detikcom
Kamis, 05/03/2009 13:10 WIB

Gagal Turunkan Angka Kemiskinan, SBY Harus Minta Maaf

M. Rizal Maslan - detikNews
Jakarta - Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) menghargai pengakuan pemerintah atas kegagalannya mengentaskan kemiskinan. Namun, pengakuan ini seharusnya diikuti dengan permintaan maaf Presiden SBY kepada rakyatnya.

"Kita menghargai pemerintah akhirnya mengakui kegagalan mencapai target penurunan kemiskinan. Namun, kita menilai sebaiknya presiden sendiri yang mengumumkan kegagalan memenuhi janjinya itu," kata Ketua Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens.

Hal itu disampaikan Boni dalam jumpa persnya di Jakarta Media Center (JMC) Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2009).

Hal itu disampaikan LPI terkait pengakuan Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional yang tidak mampu menurunkan angka kemiskinan di tahun 2009 pada angka 8,2 persen. Pemerintah hanya mengakui mampu menurunkan angka
kemiskinan di tahun ini pada angka 12-13,5 persen.

Menurut Boni, perlunya permintaan maaf SBY ini, karena janji penurunan kemiskinan sudah didokumentasikan dalam aturan Peraturan Presiden (Perpres) No 7/2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009.

"Ini akan menjadi tradisi sehat bagi demokrasi bila presiden berani mengumumkan kegagalannya itu. Dan, jauh lebih berani bila presiden meminta maaf kepada pemilihnya," jelasnya.

Boni menyayangkan adanya klaim keberhasilan SBY menurunkan harga BBM tiga kali dan sembako. "Kenyataan harga sembako justru semakin membumbung. Begitu juga klaim kenaikan anggaran pendidikan," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, LPI menghaparkan dalam Pemilu 2009 tidak hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan. Pemilu kali ini, lanjut Boni, bisa menjadi momentum pendidikan politik bagi pemilih untuk menagih apa yang sudah dijanjikan pemimpin.
(zal/nik)





Sponsored Link

Komentar (0 Komentar)

    Silakan  atau daftar untuk mengirim komentar
    Tampilkan Komentar di:        

    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    • Selasa, 14/05/2013 14:56 WIB
      50 Tahun Integrasi Irian Barat ke NKRI
      Tokoh Integrasi Papua Yahya Solosa: Riak Separatisme Memang Ada
      Gb Pada 1 Mei lalu bertepatan dengan 50 tahun integrasi Irian Barat (sekarang Papua) ke Indonesia. Namun pertanyaan saat ini tentunya adalah, selama setengah abad, adakah makna bergabungnya Papua ke wilayah Indonesia bagi masyarakatnya?
    ProKontra Index »

    Melawan KPK Jadi Bumerang Buat PKS

    PKS melakukan perlawanan ke KPK dengan akan melaporkan penyidik KPK ke Mabes Polri. Menurut konsultan politik Dimas Oky Nugroho dari Akar Rumput Strategic Political Consulting, aksi PKS ini justru akan menjadi bumerang, kehilangan simpati publik. Lebih baik, PKS tak ikut campur dalam kasus Luthfi Hasan Ishaaq. PKS bisa mencontoh partai lainnya bila berhadapan dengan KPK dengan melakukan pembersihan internal. Bila Anda setuju dengan pernyataan Dimas Oky Nugroho, pilih Pro!
    Pro
    46%
    Kontra
    54%
    Cari Penawaran Terbaik di Sini
    Info Promosi Travel