Amelia Yani dan Ayah yang 'Hidup Kembali'
Kamis, 08/01/2009 13:02 WIB
Shohib/detikcom
Jakarta
Jenderal Ahmad Yani ‘'hidup kembali.'’ Pahlawan revolusi itu seolah tak mau ketinggalan mengikuti perkembangan negeri yang dicintainya ini menghadapi konstelasi politik menjelang Pemilu 2009. Setidaknya itulah yang dirasakan putri sulungnya, Amelia Yani.
Calon anggota legislatif sekaligus Ketua Umum Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) itu mengaku betapa kehadiran sang ayah sangat ia rasakan di setiap aktivitas politiknya saat ini. Bahkan boleh dikata, sang ayah turut menentukan masa depan politiknya nanti, apakah dia akan sukses menduduki kursi empuk di legislatif ataukah dia hanya akan sama dengan ribuan caleg yang lain, gigit jari karena tersingkir dari arena pertandingan.
"Saya merasakan kebangkitan Jenderal Ahmad Yani, pahlawan revolusi. Rakyat Indonesia tengah mendambakan seorang figur yang bersih, yang entah mengapa dalam gambaran mereka seperti ayah sayalah orangnya. Ketika saya hadir, seolah ayah sayalah yang hadir," ujar Amel saat ditemui di sela-sela Kontes de Parpol TPI di Planet Hollywood, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (7/1/2009) malam.
Menurut Amel, 'kehadiran' sang ayah sangat ia rasakan di setiap aktivitas politiknya di daerah. Contohnya, ketika dia mengunjungi Sulawesi, 3 kerajaan, yakni Gowa, Bone, dan Luwuk, menyambutnya dengan upacara adat bak seorang pahlawan. Demikian juga dengan sambutan orang-orang di daerah lainnya ketika dia membawa nama PPRN melakukan kampanye. "Nama ayah saya seolah-olah hidup kembali, padahal tidak," tuturnya.
Meski mengaku tak ingin menjual nama sang ayah, toh Amel nyaman-nyaman saja dengan kondisinya yang selalu berada di bawah bayang-bayang almarhum. Secara jujur Amel mengakui bahwa sang ayah, meski telah 40 tahun lebih meninggalkan alam fana, masih terus memberi dukungan padanya, tentu saja dalam bentuk yang tak
kasat mata.
"Saya mau bikin poster buat kampanye saya. Orang-orang bilang harus ada gambar ayah saya juga, kalau nggak mereka nggak mau," akunya.
Sebagai putri dari seorang pahlawan legendaries, Amel memang diuntungkan dengan status bawaannya itu. Namun bukan berarti ia hanya melulu mengandalkan figur sang ayah. Berbagai upaya dia lakukan untuk memenangkan kursi legislatif di daerah pemilihannya di Jateng VI (Purworejo, Magelang, Kota Magelang, dan
Temanggung).
Selain cara-cara konvensional serupa bagi-bagi poster, kalender, stiker, dan kaos, Amel juga menerapkan prinsip yang dinamainya gerilya politik. "Gerilya itu dalam pemahaman saya adalah tim kecil tapi menyusup ke mana-mana," terangnya.
Salah satu pintu masuk baginya adalah kalangan veteran. Amel, baik secara pribadi maupun ditilik dari latar belakang historis keluarganya, memang memiliki kedekatan dengan kalangan prajurit. Lagi-lagi, di sini Amel merasakan peran serta sang ayah. "Di antara keluarga prajurit memang ada kedekatan emosional," ucapnya.
Namun tentu saja kalangan itu secara kuantitatif lingkupnya terbatas. Karena itu Amel mengaku tak ragu untuk turun ke pasar, masuk ke gereja, dan berkunjung ke pesantren guna meraup suara lebih banyak, tidak hanya untuk dirinya sebagai caleg, tapi juga partai yang dipimpinnya.
Bicara strategi saja tentu tidak cukup. Ada hal lain yang juga penting, sangat penting malah. Fulus alias kocek. Sebagai partai baru, lantas dari mana PPRN memperoleh sumber pendanaan? "Partai ini kan didirikan oleh 364 orang yang kebanyakan dari Sumatera Utara. Orang sana itu kaya-kaya. Modal partai disokong oleh mereka," ungkapnya.
Bagaimanakah masa depan politik puteri pahlawan ini? Kita tunggu saja tanggal mainnya.
(sho/nrl)
Calon anggota legislatif sekaligus Ketua Umum Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) itu mengaku betapa kehadiran sang ayah sangat ia rasakan di setiap aktivitas politiknya saat ini. Bahkan boleh dikata, sang ayah turut menentukan masa depan politiknya nanti, apakah dia akan sukses menduduki kursi empuk di legislatif ataukah dia hanya akan sama dengan ribuan caleg yang lain, gigit jari karena tersingkir dari arena pertandingan.
"Saya merasakan kebangkitan Jenderal Ahmad Yani, pahlawan revolusi. Rakyat Indonesia tengah mendambakan seorang figur yang bersih, yang entah mengapa dalam gambaran mereka seperti ayah sayalah orangnya. Ketika saya hadir, seolah ayah sayalah yang hadir," ujar Amel saat ditemui di sela-sela Kontes de Parpol TPI di Planet Hollywood, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (7/1/2009) malam.
Menurut Amel, 'kehadiran' sang ayah sangat ia rasakan di setiap aktivitas politiknya di daerah. Contohnya, ketika dia mengunjungi Sulawesi, 3 kerajaan, yakni Gowa, Bone, dan Luwuk, menyambutnya dengan upacara adat bak seorang pahlawan. Demikian juga dengan sambutan orang-orang di daerah lainnya ketika dia membawa nama PPRN melakukan kampanye. "Nama ayah saya seolah-olah hidup kembali, padahal tidak," tuturnya.
Meski mengaku tak ingin menjual nama sang ayah, toh Amel nyaman-nyaman saja dengan kondisinya yang selalu berada di bawah bayang-bayang almarhum. Secara jujur Amel mengakui bahwa sang ayah, meski telah 40 tahun lebih meninggalkan alam fana, masih terus memberi dukungan padanya, tentu saja dalam bentuk yang tak
kasat mata.
"Saya mau bikin poster buat kampanye saya. Orang-orang bilang harus ada gambar ayah saya juga, kalau nggak mereka nggak mau," akunya.
Sebagai putri dari seorang pahlawan legendaries, Amel memang diuntungkan dengan status bawaannya itu. Namun bukan berarti ia hanya melulu mengandalkan figur sang ayah. Berbagai upaya dia lakukan untuk memenangkan kursi legislatif di daerah pemilihannya di Jateng VI (Purworejo, Magelang, Kota Magelang, dan
Temanggung).
Selain cara-cara konvensional serupa bagi-bagi poster, kalender, stiker, dan kaos, Amel juga menerapkan prinsip yang dinamainya gerilya politik. "Gerilya itu dalam pemahaman saya adalah tim kecil tapi menyusup ke mana-mana," terangnya.
Salah satu pintu masuk baginya adalah kalangan veteran. Amel, baik secara pribadi maupun ditilik dari latar belakang historis keluarganya, memang memiliki kedekatan dengan kalangan prajurit. Lagi-lagi, di sini Amel merasakan peran serta sang ayah. "Di antara keluarga prajurit memang ada kedekatan emosional," ucapnya.
Namun tentu saja kalangan itu secara kuantitatif lingkupnya terbatas. Karena itu Amel mengaku tak ragu untuk turun ke pasar, masuk ke gereja, dan berkunjung ke pesantren guna meraup suara lebih banyak, tidak hanya untuk dirinya sebagai caleg, tapi juga partai yang dipimpinnya.
Bicara strategi saja tentu tidak cukup. Ada hal lain yang juga penting, sangat penting malah. Fulus alias kocek. Sebagai partai baru, lantas dari mana PPRN memperoleh sumber pendanaan? "Partai ini kan didirikan oleh 364 orang yang kebanyakan dari Sumatera Utara. Orang sana itu kaya-kaya. Modal partai disokong oleh mereka," ungkapnya.
Bagaimanakah masa depan politik puteri pahlawan ini? Kita tunggu saja tanggal mainnya.
(sho/nrl)
Baca Juga
Komentar (0 Komentar)
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
BeritaTerbaru
Indeks Berita »
-
Sabtu, 04/04/2009 07:44 WIB
Incar Komisi III, Ruhut Perjuangkan Hukuman Mati Bagi Koruptor
-
Kamis, 02/04/2009 16:40 WIB
Zulkifli Halim Dorong Pembangunan PLTU Asam-asam di Kalsel
-
Kamis, 02/04/2009 15:34 WIB
Hayono Isman Incar Ketua DPR
-
Kamis, 02/04/2009 07:45 WIB
Irwan Prayitno Berjuang untuk Guru Bantu
-
Minggu, 27/05/2012 08:47 WIB
Grasi Corby Diharapkan Dapat Memudahkan Masalah WNI di Luar Negeri
-
Minggu, 27/05/2012 10:14 WIB
Bali Money Lebih Dikenal Warga Australia Daripada Rupiah
-
Minggu, 27/05/2012 06:10 WIB
Mengenal Mutiarani, Siswi dengan Nilai UN Tertinggi se-Indonesia
-
Minggu, 27/05/2012 07:43 WIB
Komwas PD: Penghadangan Anas Tak Lepas Dari Masalah Internal DPD Malut
-
284 Komentar
-
237 Komentar
-
222 Komentar
-
220 Komentar
Lapsus
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 09:06 WIB
Jejak Trimarga dari Mega Hingga SBY
-
Selasa, 22/05/2012 08:53 WIB
Kisah Si Penyambung Lidah Sukhoi
-
Selasa, 22/05/2012 14:27 WIB
Andi Arief: Gunung Padang Tunjukkan Apakah Dulu Ada Peradaban Maju
Cari Penawaran Terbaik di Sini
Info Promosi Travel
- Rp 6,047.000
- Rp 2,847.000
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.gif)

_2.gif)
_3.gif)
