
Jumat, 10/04/2009 12:05 WIB
Jakarta
Posisi Ketua Umum Golkar Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) kini serba salah. Partai Golkar dikalahkan secara telak oleh Partai Demokrat (PD). Padahal JK sudah sempat menyatakan akan maju sebagai capres, pisah dari SBY. Kini apa yang terbaik untuk JK?
"Kalau Golkar bermental seperti partai penguasa, pilihan terbaik adalah bergabung kembali dengan SBY," ujar dosen politik Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto, ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (10/4/2009).
Quick count yang dilansir beberapa lembaga survei menunjukkan suara Partai Golkar dalam Pemilu Legislatif 2009 ini menurun sekitar 6 persen. Dari 21,6 persen pada Pemilu 2004 menjadi sekitar 14-15 persen pada Pemilu 2009.
Justru Partai Demokrat (PD) secara gemilang diprediksi berhasil meraup suara mendekati 20 persen dan merebut mahkota juara Pemilu 2009 dari Golkar.
Hasil itu tentunya akan berpengaruh pada niat partai beringin itu untuk mengusung kadernya sendiri sebagai capres. Golkar harus berpikir ulang untuk Jusuf Kalla (JK) sebagai capres.
Berikut wawancara lengkap dengan Yulianto, Jumat (10/5/2009):
Terkait menurunnya suara Golkar, bagaimana peluang JK?
Kalau Golkar bermental seperti partai penguasa, pilihan terbaiknya adalah bergabung kembali dengan SBY. Karena Golkar tidak pernah menjadi oposisi dan sekarang ini mentalnya masih jadi partai penguasa.
Apakah itu mungkin ?
Golkar dikenal paling licin dan luwes dalam bermanuver. Kalau sudah pernah mengatakan akan mengusung capres, cabut kembali deklarasi dan kembali gabung ke SBY. Istilahnya menjilat ludahnya sendiri. Di Rapimnas putusannya itu.
Golkar punya kecanggihan dalam pragmatisme politk. Mereka mempertimbangkan perilaku politik yang sifatnya hanya sesaat yang diperoleh cepat seperti kekuasaan dan jabatan eksekutif. Mereka tidak berpikiran untuk berpolitik jangka panjang. Hanya retorika politik untuk meraih jabatan saja.
Apakah SBY mau menerima JK kembali?
SBY pasti akan mempertimbangkannya lagi, karena Demokrat butuh untuk memperkuat parlemen. Kalau dia mempertimbangkan peta kekuatan di parlemen, pasti dia akan mempertimbangkan JK lagi, dan sebaiknya memang SBY membuka kembali peluang JK untuk kembali menjadi wapres.
Kalau bergabung dengan PDIP bagaimana?
Kalau Megawati harga mati sebagai capres, maka sulit bagi keduanya untuk koalisi harus ada yang mengalah. Sampai hari ini melihat perolehan suara Demokrat, rakyat sulit untuk dibendung tidak memilih SBY.
(Rez/iy)
"Kalau Golkar bermental seperti partai penguasa, pilihan terbaik adalah bergabung kembali dengan SBY," ujar dosen politik Universitas Diponegoro (Undip) Yulianto, ketika berbincang dengan detikcom, Jumat (10/4/2009).
Quick count yang dilansir beberapa lembaga survei menunjukkan suara Partai Golkar dalam Pemilu Legislatif 2009 ini menurun sekitar 6 persen. Dari 21,6 persen pada Pemilu 2004 menjadi sekitar 14-15 persen pada Pemilu 2009.
Justru Partai Demokrat (PD) secara gemilang diprediksi berhasil meraup suara mendekati 20 persen dan merebut mahkota juara Pemilu 2009 dari Golkar.
Hasil itu tentunya akan berpengaruh pada niat partai beringin itu untuk mengusung kadernya sendiri sebagai capres. Golkar harus berpikir ulang untuk Jusuf Kalla (JK) sebagai capres.
Berikut wawancara lengkap dengan Yulianto, Jumat (10/5/2009):
Terkait menurunnya suara Golkar, bagaimana peluang JK?
Kalau Golkar bermental seperti partai penguasa, pilihan terbaiknya adalah bergabung kembali dengan SBY. Karena Golkar tidak pernah menjadi oposisi dan sekarang ini mentalnya masih jadi partai penguasa.
Apakah itu mungkin ?
Golkar dikenal paling licin dan luwes dalam bermanuver. Kalau sudah pernah mengatakan akan mengusung capres, cabut kembali deklarasi dan kembali gabung ke SBY. Istilahnya menjilat ludahnya sendiri. Di Rapimnas putusannya itu.
Golkar punya kecanggihan dalam pragmatisme politk. Mereka mempertimbangkan perilaku politik yang sifatnya hanya sesaat yang diperoleh cepat seperti kekuasaan dan jabatan eksekutif. Mereka tidak berpikiran untuk berpolitik jangka panjang. Hanya retorika politik untuk meraih jabatan saja.
Apakah SBY mau menerima JK kembali?
SBY pasti akan mempertimbangkannya lagi, karena Demokrat butuh untuk memperkuat parlemen. Kalau dia mempertimbangkan peta kekuatan di parlemen, pasti dia akan mempertimbangkan JK lagi, dan sebaiknya memang SBY membuka kembali peluang JK untuk kembali menjadi wapres.
Kalau bergabung dengan PDIP bagaimana?
Kalau Megawati harga mati sebagai capres, maka sulit bagi keduanya untuk koalisi harus ada yang mengalah. Sampai hari ini melihat perolehan suara Demokrat, rakyat sulit untuk dibendung tidak memilih SBY.
(Rez/iy)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
WawancaraTerbaru
Indeks Wawancara »
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
-
Senin, 14/05/2012 20:25 WIB
Pilot Jeffrey Adrian: Radio, HP, Pegunungan Ganggu Komunikasi dengan ATC
-
Kamis, 10/05/2012 19:12 WIB
Menkeu: Saya Memilih Tidak Menjadi Saksi untuk Wa Ode
-
Senin, 07/05/2012 18:52 WIB
Direktur Pembinaan SD: Sekali Lagi, Jangan Terpengaruh SMS Gadungan Soal UN
-
Senin, 30/04/2012 20:20 WIB
Dr Mudzakkir: Jangan Sampai Anak Jadi Tameng Penangguhan Penahanan
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
Minggu, 27/05/2012 04:05 WIB
Mayat Tinggal Tengkorak Ditemukan di Kebon Jeruk
-
Minggu, 27/05/2012 05:27 WIB
Hidayat-Didik Mendapat Dukungan dari Warga Jakarta di Jepang
-
283 Komentar
-
235 Komentar
-
216 Komentar
-
215 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 2,847.000
- Rp 901.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
