Sengketa Lahan di Riau Picu Konflik Masyarakat dengan Perusahaan
Selasa, 20/01/2009 16:05 WIB
Pekanbaru
Sengketa lahan di Riau yang belum terselesaikan pemerintah sepanjang tahun 2008 seluas 200.586.10 hektar. Sengketa lahan tersebut memicu konflik antara masyarakat dengan sejumlah perusahaan dan pemerintah.
Direktur Sustainable Social Development Partnership (Scal Up) Riau, Ahmad Zazali, mengungkapkan itu kepada detikcom, Selasa (20/01/2008) di Pekanbaru.
Data Scal Up menyebut, akibat sengketa lahan ini, pada tahun 2008 telah terjadi 96 kasus konflik. Konflik lahan ini tertinggi pada sengketa lahan masyarakat dengan industri perkebunan kelapa sawit mencapai 29 konflik yang memperebutkan sekitar 58.105 hektar lahan. "Sebagian lagi konflik antara masyarakat dengan pemerintah dalam menempati kawasan konservasi," kata Zazali.
Data Scal Up, menyebut, untuk sengkete lahan antara masyarakat dengan pemerintah misalnya terjadi di kawasan konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Dari 38.576 hektare sekitar 7.600 hektare lahannya dicaplok masyarakat. Hingga kini penyelesaian kasus tersebut belum jelas. Pemerintah belum bisa mengeluarkan masyarakat yang bermukim di dalam areal wilayah konservasi gajah tersebut.
Begitu juga dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim yang memiliki luas 6.150 hektar, hanya tersisa 1.900 hekatar saja masih lestari. Selebihnya sudah dicaplok masyarakat untuk perkebunan kelapa sawit.
"Kami memprediksi perebutan lahan pada 2009 akan lebih meningkat lagi. Hal itu bisa dilihat dari migrasi penduduk yang lebih besar dari berbagai daerah tetangga," kata Zazali.
Zali juga menyebut, dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan akibat krisis global, salah satu pendukung meningkatnya konflik lahan. Sebab para pekerja yang di PHK kembali ke kampung halamannya untuk mengelola lahan yang justru statusnya sudah dikuasai pihak lain.
"Karena itu kita menyarankan kepada pemerintah untuk mengidentifikasi kepemilikan hak ulayat di Riau. Ini juga mengantisipasi klaim dari hak hak ulayat yang tidak jelas," ujar Zazali.
Karena itu, Scale Up juga meminta Pemerintah Provinsi Riau, untuk segera merivisi Tata Ruang Wilayah Riau yang saat ini belum selesai dilakukan sejak 2001 lalu. Pemerintah juga diminta untuk membuat protokol penyelesaian konflik lahan. Termasuk membentuk lembaga independen menangani masalah ini.
"Kalau semua sudah dilakukan, maka dengan sendirinya akan mengeliminir terjadinya konflik lahan," kata Zali. (cha/djo)
Direktur Sustainable Social Development Partnership (Scal Up) Riau, Ahmad Zazali, mengungkapkan itu kepada detikcom, Selasa (20/01/2008) di Pekanbaru.
Data Scal Up menyebut, akibat sengketa lahan ini, pada tahun 2008 telah terjadi 96 kasus konflik. Konflik lahan ini tertinggi pada sengketa lahan masyarakat dengan industri perkebunan kelapa sawit mencapai 29 konflik yang memperebutkan sekitar 58.105 hektar lahan. "Sebagian lagi konflik antara masyarakat dengan pemerintah dalam menempati kawasan konservasi," kata Zazali.
Data Scal Up, menyebut, untuk sengkete lahan antara masyarakat dengan pemerintah misalnya terjadi di kawasan konservasi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Dari 38.576 hektare sekitar 7.600 hektare lahannya dicaplok masyarakat. Hingga kini penyelesaian kasus tersebut belum jelas. Pemerintah belum bisa mengeluarkan masyarakat yang bermukim di dalam areal wilayah konservasi gajah tersebut.
Begitu juga dengan Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim yang memiliki luas 6.150 hektar, hanya tersisa 1.900 hekatar saja masih lestari. Selebihnya sudah dicaplok masyarakat untuk perkebunan kelapa sawit.
"Kami memprediksi perebutan lahan pada 2009 akan lebih meningkat lagi. Hal itu bisa dilihat dari migrasi penduduk yang lebih besar dari berbagai daerah tetangga," kata Zazali.
Zali juga menyebut, dengan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan akibat krisis global, salah satu pendukung meningkatnya konflik lahan. Sebab para pekerja yang di PHK kembali ke kampung halamannya untuk mengelola lahan yang justru statusnya sudah dikuasai pihak lain.
"Karena itu kita menyarankan kepada pemerintah untuk mengidentifikasi kepemilikan hak ulayat di Riau. Ini juga mengantisipasi klaim dari hak hak ulayat yang tidak jelas," ujar Zazali.
Karena itu, Scale Up juga meminta Pemerintah Provinsi Riau, untuk segera merivisi Tata Ruang Wilayah Riau yang saat ini belum selesai dilakukan sejak 2001 lalu. Pemerintah juga diminta untuk membuat protokol penyelesaian konflik lahan. Termasuk membentuk lembaga independen menangani masalah ini.
"Kalau semua sudah dilakukan, maka dengan sendirinya akan mengeliminir terjadinya konflik lahan," kata Zali. (cha/djo)
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 27/05/2012 10:24 WIB
Bayi Kembar Tertimbun Longsor di Kendari, Satu Meninggal
-
Minggu, 27/05/2012 10:21 WIB
Rencana Konser Lady Gaga Dinilai Dipolitisasi
-
Minggu, 27/05/2012 10:16 WIB
Semua Kader PD Wajib Penuhi Panggilan KPK Soal Uang ke Kongres
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
Minggu, 27/05/2012 09:45 WIB
Komisi V Desak KNKT dan Kemenhub Bentuk Tim Investigasi FDR Sukhoi
-
Minggu, 27/05/2012 10:24 WIB
Bayi Kembar Tertimbun Longsor di Kendari, Satu Meninggal
-
Minggu, 27/05/2012 08:47 WIB
Grasi Corby Diharapkan Dapat Memudahkan Masalah WNI di Luar Negeri
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
284 Komentar
-
237 Komentar
-
222 Komentar
-
220 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 575.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
