Panwaslu Bukan Lembaga Pencari-cari Kesalahan
Senin, 19/01/2009 16:01 WIB
Jakarta
Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) saat ini masih dirasa lamban dalam melakukan kegiatan pengawasan. Salah satu faktor lambannya kinerja Panwaslu tersebut adalah kesalahan paradigma berpikir mereka selama ini.
Selama ini Panwaslu cenderung bersikap reaktif, yaitu hanya bekerja saat terjadi pelanggaran. Padahal panwaslu seharusnya mampu mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran yang akan terjadi dalam penyelenggaraan pemilu.
Kesalahan paradigma berpikir tersebut kemudian berimplikasi pada berbagai macam hal negatif. Pertama, hampir semua pembentukan panwaslu di daerah terlambat. Kedua, rekrutmennya tidak berdasarkan kompetensi, tetapi penunjukan. Ketiga, anggaran untuk panwaslu dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun menjadi seret. Keempat, efek dari lamanya anggaran turun adalah lemahnya komitmen anggota panwaslu dalam menindaklanjuti temuan pelanggaran. Di samping itu, terbatasnya sumber daya juga mempengaruhi komitmen anggota panwaslu. Sudah seharusnya panwaslu mengubah paradigma berpikirnya, dari reaktif menjadi preventif.
Keberhasilan panwaslu dalam mengidentifikasi jumlah pelanggaran tidak berarti sebuah keberhasilan buat panwaslu. Tiap pelanggaran yang ditemukan haruslah diselesaikan lewat mekanisme yang benar berdasarkan aturan hukum yang ada, sehingga tidak mengganggu tahapan pelaksanaan pemilu. Kesalahan panwaslu dalam penanganan pelanggaran yang terjadi dalam tiap tahapan pemilu dapat mengganggu mekanisme pelaksanaan pemilu itu sendiri. Dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, anggota panwaslu haruslah memperhatikan serta berpegang teguh pada peraturan perundang - undangan yang berlaku, serta kaidah-kaidah yang ada di masyarakat.
Panwaslu harus mampu meminimalisasi pelanggaran terhadap undang-undang dalam pelaksanaan pemilu. Tingginya angka pelanggaran yang ditangani dan diselesaikan oleh panwaslu, bukanlah merupakan keberhasilan, melainkan bagaimana agar jumlah pelanggaran oleh partai - partai politik mampu diminimalisir.
Di beberapa waktu dan tempat panwaslu kadang terkesan sangat diskriminatif dalam mengungkap "kesalahan". Ada kesalahan yang hampir semua dilakukan oleh partai politik, tapi panwaslu hanya menimpakan kesalahan pada satu partai politik saja. Oleh karena itu, lembaga pengawas pemilu itu juga harus tidak boleh lepas dari kritikan, masukan dan pengawasan pula.
Kinerja panwaslu harus diawasi, kadang muncul kesan bahwa terdapat sisi - sisi ambisius yang dikedepankan oleh panwaslu. Ada juga pernyataan dari beberapa orang, bahwa orang - orang yang duduk sebagai anggota panwaslu sekarang ini, adalah mereka yang dulunya tidak punya panggung. Sekarang ketika mereka sudah punya panggung mereka terkesan sok.
Pihak panwaslu pusat juga kadang terkesan menekan pihak panwaslu provinsi, panwaslu provinsi juga menekan panwaslu kabupaten dan seterusnya untuk mentargetkan harus ada temuan pelanggaran. Kalau tidak ada, panwaslu terkesan harus mengada-adakan temuannya tersebut.
Panwaslu seharusnya tidak boleh mengungkap kesalahan orang per orang atau parpol per parpol tanpa mengkonfirmasinya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Jangan sampai panwaslu ini melakukan tindakan yang tergolong dalam character assassination (pembunuhan karakter) terhadap individu ataupun parpol.
Panwaslu dan KPU juga seharusnya bisa berjalan beriringan dan bersinergi. Tidak jarang kita temukan kasus tidak kompaknya antara panwaslu dengan KPU, sehingga saling serang di antara keduanya dan masing-masing pihak mengungkapkan tafsiran hukumnya masing-masing. Terus kalau sudah begini terlihat ketidakprofesionalan panwaslu selaku pengawas pemilu.
Tugas utama panwaslu adalah mewujudkan pelaksanan pemilihan umum dengan sukses. Panwaslu adalah bukan lembaga yang mencari-cari kesalahan, tetapi merupakan lembaga yang mengawasi pelaksanaan pemilu agar berada pada aturan dan koridor yang ada, dengan menindak tegas setiap kesalahan yang diperbuat oleh partai, caleg dan oknum manapun yang terkait didalamnya, sesuai dengan prosedur dan aturan yang ada.
*) Andrian, pembaca detikcom, email: asus09@gmail.com (asy/asy)
Selama ini Panwaslu cenderung bersikap reaktif, yaitu hanya bekerja saat terjadi pelanggaran. Padahal panwaslu seharusnya mampu mengantisipasi pelanggaran-pelanggaran yang akan terjadi dalam penyelenggaraan pemilu.
Kesalahan paradigma berpikir tersebut kemudian berimplikasi pada berbagai macam hal negatif. Pertama, hampir semua pembentukan panwaslu di daerah terlambat. Kedua, rekrutmennya tidak berdasarkan kompetensi, tetapi penunjukan. Ketiga, anggaran untuk panwaslu dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) pun menjadi seret. Keempat, efek dari lamanya anggaran turun adalah lemahnya komitmen anggota panwaslu dalam menindaklanjuti temuan pelanggaran. Di samping itu, terbatasnya sumber daya juga mempengaruhi komitmen anggota panwaslu. Sudah seharusnya panwaslu mengubah paradigma berpikirnya, dari reaktif menjadi preventif.
Keberhasilan panwaslu dalam mengidentifikasi jumlah pelanggaran tidak berarti sebuah keberhasilan buat panwaslu. Tiap pelanggaran yang ditemukan haruslah diselesaikan lewat mekanisme yang benar berdasarkan aturan hukum yang ada, sehingga tidak mengganggu tahapan pelaksanaan pemilu. Kesalahan panwaslu dalam penanganan pelanggaran yang terjadi dalam tiap tahapan pemilu dapat mengganggu mekanisme pelaksanaan pemilu itu sendiri. Dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya, anggota panwaslu haruslah memperhatikan serta berpegang teguh pada peraturan perundang - undangan yang berlaku, serta kaidah-kaidah yang ada di masyarakat.
Panwaslu harus mampu meminimalisasi pelanggaran terhadap undang-undang dalam pelaksanaan pemilu. Tingginya angka pelanggaran yang ditangani dan diselesaikan oleh panwaslu, bukanlah merupakan keberhasilan, melainkan bagaimana agar jumlah pelanggaran oleh partai - partai politik mampu diminimalisir.
Di beberapa waktu dan tempat panwaslu kadang terkesan sangat diskriminatif dalam mengungkap "kesalahan". Ada kesalahan yang hampir semua dilakukan oleh partai politik, tapi panwaslu hanya menimpakan kesalahan pada satu partai politik saja. Oleh karena itu, lembaga pengawas pemilu itu juga harus tidak boleh lepas dari kritikan, masukan dan pengawasan pula.
Kinerja panwaslu harus diawasi, kadang muncul kesan bahwa terdapat sisi - sisi ambisius yang dikedepankan oleh panwaslu. Ada juga pernyataan dari beberapa orang, bahwa orang - orang yang duduk sebagai anggota panwaslu sekarang ini, adalah mereka yang dulunya tidak punya panggung. Sekarang ketika mereka sudah punya panggung mereka terkesan sok.
Pihak panwaslu pusat juga kadang terkesan menekan pihak panwaslu provinsi, panwaslu provinsi juga menekan panwaslu kabupaten dan seterusnya untuk mentargetkan harus ada temuan pelanggaran. Kalau tidak ada, panwaslu terkesan harus mengada-adakan temuannya tersebut.
Panwaslu seharusnya tidak boleh mengungkap kesalahan orang per orang atau parpol per parpol tanpa mengkonfirmasinya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan. Jangan sampai panwaslu ini melakukan tindakan yang tergolong dalam character assassination (pembunuhan karakter) terhadap individu ataupun parpol.
Panwaslu dan KPU juga seharusnya bisa berjalan beriringan dan bersinergi. Tidak jarang kita temukan kasus tidak kompaknya antara panwaslu dengan KPU, sehingga saling serang di antara keduanya dan masing-masing pihak mengungkapkan tafsiran hukumnya masing-masing. Terus kalau sudah begini terlihat ketidakprofesionalan panwaslu selaku pengawas pemilu.
Tugas utama panwaslu adalah mewujudkan pelaksanan pemilihan umum dengan sukses. Panwaslu adalah bukan lembaga yang mencari-cari kesalahan, tetapi merupakan lembaga yang mengawasi pelaksanaan pemilu agar berada pada aturan dan koridor yang ada, dengan menindak tegas setiap kesalahan yang diperbuat oleh partai, caleg dan oknum manapun yang terkait didalamnya, sesuai dengan prosedur dan aturan yang ada.
*) Andrian, pembaca detikcom, email: asus09@gmail.com (asy/asy)
Baca Juga
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Minggu, 26/07/2009 16:01 WIB
Catatan Karut-marut Pemilu dan Pilpres 2009
-
Rabu, 15/07/2009 14:52 WIB
Kekalahan JK-Wiranto, Sebuah Penjelasan Awal
-
Rabu, 01/07/2009 11:05 WIB
Aspirasi Kesejahteraan untuk Capres Cawapres
-
Rabu, 24/06/2009 19:10 WIB
Dari Petani untuk Capres dan Cawapres
-
Senin, 21/05/2012 15:27 WIB
Ini Syarat Polri untuk Konser Lady Gaga
-
Senin, 21/05/2012 14:45 WIB
FPI Pegang 150 Tiket Lady Gaga, Polisi: Pengamanan Disiagakan!
-
Senin, 21/05/2012 16:21 WIB
Isu Nego Uang Saat Kebakaran, Damkar: Kita Terima Telepon Cuma 3 Menit
-
Senin, 21/05/2012 16:11 WIB
Ibunda Ingin Lihat Jasad Heny Pramugari Sky untuk Terakhir Kali
-
660 Komentar
-
443 Komentar
-
357 Komentar
-
347 Komentar
Lapsus
Index »
-
Kamis, 17/05/2012 09:18 WIB
Mukjizat yang Tak Terulang
-
Rabu, 16/05/2012 08:50 WIB
Jualan Sukhoi dari Pasar Asemka
-
Selasa, 15/05/2012 13:59 WIB
Presiden IATCA: Kekurangan Pengelolaan Udara Sekarang Akumulasi Masa Lalu
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 464.000
- Rp 5,978.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message

_(baru).gif)

_2.gif)
(2).gif)
