detikcom
Kamis, 08/01/2009 12:47 WIB

Sketsa Pemilu 2009

Memantau Kinerja 'KPU Ormas'

Didik Supriyanto - detikNews
Halaman 1 dari 2
Jakarta - Pasca-Orde Baru, hampir tiga kali pemilu. Masing-masing penyelenggaranya memiliki latar belakang khas. Siapa terbaik: 'KPU Partai', 'KPU Akademisi', atau 'KPU Ormas'?

Para pemantau pemilu, boleh dibilang termasuk orang-orang yang paling risau dengan perencanaan, persiapan dan pelaksanaan pemilu. Kerisauan ini bisa kita lihat dari pernyataan dan sikap mereka, atas proses rekrutmen anggota KPU, dua tahun lalu.

Pemilu masih jauh, tapi mereka sudah wanti-wanti kepada pemerintah dan DPR agar memilih personal-personal yang tepat. Tolok ukurnya sudah digariskan undang-undang: integritas, kapasitas, dan profesionalitas.

Ketika anggota KPU dilantik pada Oktober 2007, mereka juga diingatkan agar benar-benar selektif dalam merekrut anggota KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota. Sebab merekalah yang jadi penentu sukses tidaknya pemilu.

Setelah mencermati proses dan hasil rekrutmen anggota KPU Provinsi, mereka merasakan ada sesuatu yang tak beres: orang-orang lama yang kinerja bagus digusur, orang-orang baru masuk atas pertimbangan kesamaan 'aliran' tertentu.

Lalu dalam obrolan-obrolan informal, para pemantau mencoba mebanding-bandingkan jenis KPU dari waktu ke waktu.

KPU Pemilu 1999, disebut sebagai 'KPU Partai Politik', karena di dalamnya dipenuhi orang-orang partai. UU No. 2/1999 memang bilang, KPU terdiri atas unsur pemerintah dan partai. Waktu itu, orang pemerintah jumlahnya lima orang, sedang partai 48 orang.Next

Halaman 1 2

Ikuti berbagai berita menarik hari ini di program "Reportase Sore" TRANS TV yang tayang Senin sampai Jumat pukul 15.30 WIB

(diks/asy)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Indeks Berita ยป
ProKontra Index »

Motor akan Dilarang Melintas di Jalan Protokol Jakarta

Pada Desember 2014 mendatang motor tidak diperbolehkan untuk melintas di Bundaran HI hingga Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Rencananya motor akan dilarang di semua jalan protokol yang ada di Jakarta. Bila Anda setuju dengan kebijakan Pemprov DKI ini, pilih Pro!
Pro
34%
Kontra
66%