Pembagian Kartu Jamkesmas Rawan Korupsi
Rabu, 25/02/2009 15:41 WIB
Foto: Demo Jamkesmas
Jakarta
Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dinilai rawan korupsi. Indikasinya dari rawannya pembagian kartu dan konspirasi antara pemerintah daerah dengan rumah sakit setempat Namun belakangan program Jamkesmas justru dikatakan rawan korupsi.
"Ada titik rawan korupsi di sini (Jamkesmas)," kata Koordinator Divisi Pelayanan Publik Indonesian Corruption Watch (ICW) Ade Irawan dalam jumpa pers bertema 'Jamkesmas, Belum Berpihak Kepada Rakyat Miskin' di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta, Rabu (25/2/2009).
Menurut Ade, potensi yang paling besar untuk korupsi ada pada tingkat daerah, karena selain pemerintah pusat, pemerintah daerah juga ada Jamkesda.
"Jadi ada potensi untuk kongkalikong antara pemda dan Rumah sakit," jelas Ade.
Dikatakan Ade, uang yang dikuota untuk satu pasien bisa jadi diberikan dari dua sumber yakni jamkesmas dan jamkesda. Namun dana yang dibagikan justru hanya salah satunya saja, sehingga uang yang sudah masuk dari jaminan lainnya berpotensi untuk dikorupsi.
"Pembagian uang ke rumah sakit-rumah sakit inilah yang menjadi titik kelemahan dasar," akunya.
Selain itu, berdasarkan penelitian ICW terhadap program Jamkesmas, masih menunjukkan adanya pungutan untuk mendapatkan kartu. Bahkan survei ICW menunjukkan, ketua RT/RW yang paling banyak menjadi aktor penarik pungutan kartu Jamkesmas.
"Pungutannya rata-rata Rp 10 ribu untuk tiap penerima kartu yang diberikan antara lain kepada ketua RT/RW, kepala kader posyandu dan petugas kelurahan," bebernya.
Alasan pungutan itu sendiri menurut Ade, sebagai pengganti biaya transportasi atau sekedar sumbangn sukarela untuk operasional RT.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan program Askeskin, diakui Ade, Jamkesmas lebih baik. Hal ini dikarenakan proses pemberian jaminan pada Jamkesmas lebih cepat dibandingkan Askeskin.
"Tapi yang paling penting adalah hingga kini banyak pengguna kartu Jamkesmas takut menggunakan kartu karena takut mendapatkan pelayanan buruk dan sakitnya justru bertambah parah," pungkasnya.
Sebelumnya, pemerintah telah mengganti program Askeskin menjadi Jamkesmas karena lamanya proses pengajuan dalam askeskin. Dalam mekanisme Jamkesmas, PT Askes tidak lagi ditugasi melakukan pengelolaan keuangan program dan hanya dibebani tugas mengelola kepesertaan, praverifikasi peserta dan pelayanan program.
Kegiatan verifikasi yang meliputi verifikasi pelayanan, keuangan dan administrasi dalam Program Jamkesmas justru dilakukan oleh tenaga verifikator independen yang direkrut oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan di daerah. (nov/ndr)
"Ada titik rawan korupsi di sini (Jamkesmas)," kata Koordinator Divisi Pelayanan Publik Indonesian Corruption Watch (ICW) Ade Irawan dalam jumpa pers bertema 'Jamkesmas, Belum Berpihak Kepada Rakyat Miskin' di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta, Rabu (25/2/2009).
Menurut Ade, potensi yang paling besar untuk korupsi ada pada tingkat daerah, karena selain pemerintah pusat, pemerintah daerah juga ada Jamkesda.
"Jadi ada potensi untuk kongkalikong antara pemda dan Rumah sakit," jelas Ade.
Dikatakan Ade, uang yang dikuota untuk satu pasien bisa jadi diberikan dari dua sumber yakni jamkesmas dan jamkesda. Namun dana yang dibagikan justru hanya salah satunya saja, sehingga uang yang sudah masuk dari jaminan lainnya berpotensi untuk dikorupsi.
"Pembagian uang ke rumah sakit-rumah sakit inilah yang menjadi titik kelemahan dasar," akunya.
Selain itu, berdasarkan penelitian ICW terhadap program Jamkesmas, masih menunjukkan adanya pungutan untuk mendapatkan kartu. Bahkan survei ICW menunjukkan, ketua RT/RW yang paling banyak menjadi aktor penarik pungutan kartu Jamkesmas.
"Pungutannya rata-rata Rp 10 ribu untuk tiap penerima kartu yang diberikan antara lain kepada ketua RT/RW, kepala kader posyandu dan petugas kelurahan," bebernya.
Alasan pungutan itu sendiri menurut Ade, sebagai pengganti biaya transportasi atau sekedar sumbangn sukarela untuk operasional RT.
Meski begitu, jika dibandingkan dengan program Askeskin, diakui Ade, Jamkesmas lebih baik. Hal ini dikarenakan proses pemberian jaminan pada Jamkesmas lebih cepat dibandingkan Askeskin.
"Tapi yang paling penting adalah hingga kini banyak pengguna kartu Jamkesmas takut menggunakan kartu karena takut mendapatkan pelayanan buruk dan sakitnya justru bertambah parah," pungkasnya.
Sebelumnya, pemerintah telah mengganti program Askeskin menjadi Jamkesmas karena lamanya proses pengajuan dalam askeskin. Dalam mekanisme Jamkesmas, PT Askes tidak lagi ditugasi melakukan pengelolaan keuangan program dan hanya dibebani tugas mengelola kepesertaan, praverifikasi peserta dan pelayanan program.
Kegiatan verifikasi yang meliputi verifikasi pelayanan, keuangan dan administrasi dalam Program Jamkesmas justru dilakukan oleh tenaga verifikator independen yang direkrut oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan di daerah. (nov/ndr)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 26/05/2012 13:45 WIB
Ini Ciri-ciri Detail Pelaku Maling Motor Penembak Satpam IPB
-
Sabtu, 26/05/2012 13:44 WIB
Penyelundup Uang Palsu Diringkus di Pelabuhan Bakauheni
-
Sabtu, 26/05/2012 13:40 WIB
Jual Sabu, Polisi Berpangkat Brigadir Dibekuk di Medan
-
Sabtu, 26/05/2012 13:03 WIB
Menkeu Tetap Menolak Bersaksi untuk Wa Ode, Termasuk di Pengadilan
-
Sabtu, 26/05/2012 12:41 WIB
Mayat Penuh Luka Ditemukan Terapung di Sungai Sei Putih
-
Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Rakyat Yaman Gelar Demo Anti-Amerika dan Anti-Israel
-
Sabtu, 26/05/2012 12:16 WIB
Lagi, Pesawat Tak Berawak AS Tewaskan 4 Militan di Pakistan
-
Sabtu, 26/05/2012 11:03 WIB
Ini Alasan Mahfud MD Ikut Sambut Bachtiar Chamsyah di Cipinang
-
Sabtu, 26/05/2012 12:13 WIB
Menkum: Apa yang Mereka Lakukan untuk WNI yang Dibui di Luar Negeri?
-
279 Komentar
-
245 Komentar
-
236 Komentar
-
213 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 575.000
- Rp 6,047.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
